
Keesokan harinya.
Pukul dua belas siang di restoran.
Ketiga wanita cantik sedang duduk berhadapan dengan meja sebagai pembatas, di depan mereka ada tiga jus milik masing-masing, beserta piring kotor di depan mereka, bertanda mereka sehabis makan.
"Tadi kamu mau bercerita apa Amanda?" Jihan lebih dulu buka suara setelah membersihkan bibirnya menggunakan tisu.
Amanda meletakkan gelas berisi air jus yang baru saja ia minum. "Aku bingung sama diri sendiri, ada rasa takut yang membuat aku belum bisa jadi istri seutuhnya."
What!!
Jihan dan Rita terkejut bersamaan.
"Jangan bilang kalian belum malam pertama," tuduh Rita secara gamblang tanpa sensor.
Amanda mengangguk kecil.
"Oh my God." Rita dan Jihan menepuk jidat bersaman, yang disusul helaan nafas panjang.
"Why, bagaimana bisa! Kamu menikah bukan untuk main-main, kan?" tanya Jihan penuh selidik.
Amanda menggeleng seraya menghela nafas berat. "Aku hanya belum yakin melakukannya, aku masih takut, aku-."
"Kamu belum percaya sama dia," potong cepat Jihan seraya menatap Amanda dengan begitu intens.
Amanda diam.
Rita menggenggam tangan Amanda. "Manda ... Aku tahu bahwa kamu memiliki masa lalu yang buruk dalam pernikahan, dan mungkin juga pernikahan kamu bersama Valentino terbilang cepat. Tapi satu hal yang harus kamu tahu ... Tidak setiap orang itu sama, kamu harus bisa lihat ketulusan Valentino melalui matanya." Rita menghentikan ucapannya menarik nafas panjang. "Aku tahu dan paham mungkin kamu tidak mau melibatkan anak sampai hatimu benar-benar yakin bahwa Valentino tidak akan mengkhianati kamu."
"Kami juga tidak menyalahkan kamu Manda? Kami memaklumi kamu dengan pengalaman buruk kamu ... Tapi mau sampai kapan kamu akan berada terus di dalam situasi seperti ini, apa bila kamu tidak berusaha keluar dari rasa takutmu." Jihan ikut bicara.
Amanda melihat bergantian ke arah Rita juga Jihan, Amanda membenarkan semua ucapan mereka, bahwa dirinya harus keluar dari rasa takut pikirnya. Karena tidak semua orang itu sama.
"Bukan aku memuji dia, tapi dari yang aku lihat, Valentino tulus mencintaimu," lanjut ucap Jihan.
"Benar, bahkan aku pernah melihat cara dia menatap kamu, itu ada tatapan beda." Rita menimpali.
__ADS_1
"Tidak usah khawatir dan takut, pelan-pelan kamu buka hatimu," nasehat Jihan lagi.
"Dan aku rasa kamu lebih mengerti dalam hal ini." Rita melanjutkan ucapan Jihan.
Amanda tersenyum. "Terimakasih kalian sudah mau mendengar cerita aku dan bahkan kalian memberikan solusi untuk aku. Terimakasih banyak."
"Kita adalah teman, jadi sudah sepantasnya kita saling dukung, saling menasehati, dan saling mengingatkan." Terang Jihan.
Mereka bertiga melempar saling senyum.
Di kursi tidak jauh dari mereka, ada Ervina yang hanya duduk sendiri di sana, Ervina menutup wajahnya dengan pura-pura membaca sebuah majalah.
Ervina sedikit menggeser majalah itu dan menatap tajam ke arah Amanda. Hanya melihat wajah Amanda sudah membuat Ervina marah dan benci.
Dalam hati Ervina sampai kapan pun tidak rela apa bila Valentino harus bersama Amanda.
"Harusnya aku yang menjadi istri Valentino bukan kamu. harusnya aku yang menyandang sebagai Nyonya Valentino bukan kamu." Ervina bicara pelan tapi penuh amarah
Ervina kemudian berniat mau berdiri, namun bersamaan dengannya berdiri dan mau berjalan, Ervina tanpa sengaja menabrak pelayan membawa nampan berisi minuman.
