Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 80. Segelas minuman.


__ADS_3

Amanda sudah mengunakan gaun pesta yang tadi baru dibelinya di butik Eren, saat ini Amanda sedang memoles wajahnya dengan make-up.


Valentino baru selesai mandi, harusnya pukul tujuh malam sudah berangkat, tapi saat ini malah lagi bersiap, waktu jadi terulur dan semua ini ulah Valentino yang tadi minta dimanja.


Valentino masuk ke dalam ruang ganti, di sana sudah ada setelan jas yang sudah Amanda siapkan, Valentino segera memakainya.


Kemudian berjalan mendekati meja rias, berdiri di sebelah Amanda, Valentino menyisir rambutnya kemudian menyemprotkan parfum ke leher juga jasnya.


Valentino menunduk mau mencium pipi Amanda, tapi melihat dari pantulan kaca saat ini mata Amanda melotot ke arahnya. Valentino terkekeh dan ahirnya milih menjauh.


Bisa-bisa tidak kelar-kelar dan tidak berangkat-berangkat kalau saja menuruti kemesuman dia, batin Amanda sembari merapihkan make-up nya.


Tidak lama kemudian Amanda sudah selesai, Amanda menghampiri Valentino yang duduk menunggunya di sofa, Amanda mengulurkan tangannya mengajak Valentino untuk segera berangkat.


"Aku lama ya?" tanya Amanda sembari bergelayut manja di lengan Valentino, saat ini mereka sedang berjalan keluar kamar, berjalan mesra.


Mommy Vio yang duduk di kursi ruang keluarga melihat anak juga menantunya yang saat ini berjalan mesra menuruni anak tangga.


"Mau kemana? Kalian begitu rapi," ucapnya setelah Valentino dan Amanda tiba di lantai satu.


"Kita mau ke pesta Mom." Valentino yang menjawab.


"Baiklah hati-hati di jalan." Mommy Vio mengijinkan.


Mereka berdua berpamitan lebih dulu dengan Mommy Vio, sebelum ahirnya pergi dari hadapan Mommy Vio.


Di halaman rumah mobil Valentino sudah disiapkan, Amanda dan Valentino segera masuk ke dalam, dan tidak menunggu lama mobil dijalankan.


Dalam perjalanan keduanya saling bicara membuat suasana jadi asyik, mungkin orang yang tidak tahu bahwa Valentine tipe orang yang dingin tidak bisa senyum, ya memang itu kenyataannya, kehangatan yang dimilki pria itu hanya ditunjukan pada Amanda juga ibunya.


Sampai tidak terasa waktu tempuh tiga puluh menit begitu terasa cepat, kini mobil sudah sampai di tempat tujuan.


Keluar dari dalam mobil, seketika Amanda melihat keramaian di depan sebuah hotel. Di pintu masuk ballroom hotel orang bergantian untuk masuk ke dalam sana.


Valentino menghampiri Amanda dan mengajaknya masuk ke dalam bersama. Mereka berjalan masuk dengan bergandengan tangan.


Tiba berada di dalam, Valentino langsung disambut oleh temannya Frans, dia yang memiliki acara pesta malam ini.


"Ahirnya kau datang juga Bos," ucap Frans sebelum ahirnya menepuk pundak Valentino.

__ADS_1


"Lihatlah aku datang kali ini di pesta kamu bersama istriku." Valentino pamer seraya merengkuh pinggang Amanda.


Frans tertawa.


"Apa kita bisa ngobrol, kau bisa ajak istrimu juga masuk ke ruanganku," ajak Frans yang ingin berbicara hal penting dengan Valentino.


Mereka kemudian berjalan, namun baru beberapa langkah Amanda berhenti. Valentino menoleh, ada apa? begitulah arti tatapannya.


"Kalian saja yang masuk, aku tunggu diluar. Emm aku haus," tolak Amanda yang merasa lebih nyaman berada di luar, meski tadi Frans memberi ijin untuk dirinya juga ikut, tapi menurut Amanda mereka juga butuh privasi.


"Baiklah hati-hati ya? Aku akan segera kembali," ucap Valentino, kemudian mereka terpisah.


Amanda mencari kursi kosong, melihat diujung sana ada kursi tidak ada yang menempati, Amanda menuju ke sana sembari menunggu Valentino.


"Target sudah datang," ucap wanita yang berdiri di ujung sana dengan bibir menyeringai.


