Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 47. Menutup mata.


__ADS_3

Kini mobil yang sekertaris Son kendarai tiba di apartemen Amanda, sekertaris Son menghentikan mobilnya tepat di depan gedung Apartemen supaya Amanda dekat dengan pintu masuk apartemen.


Saat Amanda mau keluar mobil Valentino cegah.


"Jangan keluar dulu," ucap Valentino yang langsung membuat Amanda mengurungkan niatnya.


Valentino keluar lebih dulu, seketika tubuh Valentino jadi basah kuyup karena di luar masih hujan deras.


Valentino mengambil payung di bagasi mobil, setelah mendapatkan payung, Valentino mendekati pintu mobil meminta Amanda keluar, karena saat ini dirinya sudah membawa payung, tidak akan membuat tubuh Amanda basah.


Amanda segera keluar dari dalam mobil, berjalan beriringan dengan Valentino menuju pintu masuk gedung apartemen.


Sampainya di sana, Valentino menurunkan payungnya sembari menatap Amanda. "Hati-hati, sampainya di kamar kamu langsung mandi."


Amanda tersenyum sembari mengangguk mendengar ucapan Valentino.


Amanda melambaikan tangan saat Valentino kembali berjalan menuju mobil. Sampai mobil Valentino melesat pergi baru Amanda masuk ke dalam.


Tidak basah tapi hawanya juga dingin. Amanda berjalan menuju lift menekan tombol tempat lantainya berada.


Sampai di sana Amanda segera masuk ke dalam kamar apartemennya, pelayan yang melihat Amanda baru datang langsung membuatkan teh hangat.


Sementara itu Amanda langsung mandi sesuai perintah Valentino.


Amanda tidak butuh berendam, cukup mengguyur tubuhnya menggunakan air hangat yang mengalir dari shower.


Lima belas menit Amanda sudah selesai mandi, Amanda sore hari ini mau menggunakan baju tidur sekalian, Amanda merasa lelah dan ingin langsung tidur saja.


Selesai Amanda berpakaian, pelayan menaruh teh hangat di atas meja dekat sofa. Amanda keluar menyapa pelayan itu.


"Terimakasih bibi." Duduk di sofa.


"Nyonya nanti malam mau makan apa?"


"Saya tidak makan bi, setelah ini saya mau langsung tidur," ucap Amanda yang langsung mendapat anggukan kepala pelayan itu, yang kemudian pamit keluar kamar.


Sebelum pelayan benar-benar keluar kamarnya, Amanda bicara lagi, "Nanti tolong terima tas yang Merry berikan, itu punya saya."


"Baik Nyonya," jawab patuh pelayan sebelum ahirnya pergi dari sana.


Setelah Amanda meminum teh hangat, Amanda langsung berjalan menuju atas ranjang, dan tidak lama kemudian Amanda tertidur.

__ADS_1


Setelah malam panjang terlewati dan pagi tiba, saat ini tepatnya waktu subuh.


Bel apartemen Amanda bunyi, bertanda ada tamu pagi hari. Pelayan yang sudah bangun habis melakukan sholat subuh langsung menuju pintu untuk membukakan pintu.


Siapa sih pagi-pagi mertamu, batin pelayan tersebut karena tidak biasanya pagi-pagi ada tamu.


Setelah pintu terbuka pelayan tersebut terkejut saat tiba-tiba tubuhnya didorong untuk menyingkir dari hadapan pria itu dan kini pria itu masuk ke dalam dengan wajah marah.


"Tuan siapa!" teriak pelayan tersebut karena tidak kenal dengan pria yang datang itu.


Pria itu tidak menghiraukan teriakan pelayan tersebut dan terus berjalan menuju kamar Amanda. Mengetuk pintu kamar Amanda berulang kali.


Pelayan itu merasa ketakutan dan merasa bersalah sudah membuka pintu, namun mau bagaimana lagi semua sudah terjadi kini hanya bisa menatap takut ke arah pria itu yang terus mengetuk pintu kamar Amanda.


Amanda yang terganggu tidurnya ahirnya bangun mendengar suara ketukan pintu berulang kali, dipikirnya adalah pelayan yang mungkin sedang ada sesuatu yang penting.


Pintu kamar terbuka.


"Ada apa bi-."


Deg.


Amanda terkejut melihat siapa yang datang sampai tidak melanjutkan ucapannya.


Ya, pria itu adalah Tomi yang berhasil mengambil paspor yang disimpan ibunya hingga dirinya bisa kabur dan kembali ke Indonesia.


