
Setelah pergi dari rumah, rumah yang Amanda beli setelah menikah dengan Tomi, tapi Amanda tinggal begitu saja, karena sudah muak dengan sikap Tomi yang selalu berbuat kasar bila sedang marah.
Dan disinilah Amanda sekarang, di sebuah apartemen yang sudah Amanda beli sekitar satu Minggu yang lalu.
Gedung apartemen ini belum lama diresmikan, hingga penghuni di dalamnya pun belum banyak, masih banyk ruang apartemen yang kosong.
Tetapi Amanda memilih membeli kamar apartemen yang letaknya di lantai 25 dari 30, lantai.
Di lantai ini Amanda belum memiliki tetangga, jadi merasa nyaman, lagian berisik dari ruang sebelah juga tidak akan mungkin terdengar.
Setelah mandi Amanda membaringkan tubuhnya di atas ranjang, yang warnanya semua serba merah, separi merah, selimut juga merah, sarung bantal juga merah, bahkan baju tidur yang Amanda pakai juga merah.
Semua warna merah seolah melambangkan hati Amanda yang lagi marah, hancur, kecewa dengan semua sikap suaminya.
"Apa menurut kamu jadi aku itu mudah Tom? apa kurangnya aku sampai kau tega melakukan ini sama aku!"
"Uang dan cinta aku berikan buat kamu! tapi apa ini!" Amanda meremat bukti transaksi yang Tomi berikan pada Dinda, uang senilai seratus juta.
Transaksi tersebut Amanda dapat dari Merry yang Amanda tugaskan untuk selalu memantau Tomi dan Dinda, tentu Merry bisa tahu, karena sudah meminta bagian I.T, apa pun transaksi yang dilakukan Tomi bisa diketahui.
"Kau bodoh Tom, kau bodoh! tapi aku lebih bodoh!" teriak Amanda ditengah matanya yang menangis.
Amanda menangis karena sedih memiliki suami yang jahat bahkan menghambur-hamburkan uang yang Amanda punya hanya diberikan cuma-cuma pada wanita lain, siapa pun istri pasti juga akan marah dan kesal.
Amanda menghapus air matanya dengan kasar, membuang nafas panjang. "Hubungan kita akan berakhir sampai di sini Tomi."
Setelah bicara, Amanda kemudian berusaha tertidur, dan tidak lama kemudian Amanda sudah masuk ke alam mimpi.
Keesokan harinya Amanda tidak menyapa Tomi saat bertemu pria itu di kantor, Tomi juga diam merasa tidak miliki muka untuk sekedar bicara dengan Amanda. Siang harinya di hari ini juga Amanda bersama Merry memasukkan surat gugatan cerai di pengadilan, dan setelah itu di hari-hari selanjutnya Tomi dan Amanda masih saling diam, mereka berdua terlihat seperti orang asing yang tidak saling kenal, dan tepat di hari keempat mereka saling diam, Tomi mendapat surat dari pengadilan saat baru pulang kerja.
"Surat gugatan cerai," gumam Tomi dan langsung membukanya untuk membaca isi di dalamnya.
Duarr!
__ADS_1
Jantung Tomi seperti meledak saat ini juga setelah membaca surat gugatan cerai dari Amanda.
"Tidak ini tidak boleh terjadi, Amanda ... Amanda!" teriak Tomi histeris memanggil-manggil nama Amanda.
Tidak perlu berpikir panjang, Tomi kembali melajukan mobilnya, kini tujuannya mendatangi apartemen Amanda.
Ya, Tomi sudah tahu dimana selama ini Amanda tinggal setelah keluar dari rumah, diam-diam tanpa sepengetahuan Amanda, Tomi menyuruh orang untuk mencari tahu informasi tentang Amanda, dan terus memantau Amanda.
Jadi tanpa tegur sapa dengan Amanda, Tomi sudah tahu apa yang Amanda lakukan dari orang suruhannya, tapi masalah Amanda yang menggugat cerai, Tomi beneran tidak tahu, merasa sudah kecolongan.
"Dasar kerja tidak pecus!" umpat Tomi pada orang suruhannya sampai dirinya menerima surat gugatan cerai.
