Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 49. Menghibur Amanda.


__ADS_3

Setelah Amanda bangun dari tidurnya, Valentino yang menyuapi Amanda, awalnya Amanda menolak untuk makan, jelas saja selera makannya hilang setelah tahu dirinya keguguran, separuh semangatnya hilang.


Tapi Valentino memaksanya, dan ahirnya perlahan Amanda mau makan.


Saat ini waktu sudah mau malam hari, sebentar lagi Amanda harus minum obat.


Valentino mau menyuapi lagi namun Amanda menggeleng. "Sudah aku tidak mau lagi."


"Satu kali lagi ayo." Valentino menyodorkan sendok ke mulut Amanda, dengan terpaksa Amanda mau menerima suapan itu.


Kali ini Valentino berhenti menyuapi Amanda, memberikan piring itu ke tangan Merry, Valentino mengambil gelas berisi air putih.


"Minumlah." Valentino memberikan pada Amanda.


Amanda menerima gelas itu kemudian meneguk air dalam gelas sampai tinggal setengah.


"Obatnya." Valentino memberikan pil ke tangan Amanda.


Amanda langsung menelan pil itu yang kemudian disusul minum air putih. Amanda menyerahkan lagi gelas itu ke tangan Valentino.


Merry mengambil gelas yang Valentino pegang, kemudian menaruhnya di atas meja, bersamaan Merry menaruh gelas, pintu ruang rawat Amanda di buka.


Seketika Merry juga Valentino melihat siapa yang datang. Merry tidak mengenali orang itu, tapi apa bila di lihat dari penampilannya adalah seorang bangsawan, wanita yang sudah cukup berumur namun masih terlihat cantik diusianya yang sudah tidak lagi muda.


Valentino berdiri. "Mom, sama siapa datang kemari? Tadinya mau Valentino jemput."


Mommy Vio menyingkirkan Valentino. "Kamu kelamaan," bicara ketus dan berjalan terus menghampiri Amanda.


Hah bagaimana tidak lama, kan aku menyuapi Amanda makan dulu Mom! batin kesal Valentino yang disalahkan Mommy Vio.


"Amanda ... Kamu kenapa sayang." Mommy Vio mencium kening Amanda kemudian duduk di pinggiran ranjang sembari mengusap punggung tangan kanan Amanda.


Bibir Amanda mimbik-mimbik. "Amanda keguguran Bu."


"Hei jangan menangis wanita cantik akan jelek kalau menangis." Mommy Vio menghapus air mata Amanda.


"Coba kamu pikirin ucapan Mommy pasti benar, kalau wanita cantik menangis pasti jelek, iya kan? Karena tidak ada seorang model cantik lagi fashion show tapi dia nangis."


"Iya Bu," jawab Amanda sedikit senyum.


"Hem ada lagi Mom." Valentino ikut menimpali.


"Apa." Mommy Vio bicara mengejek sembari menatap Valentino.

__ADS_1


"Gak tahu lupa," jawab cuek tanpa dosa.


Mommy Vio langsung berdiri menjewer telinga Valentino. "Suka usil sama Mommy rasakan ini." Mommy Vio semakin menarik telinga Valentino.


Aww! Mom sakit! Keluh Valentino.


"Sudah sana keluar tidak usah nguping pembicaraan perempuan!" Mommy Vio bicara ketus sembari mendorong tubuh Valentino keluar dari ruang tersebut.


Valentino menahan Mommy Vio. "Mom janganlah seperti ini ... Aku mau di dalam," bicara memelas supaya mendapat belas kasih Mommy Vio.


"Tidak! keluar sekarang." Mommy Vio langsung mendorong tubuh Valentino keluar dan segera mengunci pintu.


Valentino menggedor-gedor pintu. "Mom ..


Mom."


Ahirnya pasrah menunggu di luar, Valentino duduk di kursi tunggu.


Hah padahal aku ingin di dalam pengen lihatin wajah Amanda, malah diusir sama Nyonya besar, keluh batin Valentino dengan bibir mayun.


Di dalam ruang rawat Amanda, Mommy Vio yang sudah kembali duduk tersenyum ke arah Amanda.


"Bu ... Tidak perlu mengusir Valentino, tidak apa-apa dia dalam." Amanda tidak merasa keberatan.


Amanda tersenyum. "Ibu mau bicara apa sih?"


