
Setelah pekerjaan di kantor selesai, tepat pukul lima sore, Amanda keluar dari ruang kerjanya, bersama Merry Amanda akan pulang, saat mereka berdua berada di dalam lift ada yang menelpon Amanda, dilihatnya ponselnya ternyata Tomi yang nelpon, Amanda milih mendiamkannya.
Setelah pintu lift terbuka mereka berdua segera keluar, dan berjalan menuju parkiran mobil, beberapa karyawannya yang berpapasan dengan Amanda mereka menunduk hormat.
Saat sudah sampai di samping mobil Amanda juga Merry segera masuk ke dalam, tidak lama kemudian mobil pun melaju.
Tomi terus saja menghubungi Amanda sampai saat ini meski tidak Amanda angkat panggilan telepon itu, tapi sepertinya Tomi tidak mau menyerah.
Merry yang duduk di kursi kemudi sesekali melihat Amanda melalui kaca mobil, Amanda terlihat murung dan kesal, bunyi hp nya masih terdengar didalam saku jas yang ia pakai.
Merry tahu betul perasaan Amanda saat ini, memang sulit untuk memaafkan pria yang sudah menyakiti.
Kemudian Merry melihat Amanda mematikan hp nya hingga Tomi tidak bisa menghubungi Amanda lagi.
Merry membelokkan mobilnya menuju jalur tujuan apartemen Amanda, lima belas menit kemudian mobil yang Merry kendarai tiba di apartemen Amanda.
Setelah Amanda keluar dan mulai berjalan memasuki gedung apartemen, Merry kembali melajukan mobilnya menuju apartemennya berada.
Hari ini Amanda merasa sangat lelah, apa lagi baru saja sembuh dari sakitnya, setelah keluar dari lift Amanda menghela nafas panjang, kemudian menekan tombol password setelah pintu terbuka Amanda masuk ke dalam.
Baru saja masuk ke dalam Apartemennya, Amanda mencium wangi masakan yang sangat lezat, Amanda sampai mencium dalam-dalam wangi masakan itu, Amanda seperti mengenali siapa pemasaknya, karena Amanda sedikit hafal apa bila yang memasak itu adalah pelayan, dan Amanda merasa ini yang masak bukan pelayannya.
Amanda penasaran ahirnya membawa kakinya melangkah menuju ruang makan, di sana tidak ada siapa-siapa, berati masakan belum matang, Amanda kembali berjalan sampai tiba di dapur.
Amanda melihat wanita paruh baya yang sedang berdiri di depan kompor, tangannya sibuk memegang spatula mengaduk-aduk sayur dalam wajan.
"Ibu."
Mendengar suara Amanda yang memanggil, Ibu Lili menoleh. "Sudah pulang sayang." Kembali mengaduk sayuran.
Amanda mendekati Ibu Lili. "Ibu datang ke sini tidak kabarin Manda."
__ADS_1
"Seorang Ibu datang ke rumah seorang anak tidak perlu memberitahu sayang," ucap Ibu Lili tersenyum.
"Ibu datang kemari bersama ayah juga?"
"Tidak," jawab cepat Ibu Lili seraya menatap Amanda sekilas.
"Kamu mandi saja dahulu, selesai kamu mandi masakan Ibu sudah siap," ucap Ibu Lili yang langsung mendapat anggukan kepala Amanda.
Amanda meninggalkan Ibu Lili di dapur, Amanda berjalan masuk ke dalam kamar, sampainya di sana Amanda meletakkan tas kerjanya, duduk sebentar di kursi sofa.
Ibu datang kemari mau ngapain ya, semoga saja tidak ada rencana mau membujuk aku, jujur aku bingung mau menolaknya seperti apa, aku tahu ibu sangat baik aku juga tidak tega menyakiti perasaannya, karena tidak mampu mengabulkan permintaannya, batin Amanda sembari menghela nafas berat.
Amanda kemudian bangkit dari duduknya berjalan menuju kamar mandi, Amanda berendam di dalam bathtub, campuran aroma terapi yang wangi menenangkan kepalnya yang seharian ini dikuras untuk mikir dalam pekerjaan.
