
Mobil yang Amanda kendarai kini berhenti di sebuah tempat wisata, tanpa sadar mengendarai malah membawa mobilnya ke tempat ini.
Amanda keluar dari dalam mobil, angin sejuk berasal dari pepohonan seketika menerpa wajahnya, entah mengapa Amanda seketika merasa damai.
Amanda melihat sekeliling tempat ini, ternyata banyak orang, meski bukan hari libur, tapi kebanyakan orang-orang bersama anak-anak kecil yang belum masuk sekolah.
Amanda jadi sedih, namun dengan segera menenangkan hatinya lagi, Amanda berjalan menuju bangku di bawah pohon sana.
Bangku tersebut mengarah ke danau, jika datang kemari malam hari sepertinya akan lebih indah, terlihat ada lampu-lampu hias yang sengaja di pasang di pinggir danau, juga ada perahu buatan di danau, yang bisa digunakan untuk keliling danau.
Amanda melihat arlojinya, masih ada waktu untuk berangkat ke kantor, Amanda mau mengecek semua surat kepemilikan harta yang masih ada.
Namun saat mau bangkit dari duduknya, tiba-tiba ada pengamen cilik seorang anak perempuan.
Amanda tidak jadi pergi, kembali duduk lagi, mendengarkan lagu yang akan dinyanyikan anak kecil itu.
Rungkad ....
Anak kecil itu mulai bernyanyi, Amanda tersenyum meski tidak tahu apa arti lagu itu. Sembari diiringi musik yang anak kecil itu bawa.
Entek entek an
Kelangan koe sing paling tak sayang
Stop mencintaimu
Gawe aku ngelu
Mungkin
Aku terlalu cinta
Aku terlalu sayang nganti
Ra kroso dilarani
Pancen
Ku akui kusalah
Mung nyawang rupo
Saiki aku wes sadar
Terlalu goblok mencintaimu
Rungkad
__ADS_1
Entek entek an
Kelangan koe sing paling tak sayang
Bondoku melayang tego tenan
Tangis tangisan
Rungkad
Entek entekan
Tresno tulusku mung dinggo dolanan
Stop mencintaimu
Gawe aku ngelu
Mungkin
Aku terlalu cinta
Aku terlalu sayang nganti
Ra kroso dilarani
Pancen
Ku akui kusalah
Nyawang rupo
Saiki aku wes sadar
Terlalu goblok mencintaimu
Rungkad
Entek entek an
Kelangan koe sing paling tak sayang
Bondoku melayang tego tenan
Tangis tangisan
Rungkad
__ADS_1
Entek entekan
Tresno tulusku mung dinggo dolanan
Stop mencintaimu
Gawe aku ngelu
Setelah pengamen cilik itu berhenti bernyanyi, Amanda tepuk tangan mengapresiasi pengamen cilik itu lebih semangat.
Amanda melambaikan tangan untuk pengamen cilik itu mendekat. "Ini untuk kamu." Amanda memberikan tiga lembar seratus ribuan.
Pengamen cilik itu tersenyum bahagia. "Terimakasih Kak, ini banyk sekali."
Amanda mengacak rambut pengamen cilik itu dengan gemas, setelah itu pengamen cilik itu pergi dari sana.
Amanda terdiam sebentar seraya tersenyum sebelum ahirnya ikut pergi juga dari tempat tersebut.
Di bawah pohon sana, ada pria ber jas hitam sedang menghubungi bosnya.
Amanda yang saat ini sudah sampai di perusahaan, sedang duduk di ruang kerjanya, tidak lama kemudian ada Jefri yang datang ke sana, saat dalam perjalanan menuju perusahaan tadi, Jefri sudah menghubungi Amanda mau ada yang dibicarakan.
"Bagaimana Jefri?" tanya Amanda setelah Jefri duduk di kursi sofa depannya.
"Aku sudah berhasil mencuri semua data-data milik suami kamu itu, kamu bisa lihat sendiri." Jefri menggeser laptopnya ke arah Amanda.
Amanda melihat semua data transaksi yang sudah Tomi lakukan, Amanda menutup mulutnya sendiri karena terkejut, tidak menyangka sudah puluhan juta bahkan sudah mencapai satu miliar, Tomi menghamburkan uang Amanda, untuk membeli sesuatu yang tidak Amanda ketahui.
Di sana ada yang tertulis untuk pembelian villa, Amanda menzoom keterangan dalam transaksi, tangan Amanda langsung terkepal setelah membaca ternyata villa itu dibeli untuk Dinda.
"Merry."
Merry yang namanya dipanggil langsung mendekat, tadi saat baru sampai Amanda belum sempat mengecek surat-surat yang dimiliki.
Ternyata benar surat kepemilikan pabrik di solo tidak ada, dan tidak itu saja, ternyata ada empat surat yang sudah tidak ada.
Arrgghh!
Sial sial! umpat Amanda, selama ini begitu percaya sama Tomi, ternyata tidak hanya cintanya yang dikhianati tapi Amanda juga sudah ditipu, hartanya hampir mau habis, saat ini tinggal sisa empat surat lagi.
Kepala Amanda langsung berdenyut dan perutnya merasa kram.
"Ah, Merry," keluh Amanda saat merasakan perutnya kram.
Merry langsung mendekat dan panik. "Nyonya, Nyonya jangan banyak pikiran Nyonya."
Jefri juga ikutan mendekat. "Amanda, Amanda kamu masih bisa mendengar suara aku kan?" tanya Jefri karena Amanda menunduk seraya memegangi perutnya.
__ADS_1
Jefri mendongakkan kepala Amanda. "Dia pingsan," ucap Jefri yang kemudian langsung menggendong Amanda untuk dibawanya ke rumah sakit.