"Aku tidak mau cerai Amanda, aku tidak mau cerai." Tomi terus berbicara itu itu terus sepanjang jalan, seolah Amanda mendengar, sampai mobil yang dirinya kendarai tiba di apartemen Amanda.
Tomi segera berlari masuk tanpa bertanya pada receptionist langsung menuju lift, menekan tombol lantai dua puluh lima, lift membawa Tomi ke lantai tersebut dan keluar dari sana.
Tomi segera berlari mencari kamar 3003, dan setelah menemukannya Tomi segera menekan belnya, Tomi menekan terus belnya tanpa sabaran.
Sembari menggerutu Amanda berjalan ke arah pintu, namun sebelum membukanya Amanda melihat dari kamera yang menembus keberadaan di luar sana, Amanda langsung terkejut setelah tahu yang datang adalah Tomi.
Amanda membuang nafas berat, tidak akan menghindar saat Tomi datang, Amanda sudah menduga Tomi pasti datang menemuinya, dan menduga pasti karena surat gugatan cerai itu.
Saat pintu dibuka oleh Amanda, Tomi bahagia dan ingin masuk ke dalam, namun dihalangi oleh Amanda jari Amanda mendorong dada Tomi membawa pria itu mundur dan Amanda menutup pintunya, mereka akan mengobrol di luar.
"Ada apa! ngapain!" tanya ketus Amanda seraya melipat kedua tangannya di depan dada, matanya menatap nyalang ke arah Tomi.
Wajah Tomi tampak memelas. "Sayang."
Cih! sayang, umpat Amanda membuang muka.
"Aku mohon sayang, tolong jangan sampai kita bercerai, aku mohon sayang." Tomi ingin meraih tangan Amanda, tapi Amanda tetap melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku tahu aku salah, aku selalu kasar sama kamu, karena itu aku minta maaf, kita bisa bicarakan semua baik-baik, kan sayang?" Tomi mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
Menyedihkan, itu lah yang Amanda lihat saat ini, tapi Amanda tetap diam malas mau memberi jawaban, terserah Tomi mau bicara apa pun, hanya Amanda masukkan lewat telinga kanan keluar lewat telinga kiri.
Intinya sudah enggan untuk memulai hubungan baik, karena pasti akan seperti itu lagi, sikap kasar tidak akan mungkin bisa hilang.
Melihat Amanda yang hanya diam saja tidak menjawab dan malah membuang muka, membuat Tomi frustasi, Tomi tidak menyangka bila Amanda akan nekat sampai meminta cerai, kemarin-kemarin pikirnya Amanda hanya pergi sesaat dan akan pulang lagi.
Tomi membawa tubuhnya meluruh ke bawah, memegang kaki Amanda seraya mendongakkan kepalanya melihat wajah Amanda yang tetap pada pendiriannya yang diam, bahkan tidak tergerak sedikitpun untuk melihat Tomi yang saat ini memohon di depannya.
Amanda tahu bila Tomi sedang memohon sampai bertekuk lutut di depannya.
"Amanda aku mohon, maafkan aku Amanda, aku janji akan melakukan apa pun yang kamu minta, mohon maafkan aku Amanda." Tomi bicara sembari menangis, suaranya melemah hilang campur tangisnya.
Tapi apa yang Tomi dengar dari bibir Amanda yang sudah dirinya lakukan sampai bertekuk lutut, membuat Tomi tercengang.
"Pulanglah, percuma semua sudah berakhir."
Tomi menggelengkan kepalanya tidak mau perpisahan ini sampai terjadi, saat Amanda mau membuka pintu, Tomi dengan segera menghalangi tangan Amanda, Tomi memegang lengan Amanda.
"Amanda jangan lakukan ini padaku, aku mohon Amanda."
Amanda melepas tangan Tomi yang memegang lengannya dengan kasar. "Selesai!"
Mendorong tubuh Tomi untuk menjauh, dengan segera membuka pintu dan menguncinya.
"Amanda! Amanda buka pintunya! Amanda ...."
Tomi menggedor-gedor pintu apartemen Amanda, menangis sesenggukan menyesali perbuatannya, tubuh Tomi terkulai lemas bersandar di pintu dan perlahan meluruh ke bawah ambruk di lantai.
...----------------...
Hari Senin boleh minta vote nya ya kak 💖🙏
__ADS_1