
Satu Minggu kemudian.
Amanda yang malam ini baru pulang kerja karena tadi ada pertemuan dengan klien, setelah Amanda tiba di depan pintu apartemen, lagi-lagi Amanda melihat teror. Tapi kali ini beda tidak perlu di bungkus, langsung tergeletak gitu aja.
Aaa! Amanda menjerit karena begitu terkejut saat matanya melihat seekor tikus yang baru saja di bunuh, darah segar masih jelas terlihat, bau amis itu begitu menyengat, Amanda sampai menutup hidungnya.
Di ujung sana Amanda melihat ada sapu, Amanda mengambil sapu serta pengki kemudian Amanda buang tikus itu ke tong sampah.
Segeralah Amanda masuk ke dalam Apartemen dan menguncinya kembali, Amanda menuju kamarnya berada.
Sampai di sana Amanda segera mau mandi, saat Amanda mau mencuci muka lebih dulu, setelah menghidupkan air kran di wastafel, hidung Amanda berasa mencium bau amis berasal dari air yang mengalir itu.
Amanda menggeleng berpikir tidak mungkin apa bila teror itu sampai merusak rasa air di apartemen ini.
Amanda tidak jadi mencuci muka dan tidak jadi mandi, Amanda ahirnya keluar dari dalam kamar, memanggil pelayan.
Tidak lama kemudian pelayan yang dipanggil itu datang, di lihat dari wajahnya nampak sudah mengantuk, mungkin pelayan itu baru saja tidur dan terbangun saat mendengar suara Amanda.
"Nyonya butuh bantuan saya?" tanya pelayan itu.
"Iya, saya mau tanya apa kah air di apartemen ini bau amis?" tanya Amanda karena penasaran.
"Bau amis," ulang pelayan itu karena bingung mendapat pertanyaan Amanda barusan. Dan saat melihat Amanda mengangguk pelayan itu semakin tidak mengerti.
Tapi perasaan tidak amis, batin pelayan itu.
"Jika begitu saya cek dulu Nyonya," putus pelayan itu karena tidak mau menjawab salah, tadi memang tidak amis tapi tidak tahu dengan sekarang.
Setelah pelayan itu berjalan ke arah wastafel di dapur dan menghidupkan air kran nya, kemudian mencium air itu tapi yang didapat tidak ada bau amis.
"Bagaimana?" tanya Amanda yang kini sudah berdiri di belakang pelayan itu.
"Tidak Nyonya." Pelayan itu menjawab yakin.
Apa cuma perasaanku? Tapi tidak mungkin aku salah mencium bau amis, karena jelas-jelas tadi bau amisnya begitu menyengat, batin Amanda yang malah ikut bingung dengan situasi ini.
Amanda menghela nafas panjang setelah mendapat jawaban dari pelayannya, Amanda mengijinkan pelayan itu pergi, ahirnya Amanda mencuci muka di wastafel dapur.
Setelah selesai, Amanda kembali masuk ke dalam kamarnya, dan langsung beristirahat.
__ADS_1
Keesokan harinya.
Di jam sepuluh pagi Amanda yang saat ini di luar perusahaan, sedang mengecek pembangunan Mall, yang mungkin sudah 88% pembanguan itu. Yang sebentar lagi akan selesai dan menjadi salah satu pusat perbelanjaan terbesar.
Amanda saat ini sedang berbincang dengan mandor yang mengawasi pembangunan tersebut, Amanda merasa puas dengan hasil kerja para kuli yang begitu semangat, serta desain dari para arsitek yang terlihat itu memberikan hasil karya yang bagus.
Andaikan Mall ini nanti sudah jadi Amanda miliki tujuan akan membuka toko fashion paling besar, supaya kalangan menengah juga kalangan ke bawah bisa membeli pakaian dari hasil karyanya dengan harga yang terjangkau.
Amanda tidak akan menjual mahal supaya semua kalangan bisa memiliki pakaian hasil karyanya. Dan itu hanya disediakan khusus di Mall nya sendiri.
Karena untuk penjualan di butik itu khusus untuk kalangan ke atas dan para selebriti. Begitulah tujuan Amanda nantinya.
Setelah perbincangan itu cukup, Amanda bersama Merry pergi dari tempat tersebut, mereka saat ini menuju ke parkiran mobil, Amanda mengurungkan niatnya, tiba-tiba ingin buang air kecil.