Sontak saja nampan itu langsung jatuh dan sebelum gelasnya pecah jatuh kelantai, air jus itu membasahi pakaian Ervina.
"Dasar bodoh! Kau jalan tidak pakai mata!" bentak Ervina begitu marah, karena bajunya saat ini jadi kotor.
Amanda menajamkan pandangan matanya saat melihat Ervina yang memaki pelayan itu.
Sementara itu pelayan tersebut hanya bisa menunduk dalam dan mengucapkan kata maaf.
"Maaf tidak akan bisa mengembalikan baju saya yang kotor ini kembali bersih!" bentak Ervina lagi, dan pelayan itu semakin dalam menundukkan kepalanya.
Ervina yang sudah merasa kesal makin dibuat kesal karena mendapati bajunya menjadi kotor saat ini.
Ervina berjalan pergi sembari menabrak kasar bahu pelayan itu, sampai membuat pelayan itu sedikit limbung.
Amanda hanya bisa mendengar dan melihatnya saja, tanpa mau ikut campur urusan orang lain.
Merry datang dari arah luar menghampiri Amanda, dan mengatakan bahwa saat ini sudah waktunya Amanda kembali ke perusahaan.
__ADS_1
"Sampai ketemu lagi ya," ucap Amanda pada kedua temannya.
Sebelum Amanda pergi dari sana, mereka saling berpelukan.
Setelah itu Amanda dan Merry berjalan keluar restoran menuju parkiran mobil, setelah masuk ke dalam mobil, Merry segera menjalankan mobilnya.
Tiga puluh menit, mobil sudah sampai di perusahaan, Amanda keluar dari dalam mobil berjalan cepat untuk memasuki perusahaan.
Di tempat lain.
Di sebuah kontrakan kecil, tidak bagus juga tidak jelek, namun disekitar tempat itu kumuh, banyak sampah juga bau got yang menyengat, di tempat ini juga banyak nyamuk. Siapa lagi pemiliknya apa bila bukan Dinda.
Ya, saat ini Dinda jatuh miskin bahkan sangat miskin, nyatanya memutuskan menjadi pe-la-cur tidak membuatnya kaya lalu hidup enak seperti dulu, Dinda tetap mendapat kesusahan.
Bahkan kadang mereka yang menyewa tubuhnya bermain dengan kasar, sampai kadang membuat tubuhnya terasa remuk.
Namun Dinda juga tidak menghentikan pekerjaan itu, karena hanya di pekerjaan itu lah Dinda mudah mendapatkan uang.
Uang banyak tapi Dinda belum bisa menyewa rumah bagus, karena tidak ingin tempat tinggalnya di lacak dengan mudah.
Di tempat yang kumuh itu, siapa sangka Dinda tinggal di sana. Karena Dinda pernah dilabrak istri dari pria yang menyewanya.
Dan saat ini Dinda sedang duduk di sofa, matanya menatap lurus ke depan, air matanya berjatuhan di pipi.
Ya, Dinda sedang menangis, menangisi hidupnya yang saat ini menjadi lebih sulit, hidupnya yang hanya sendiri tidak miliki keluarga satu pun.
Para saudaranya telah tidak menganggap Dinda sebagai bagian keluarga, setelah mengetahui pekerjaan baru Dinda sebagai pe-la-cur.
Namun waktu tidak bisa dikembalikan lagi, menyesal pun juga tidak ada guna, apa yang dahulu Dinda tanam kini Dinda memetiknya.
Tapi meskipun kehidupannya sudah hancur Dinda masih saja menaruh dendam dengan Amanda, menyalahkan Amanda bahwa perubahan ini karena Amanda.
"Aku benci sama elo Manda, aku benci!" teriak Dinda disela Isak tangisnya.
"Elo sekarang hidup enak, bahkan yang aku dengar elo sudah menikah lagi. Tapi aku-." Dinda tidak sanggup melanjutkan kata-katanya yang tertelan Isak tangis.
Arghhhh!!
__ADS_1
Dinda berteriak sembari memukuli dadanya. hanya semakin sakit mengingat semuanya. Tidak terima tapi tidak tahu mau protes dengan siapa, hanya bisa menyalahkan orang lain sebagai pelampiasannya.