"Panggil Mommy saja lebih enak di dengar Mommy, biar sama seperti Valentino, ok?"


Amanda mengangguk.


Mommy Vio merapihkan anak rambut Amanda, beralih mengusap wajah Amanda yang tampak pucat, tidak seperti beberapa hari lalu yang merona cantik, tiba-tiba hati Mommy Vio jadi ikutan sedih.


Mommy Vio menggenggam tangan Amanda sembari menatap dalam bola mata Amanda. "Valentino adalah anak kedua Mommy, karena sebelumnya Mommy memiliki anak perempuan baru usia satu bulan dia meninggal." Mommy Vio berhenti bicara jadi sedih jika ingat saat itu. "Dan setelah kepergian anak pertama Mommy, Mommy tidak langsung dikasih momongan lagi, Mommy harus menunggu lima tahun baru Mommy memiliki anak lagi yaitu Valentino."


Amanda ikut sedih mendengar cerita Mommy Vio.


"Sayang, Mommy bercerita seperti ini karena Mommy ingin kamu bisa ikhlas, kamu tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, kamu harus bangkit perjalanan masih panjang, kamu tidak boleh berdiam dan menyerah sayang."


Amanda langsung memeluk Mommy Vio, menangis di sana, Mommy Vio terus menasehati Amanda, saat ini Amanda mulai berpikir bahwa dirinya memang tidak boleh lemah.


Mommy Vio mengusap punggung Amanda, Mommy Vio tidak ingin Amanda merasa sedih yang berkepanjangan seperti dirinya dulu.


"Mom, terimakasih sudah peduli sama Manda, apa bila tidak ada Mommy, Manda tidak tahu-." Amanda menghentikan ucapannya terduduk sedih.

__ADS_1


Mommy Vio menangkup wajah Amanda. "Katakan kamu mau apa?"


"Manda mau bercerai Mom," suara lirih Amanda begitu terlihat rapuh dan menderita dengan pernikahannya.


Mommy Vio ikutan menangis. "Mommy akan bantu, Mommy tidak mau melihat kamu menderita semakin lama, jangan bersedih."


Mommy Vio memeluk Amanda lagi menenangkan wanita itu yang kembali menangis pilu.


Di luar ruangan.


Valentino melihat Tomi datang, Valentino langsung menghadang.


"Mau ngapain," tanya ketus Valentino.


"Bukan urusanmu!" jawab kasar Tomi berusaha menyingkirkan tubuh Valentino.


Valentino menarik tangan Tomi untuk menjauh dari pintu. "Pulang! Jangan temui Amanda dia lagi istirahat!"


Tomi tidak mau kalah dalam hati harus bertemu Amanda. "Menyingkir lah! Aku mau bertemu Amanda jangan halangi aku!"


Valentino mendorong tubuh Tomi sampai membentur dinding. "Pergi jangan membuat aku marah dan menghabisi kamu!"


Tomi menatap kesal ke arah Valentino, sembari menghela nafas berat Tomi pergi dari sana.


Lihat saja aku akan balas kamu, batin Tomi sembari berjalan pergi.


Tomi sengaja tidak memukul Valentino meski tangannya sudah gatal ingin menuju pipi Valentino, tapi ia tahan sadar diri karena berada di rumah sakit tidak mau menganggu orang lain.


Valentino juga menatap kesal ke arah Tomi yang berjalan pergi sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


Dia memang laki-laki aneh, batin Valentino.


Pintu ruang rawat Amanda kembali di buka, Valentino masuk ke dalam.


Saat ini Amanda harus istirahat supaya cepat sembuh, Mommy Vio berpamitan dengan Amanda bahwa harus pulang karena sudah malam.


Mommy Vio mencium kening Amanda memeluk Amanda, Valentino juga mau memeluk Amanda, namun tangan Valentino segera ditarik Mommy Vio membuatnya tidak bisa memeluk Amanda.


Valentino mendengus kesal sembari mengikuti langkah Mommy Vio yang mengajaknya berjalan keluar.


Amanda tersenyum kecil melihat tingkah ibu dan anak itu yang malah terlihat seperti teman.


Amanda kemudian memulai tidurnya, malam ini yang menemani Amanda hanya Merry.

__ADS_1


Merry tiduran di sofa, tidak lama kemudian mereka sudah tidur masuk ke alam mimpi.


__ADS_2