Merry menunggu di samping mobil meski sinar matahari terik jatuh di atas kepalanya, Merry tetap menunggunya di luar mobil.
Amanda menuju kamar mandi yang ada di dalam toko Alfamart, numpang di sana.
Setelah Amanda selesai, dan mau membasuh muka di wastafel luar kamar mandi, saat melihat pantulan wajahnya di cermin Amanda melihat pria bertopeng di belakangnya..
Deg.
Buru-buru Amanda mengejar orang bertopeng tersebut, namun sayang larinya begitu cepat, dan sudah tidak ada lagi.
Merry yang melihat Amanda seperti mencari seseorang mengerutkan keningnya.
Amanda segera menuju mobilnya dan segera masuk, Merry pun segera menyusul masuk dan menjalankan mobilnya.
Di dalam mobil Amanda menghubungi Jefry, satu panggilan tidak Jefry angkat sampai dua panggilan dan tiga panggilan baru Jefry angkat.
"Jefry kamu ada dimana!" ucap Amanda buru-buru setelah panggilan Jefry angkat.
"Aku ada di markas," jawab Jefry di sebarang sana lewat sambungan telepon.
Amanda mengerutkan dahinya. "Markas! dimana markas kamu."
"Aku serlok," jawab Jefry."
"Baiklah." Setelah itu Amanda memutus sambungan telepon.
__ADS_1
Tidak lama kemudian ada pesan masuk dari Jefry, Amanda melihatnya dan segera memerintahkan Merry untuk menuju tempat tersebut.
Ternyata tempat markas Jefry rumayan jauh dari posisi Amanda berada saat ini, perlu menempuh waktu empat puluh menit baru sampai.
Setelah sampai di sana Amanda segera keluar dari dalam mobil. Seketika sebuah rumah megah yang menjadi pandangan pertama mata Amanda.
Amanda segera masuk ke dalam yang diikuti Merry di belakangnya. Di pintu masuk Amanda disambut oleh seorang pria, kemudian pria itu mengantar Amanda menuju sebuah ruangan dimana Jefry sudah menunggunya di sana.
Setelah sampai di sana dan pintu terbuka seketika warna serba gelap yang menyambut mata Amanda. Tidak ada lampu hanya ada sinar dari celah jendela, tapi Amanda masih mampu melihat wajah Jefry yang duduk di kursi singgasana di sana.
Kalian ini bekerja apa an sih, batin Amanda yang tidak mengerti pekerjaan sorang mafia.
Merry biasa saja datang ke tempat ini tidak terkejut karena dulu juga pernah tinggal di tempat seperti ini yang dimana semua temannya para laki-laki.
Amanda masuk ke dalam dan mengambil duduk tepat di depan Jefry, pria itu tetap diam auranya nampak dingin, tidak seperti biasanya yang ramah saat bertemu Amanda.
Ada apa dengan Jefry, batin Amanda yang merasa ada yang aneh dengan Jefry.
"Jefry, ini sudah satu Minggu aku memerintahkan kamu untuk menangkap orang yang sudah meneror aku. Tapi mana kamu belum menangkapnya!" tegas Amanda campur marah karena Jefry lambat dalam bertindak, sementara dirinya sudah tidak tahan dengan teror ini.
"Dia tidak akan bertindak selama belum ada perintah dari aku."
Deg!
Amanda terkejut matanya sampai mendelik mendengar suara barusan, yang jelas bukan Jefry yang bicara, dan Jefry seketika turun dari singgasananya berjalan ke depan, Amanda perlahan menoleh ke belakang melihat orang yang Jefry sambut.
Deg.
Amanda terkejut yang kedua kali saat mengenali orang tersebut. Yang saat ini berdiri tegap tidak jauh darinya dan menatap intens ke arahnya.
"Valentino!"
"Yeah," jawab Valentino santai menatap lekat wajah Amanda yang terlihat syok.
"Memang kamu siapanya Jefry berani mengatur Jefry!" teriak Amanda kali ini benar-benar marah, karena menganggap Valentino sudah ikut campur urusannya.
"Aku." Valentino menunjuk diri sendiri. "Aku siapa kamu Jefry?" Melihat ke arah Jefry.
"Anda Bos saya Tuan," ucap Jefry mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
Valentino kembali menatap wajah Amanda disertai senyum tipis.