Setelah berendam tiga puluh menit, Amanda keluar dari dalam bathtub, kemudian mengguyur tubuhnya di bawah air shower yang mengalir, busa-busa sabun di badan Amanda berjatuhan seiring air yang menyiram tubuhnya, setelah bersih Amanda meraih handuk, kemudian keluar dari sana.
Amanda sore ini menggunakan baju rumahan seperti daster, kehamilannya sudah mulai nampak buncit, saat melihat penampilannya di depan cermin Amanda tersenyum sembari tangannya mengusap perutnya yang mulai nampak buncit itu.
Sehat-sehat di dalam sana ya , Nak. Ibu mencintaimu, batin Amanda bahagia.
"Ayo saatnya kamu makan pasti kamu sudah lapar," ucap Ibu Lili menatap Amanda sekilas kemudian fokus mengambil nasi di letakkan ke piring.
Amanda menarik kursi dan duduk di sana. "Ibu mengapa repot-repot masak segala."
"Tidak ada yang repot, apa pun yang dilakukan seorang Ibu untuk anaknya tidak ada yang repot, makanlah." Ibu Lili menjawab cepat kemudian memberikan piring yang sudah berisi nasi juga sayur lengkap dengan lauk.
Amanda menatap penuh kasih pada Ibu Lili, kemudian Amanda menyantap makanan yang Ibu Lili berikan.
Ibu Lili pun juga ikut makan bersama Amanda.
Setelah makan sore itu selesai, Amanda masuk ke dalam kamar, Ibu Lili menyarankan Amanda harus segera istirahat tidak boleh capek-capek kasihan baby dalam kandungan.
__ADS_1
Amanda menurut perkataan Ibu Lili, malam harinya Amanda segera tidur, tanpa Amanda sadari Ibu Lili mengintip Amanda yang lagi tidur di atas ranjang sana, Ibu Lili meneteskan air mata, sedih melihat pernikahan anaknya dan menantunya diambang kehancuran, tidak kuat merasa sedih, Ibu Lili menutup pintu kamar Amanda perlahan.
Ibu Lili berjalan menuju kamar tamu dengan air mata berderai, hati seorang Ibu pasti akan sedih apa bila melihat pernikahan anaknya akan hancur, apa lagi Ibu Lili sudah sangat menyayangi Amanda, namu mau bagaimana pun memang semuanya salah Tomi putranya sendiri.
Setelah tiba di kamar tamu, Ibu Lili segera berusaha untuk tidur.
Keesokan harinya.
Setelah Amanda dan juga Ibu Lili baru saja selesai sarapan, Ibu Lili membuka suara.
"Sayang, pagi ini kita ke rumah sakit ya, kita cek kandungan kamu, Ibu ingin melihat calon cucu Ibu."
Amanda meletakkan gelas ke meja setelah baru saja selesai minum. "Baik Bu. Amanda juga sudah lama tidak USG."
Setelah percakapan tersebut, mereka berdua langsung bersiap-siap di dalam kamar, tidak lama kemudian Amanda dan Ibu Lili sudah siap untuk berangkat.
Mereka berdua berjalan bersama keluar dari apartemen Amanda menuju lift.
Sampainya di lantai satu setelah lift terbuka mereka keluar dari sana bejalan menuju halaman gedung apartemen.
Di luar sana sudah ada Merry yang menunggu Amanda, Merry membukakan pintu mobil untuk Amanda setelah Amanda masuk di susul Ibu Lili kemudian Merry menutup pintu itu kembali.
Tidak lama kemudian Merry menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
Tiga puluh menit, mobil yang Merry kendarai sudah sampai di tempat tujuan.
Amanda dan Ibu Lili masuk ke dalam rumah sakit, Merry mengikutinya di belakang mereka berdua.
Setelah sampai di ruangan yang akan memeriksa kandungan Amanda, di sana Amanda berbaring siap melakukan USG untuk si kecil.
"Di usia kehamilan Ibu Amanda yang mau memasuki lima bulan, kandungan Ibu sangat sehat, perkembangan janin di perut Ibu juga baik," terang dokter sembari menunjukan layar USG tersebut.
__ADS_1
Saat detak jantung terekam, Amanda meneteskan air mata.
Detak jantung anakku.