Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 26. Amanda tidak lagi sedih.


__ADS_3

Amanda yang sudah siap ingin melihat isi di dalam DVD itu, kini Amanda sudah menunggunya dengan perasaan yang tidak sabaran.


Vidio masih dalam keadaan loading, namun setelah beberapa saat ahirnya menampakkan sebuah rekaman video Tomi yang sedang mabuk.


Amanda menambah volumenya ingin lebih jelas mendengar yang Tomi ucapkan, ternyata pria itu sedang mabuk berat, terlihat dari tubuhnya yang susah mau berdiri dan terus tertawa-tawa tidak jelas, Tomi meracau, bicara panjang lebar diluar kesadarannya.


Hei Amanda! aku tidak pernah mencintaimu haha kau bodoh sudah percaya sama aku haha sebentar lagi aku akan menguasai semua hartamu haha.


Dan asal kau tahu Amanda! aku sudah menjual beberapa aset yang kamu miliki haha kau bodoh Amanda, kau bodoh haha dan asal kamu tahu Amanda rumah yang kita tinggali itu surat sertifikatnya sudah aku jual hahah.


Kau bodoh Amanda! dan tunggulah kehancuranmu yang akan hidup miskin nantinya, setelah aku merebut semua hartamu, aku akan ceraikan kamu! dan aku akan hidup bahagia haha.


Ingat Amanda ingat! aku tidak pernah mencintaimu hahah.


Vidio selesai, Amanda langsung menghela nafas panjang seraya tersenyum getir, Amanda membawa tubuhnya bersandar di sandaran kursi, menatap langit ruangan.


Amanda akan menyimpan DVD itu, karena nanti bisa dijadikan sebuah bukti, seandainya Tomi tidak mau mengaku atas perbuatannya, Amanda bisa menguak dengan DVD itu.


Bila dirasakan begitu miris rasanya, bila diucapkan begitu sakit, Amanda sampai tidak bisa berkata-kata hanya diam dengan pikiran jauh menerawang.


Mau disesali semuanya sudah terjadi, andaikan tahu dari awal bahwa Tomi hanya memanfaatkan, Amanda juga pasti tidak akan mau menikah dengan pria seperti itu.


Yang sudah hilang biarlah, saat ini Amanda hanya akan menjaga aset kekayaannya yang masih ada, jangan sampai keinginan Tomi terkabulkan.


Dinda sudah Amanda pecat, sekarang tinggal caranya menyingkirkan Tomi dari kehidupan Amanda.


Walau tubuhnya terasa lemas setelah mendengar sendiri dari ucapan Tomi barusan, namun Amanda sudah tidak menangis lagi.


Hanya dadanya terasa sesak, penuh dan ingin meluapkan emosinya, namun sebisa mungkin Amanda mengontrol diri untuk tidak marah-marah, semua itu demi kesehatannya, kondisinya yang lagi hamil membuat Amanda harus banyak pertimbangan untuk tidak segera marah-marah.


Satu hal yang Amanda sadari saat ini, bahwa wanita yang cantik, wanita kaya, wanita cerdas ternyata tidak menjamin akan miliki pasangan yang setia dan tulus.


Tapi Amanda tidak akan menyerah begitu saja, bukan berarti apa yang dirinya alami saat ini akan membuatnya terpuruk. Sebisa mungkin Amanda akan bangkit meski itu sulit.


Amanda hanya wanita biasa, yang butuh dukungan dari orang-orang terdekatnya bisa dari sahabatnya, untuk mendukung Amanda supaya bisa yakin dan tidak berpikir negatif.

__ADS_1


Bukan masalah kecil yang Amanda hadapi saat ini, ketika orang yang menyakitinya adalah suaminya sendiri, yang sangat dekat dengannya selama ini.


Perasaan trauma itu pasti ada, apa lagi rasa takut, namun saat ini Amanda berusaha menyakinkan diri dan menenangkan.


Amanda berpikir cukup semuanya sampai di sini, sudah cukup bukti yang Amanda dapatkan, dan semua itu sudah cukup untuk memperkuat dirinya supaya bisa bercerai di pengadilan nanti.


Amanda menghela nafas panjang sembari bangkit dari duduknya, Amanda berjalan keluar dari ruang kerja, saat ini tujuannya ingin menemui dewan direksi.