Tomi mencekik leher Amanda sampai membuat Amanda kesulitan bernafas, Amanda mencari cara tidak mau mati konyol di tangan Tomi, Amanda tahu saat ini Tomi sedang marah yang entah apa sebabnya.


Posisi mereka saat ini sedang berdiri, demi bisa selamat Amanda menendang pusaka Tomi.


Berhasil tangan Tomi dilepas berganti memegangi pusakanya yang kesakitan, Amanda langsung berusaha lari, namun sepertinya takdir buruk masih berpihak pada Amanda.


Tomi dengan gerakan cepat berhasil memegang tangan Amanda, menarik Amanda hingga tubuh mereka menempel.


"Siapa laki-laki itu!" bentak Tomi sembari mencengkram kuat tangan Amanda.


"Siapa pun yang lagi dekat dengan aku, dia hanya teman tidak lebih!" suara Amanda meninggi, nafasnya naik turun dengan cepat menahan amarah.


"Kau masih istriku Amanda, kau masih istriku!" cengkraman tangan Tomi makin kuat, Amanda sampai meringis kesakitan.


Amanda tersenyum getir satu bulir air mata lolos. "Kamu cemburu? Bukankah kamu tidak bisa cemburu padaku? Bukankah kamu tidak mencintai aku? Tomi aku sampai tidak bisa mengenali lagi siapa kamu, tolong lepaskan aku, akan aku berikan satu persen kekayaan aku untuk kamu."

__ADS_1


Seketika ucapan Amanda menyulut emosi Tomi, intinya Tomi tidak mau Amanda pergi darinya, sebelum keinginannya tersampaikan.


"Amanda!" bentak Tomi sembari menampar pipi Amanda hingga tiga tamparan.


Pedih! saat ini yang Amanda rasakan, sampai tubuhnya di dorong membentur dinding seolah Amanda sudah pasrah, sakit! yang dirasa saat ini.


Amanda sampai ambruk ke lantai, tanpa sengaja tangannya menyentuh perutnya yang bergerak-gerak di dalam sana.


Anakku, batin Amanda yang seketika air matanya mengalir deras.


Amanda melihat Tomi mau mendekatinya lagi, Amanda berusaha mau berdiri dan ingin berlari saat teringat ada nyawa anaknya yang harus ia selamatkan, namun kalah cepat dengan Tomi.


Saat Tomi mengangkat tangannya mau menampar Amanda lagi, Amanda menggigit bahu Tomi, Amanda bisa lepas dari Tomi namun ternyata tubuh Amanda lemas tidak sanggup berdiri, Amanda hanya bisa menyeret tubuhnya untuk menjauhi Tomi.


Hahaha!


Tawa Tomi saat melihat Amanda berusaha kabur namun terlihat kesusahan. Tomi tidak mau berhenti begitu juga sebelum Amanda memohon ampunan padanya dan menurut apa katanya.


Amanda menyeret tubuhnya dengan semangat saat sebentar lagi mau sampai pintu.


Anakku bantu ibu, batinnya dengan harapan bisa kabur.


Namun Amanda hanya bisa menunduk lesu dan menangis, saat tiba-tiba Tomi menutup pintu itu.


Hahah! Suara tawa Tomi, yang kemudian berjongkok mencengkram dagu Amanda untuk melihatnya.


"Ikuti semua mauku atau kau akan aku siksa sampai tidak bisa jalan!"


Amanda tidak menjawab ucapan Tomi, bersamaan itu pintu dibuka ternyata pelayan bersama dua sekuriti yang datang.


"Nyonya! Darah! Ah tidak Nyonya ..." teriak pelayan itu mendekati Amanda.


Sayup-sayup mata Amanda mampu melihat wajah dan suara teriakan pelayannya sebelum ahirnya Amanda menutup mata.


Tomi langsung terkejut apa lagi saat melihat darah Amanda yang banyak keluar.


Tomi hanya bisa menggelengkan kepalanya, sembari berdiri, dua sekuriti tersebut memegangi tangan Tomi untuk dimintai kejelasan karena sudah melakukan kekerasan.


"Nyonya bangun!" teriak panik pelayan itu sembari menepuk pelan pipi Amanda.


Tiba-tiba hp Amanda bunyi, pelayan itu berjalan menuju ranjang dan langsung mengangkat telepon tersebut tanpa membaca nama siapa yang telpon, pelayan itu langsung meminta bantuan.

__ADS_1


"Tolong, Nyonya Amanda pingsan!"


Valentino yang mendengar ucapan bahwa Amanda pingsan tidak perlu pikir panjang langsung pergi dari rumahnya menuju apartemen Amanda, masih memakai baju tidur.


__ADS_2