Wanita itu memberikan gelas air minum pada pelayan. "Berikan minuman ini pada wanita yang lagi duduk di ujung sana." Tunjuk wanita itu ke arah Amanda.


Pelayan itu mengangguk paham tanpa ada rasa curiga dengan minuman yang ia bawa, tiba di meja Amanda segera memberikannya.


"Nona ini minumannya silahkan dinikmati," ucap lembut pelayan itu sebelum ahirnya pergi.


Hanya saja Amanda belum meminumnya, saat ini masih asyik dengan ponselnya.


Tiba-tiba ada wanita yang menghampiri Amanda, wanita itu kenal juga dengan Amanda dan tidak menyangka akan bertemu Amanda di pesta ini.


"Manda ... Ini kamu benar Manda, kan?" Wanita itu bertanya menggebu hatinya begitu senang bertemu Amanda.


"Jo-Joana!" Amanda terkejut melihat Joana berada di pesta ini juga.


Mereka berpelukan.


"Sudah lama aku tidak bertemu denganmu," ucap Joana masih dalam memeluk Amanda.


"Sama aku juga, apa kabarnya kamu sekarang," ucap Amanda sembari mengusap punggung Joana.


"Aku baik," jawab Joana setelah melerai pelukannya.


Joana dan Amanda saling melempar senyum.

__ADS_1


"Joana ayo kita ke sana, kita harus segera menemui Tuan Frans," ucap seorang pria yang tadi datang bersama Joana.


"Amanda aku pergi dulu ya?"


"Dadah." Joana melambaikan tangan sebelum ahirnya pergi dari hadapan Amanda.


Amanda kembali duduk, sekarang sendiri lagi, Valentino belum kembali, Amanda merasa kesepian.


Amanda merasa haus dan meminum yang dibawakan pelayan tadi, tanpa rasa curiga.


Amanda kembali bermain hp, awal-awal masih merasa biasa, namun makin lama Amanda merasa tubuhnya terasa ada yang aneh.


Amanda mengusap tengkuknya, tiba-tiba saja merasa gelisah perasaan yang sulit dijelaskan, Amanda tidak mau memikirkan dan kembali fokus dengan hp nya.


Tapi rasa tidak nyaman itu makin terasa, suhu ruangan yang tadi terasa dingin kini berubah terasa panas, Amanda seketika merasa gerah.


"Kenapa panas sekali," ucap Amanda seraya menoleh ke kiri dan ke kanan, semua orang tampak biasa saja tidak terlihat seperti dirinya yang merasa panas.


"Kenapa panasnya begini, aneh sekali." Amanda bicara lagi, sungguh merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, Amanda sendiri tidak tahu apa artinya.


Tapi Amanda tidak bisa pergi dari tempat ini, khawatir nanti Valentino mencarinya, Amanda putuskan untuk sabar menunggu Valentino sampai datang.


Saat Amanda menoleh tiba-tiba ada pria berpakaian jas hitam, wajahnya rupawan senyuman juga manis.


Amanda mengernyitkan dahinya bertanya dalam hati siapa pria itu. Tapi Amanda tidak bisa bertanya langsung siapa nama pria itu, karena saat ini Amanda semakin merasakan reaksi yang aneh dengan tubuhnya, sulit Amanda jelaskan, ini baru pertama kalinya.


Ah, ada apa dengan aku, batin Amanda frustasi kini wajahnya memerah.


Apa bila dilihat oleh pria itu wajah Amanda saat ini makin cantik karena terlihat merona. Pria itu tersenyum menyeringai.


"Nona." Pria itu tanpa permisi memegang tangan Amanda, namun segera Amanda tepis.


Tapi sentuhan singkat itu memberikan reaksi tidak jelas pada tubuh Amanda. Saat ini Amanda jadi menginginkan sentuhan pria, dan melihat bibir pria itu, Amanda menelan ludah kasar.


Amanda menggelengkan kepalanya, berusaha mengontrol diri.


Tidak! Aku tidak boleh seperti ini, sekali pun aku harus melakukan itu harus dengan Valentino, ah! Tapi dia dimana? Mengapa tidak segera datang, batin Amanda yang merasa panik saat ini. Tubuhnya semkin bereaksi tidak jelas.


Reaksi dalam tubuh Amanda makin tinggi dan Amanda makin tidak bisa mengendalikan tubuhnya, hanya bisa menggelengkan kepala saat pria itu mendekat dan menyentuh bahunya dan semakin mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2