Setelah lift yang membawa Amanda sampai di lantai lima belas, para karyawan yang berpapasan dengan Amanda menunduk hormat.


Pemimpin perusahaan yang dermawan, wajahnya selalu nampak tersenyum meski banyak beban berat yang harus Amanda pikirkan.


Setelah berada di depan pintu ruang kerja direksi, sekertaris direksi membukakan pintu untuk Amanda.


Saat Amanda masuk ke dalam, direksi tersebut berdiri kemudian mereka berdua sama-sama menunduk hormat.


"Nyonya, perlu bantuan apa?" tanya dewan direksi setelah mereka sama-sama duduk di sofa.


"Saya ingin tahu berapa banyak jumlah saham di perusahaan ini sekarang."


Dewan direksi seketika terkejut mendengar ucapan Amanda, namun itu tidak lama, kemudian mengerjakan perintah Amanda, mengecek saham perusahaan.


Syukurlah jika begitu, batin Amanda.


"Saya mau Anda perketat semua data-data perusahaan, saya tidak mau ada yang mencurinya."


Dewan direksi mengangguk paham.


"Dan, saya minta mulai gajian bulan ini, Tomi suami saya tidak mendapatkan, soal urusannya nanti biar saya sama dia.


Dewan direksi kembali mengangguk.


"Baik terimakasih, saya permisi." Amanda berdiri kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Sementara itu di tempat lain, di dalam sebuah rumah yang megah bak istana, tepatnya di dalam ruang kerja.

__ADS_1


Seorang pria tampan berwajah bule, yang memiliki keturunan dari ayahnya yang berasal dari negara Amerika.


Pria itu sedang membaca laporan yang baru saja didapat oleh anak buahnya, yang disuruh untuk terus mengawasi wanita yang dicintainya.


Matanya tampak jeli dalam membaca seolah tidak ingin ada yang sampai tertinggal, segala informasi tentang wanita yang dicintainya itu sangat berarti baginya.


Kepalanya mengangguk-angguk tanda ia paham permasalahannya, namun tangannya terkepal hampir membuat kertas yang ia pegang itu sobek, karena marah wanita yang dicintainya mendapatkan perlakukan tidak adil dari suaminya sendiri.


"Dasar pria bodoh!" geramnya dengan suara tinggi.


Anak buahnya yang berdiri di ruangan tersebut sampai terlonjak kaget dikira bosnya memarahinya.


Pria itu menutup lembar kertas yang barusan ia baca, meletakkan di pinggir meja, menaruh pena di atas sana.


Pria itu menatap anak buahnya dengan serius.


Yang ditatap langsung berdiri tegap sudah siap untuk mendengarkan perintah selanjutnya.


"Aku mau membeli semua aset yang sudah dijual pria bodoh itu!"


Otak loading anak buahnya kembali muncul, meski pun begitu anak buahnya itu pria kepercayaannya.


"Tapi Bos, kalo tidak jual sama pemilik barunya bagaimana!"


Seketika ucapan anak buahnya itu menyulut emosi pria tampan itu, yang langsung berdiri seraya menggebrak meja, di susul melempar pena ke arah anak buahnya itu, namun untungnya sigap menangkap bila tidak keningnya bisa benjol.


"Bayarin hari ini juga! bilang ke mereka siapa bosmu jika mereka tetap tidak mau menjualnya!" Kembali duduk dengan dramatis.


Bos, bos. Marahnya dengan siapa tapi aku yang dibentak-bentak, nasib bawahan.


"Ba-baik Bos."


Setelah itu anak buahnya pergi dari ruangan tersebut, untuk menjalankan tugas, tugas aneh yang suka maksa-maksa orang, namun meskipun begitu anak buahnya itu tahu diri bila bosnya itu sebenarnya baik, memang kalo lagi marah begitu menakutkan.


Semetara itu pria tampan yang masih duduk di ruang kerjanya, matanya melihat lukisan indah wajah Amanda yang terpasang di dinding, yang baru jadi kemarin.

__ADS_1


Selama kita belum bertemu dan saling berkenalan, lukisan wajah cantikmu itu pengobat rinduku.


Pria tampan itu tersenyum.


__ADS_2