
Acara amal kini sudah selesai, semua orang yang hadir mulai bubar kembali ke rumah masing-masing.
Pria asing yang tidak Amanda kenal bahkan pria itu baru kali ini bertemu dengan Amanda dan juga baru tahu bila nama wanita itu adalah Amanda, kini berdiri di ambang pintu ballroom hotel menatap ke arah Amanda yang saat ini sedang berdiri dan tidak lama kemudian ada mobil yang menghampiri Amanda, kemudian pergi bersama mobil tersebut.
"Aku menginginkan wanita itu," bicara dengan Asistennya, kemudian berjalan seraya memakai kaca mata hitam.
Sementara itu Tomi yang saat ini sudah berada di rumah, tepatnya di dalam kamar, pria itu sedang marah-marah besar dengan Amanda.
Tidak terima melihat kehadiran Amanda yang tiba-tiba merebut mobil antik yang mau dirinya beli.
Tomi menghancurkan barang-barang yang ada di dalam kamar, vas bunga Tomi banting, guci juga Tomi banting, alat make up di meja rias milik Amanda Tomi berantakin membuat semua jatuh dan berserakan di lantai.
Bantal-bantal Tomi buang ke sembarang arah, seprai juga Tomi tarik sampai sobek, bahkan baju-baju di dalam almari juga Tomi keluarkan semuanya, dihamburkan ke lantai sampai satu almari kosong.
Tidak puas dengan itu semua, Tomi menggeser kursi sofa, Tomi tendang sampai pinggirannya sobek.
Bahkan kursi meja rias Amanda Tomi tendang lalu Tomi injak sampai patah.
Arghhhh!
"Aku marah! Aku kesal! Aku kecewa!"
Tomi terus bicara sembari terus menginjak kursi Amanda yang sudah patah.
"Kau sudah mempermalukan aku! Kau tidak tahu bila mereka semua kenal sama aku, dan menertawakan aku ketika istriku sendiri berani bersaing dengan aku, aku malu!"
"Tomi!" teriak Amanda yang melihat kamarnya berubah berantakan mirip seperti kapal pecah, bahkan ini memang karena dirusak, Amanda tidak percaya ketika melihat semua barang-barangnya hancur dan jatuh berserakan di atas lantai, bantal juga separi.
Kursi meja riasnya hancur diinjak Tomi saat ini, dan semua baju-baju berhamburan di lantai ada juga sebagian di atas ranjang, pintu lemari terbuka dengan isi di dalamnya yang kosong.
Seketika Amanda marah melihat tingkah Tomi yang sudah berani merusak kamarnya.
"Apa yang kau lakukan Tomi!" sentak Amanda dengan suara tinggi dan mata melotot.
__ADS_1
Tomi menatap tajam ke arah Amanda, dari tatapan Tomi Amanda tahu bila saat ini pria itu sedang marah dan kesal, tapi Amanda bingung apa salahnya dan apa penyebab pria itu marah.
Amanda belum terfikir bahwa semua ini penyebabnya adalah dirinya yang hadir di acara amal.
"Kenapa kau mempermalukan aku Amanda!" teriak Tomi yang masih berdiri di posisinya tadi tempat dirinya menginjak kursi.
Amanda tertawa masam. "Mempermalukan? aku tidak pernah mempermalukan kamu Tomi! tapi kamu sendiri yang mempermalukan dirimu sendiri!"
"Kau datang ke acara amal dengan mengambil mobil yang mau saya beli! apa itu bukan mempermalukan namanya, hah!"
Bagus jika dia sadar, memang itu tujuan aku datang ke sana Tomi, batin Amanda.
"Itu hak aku, itu urusan aku, semua orang berhak datang ke sana!" Amanda menatap tajam, tangannya dilipat di depan dada.
"Hak! kamu bilang hak! kamu sadar bahwa aku adalah suami kamu, dan cara kamu itu mempermalukan aku di depan semua orang, seolah aku tidak mampu!"
"Jika memang kamu mampu mengapa tadi tidak menawar tinggi lagi!" tantang Amanda yang semakin memojokkan Tomi dan semakin membuat Tomi marah.
Tentu saja Tomi tidak terima dengan ucapan Amanda barusan, yang Tomi mau bukan di pinjemin mobil oleh Amanda, tapi membeli mobil antik itu tanpa Amanda ikut campuri, dan sekarang semua itu tidak lagi bisa Tomi wujudkan, karena mobil itu sudah menjadi milik Amanda.
Tomi mendekati Amanda dan membalikkan tubuh Amanda dengan kasar untuk menatapnya.
Amanda tidak kalah tajam membalas tatapan Tomi, seolah keduanya sama-sama sudah siap perang untuk saling melawan.
"Katakan padaku kau sengaja kan, kau sengaja kan melakukan semua ini padaku!" bentak Tomi dengan keras.
Namun tubuh Amanda tidak bergerak sedikit pun, Amanda juga tidak takut sama sekali melihat Tomi marah seperti orang kerasukan.
Haha ha haha.
Amanda tertawa sembari mundur dua langkah. "Kamu sangat lucu sekali Tomi, pikir! apa untungnya aku melakukan hal itu, aku bukan orang yang suka melakukan hal receh, tidak akan aku lakukan bila tidak ada untungnya untuk aku!"
Amanda tersenyum sinis.
__ADS_1
Namun Tomi yang tidak terima dengan segala ucapan Amanda, dengan kasar mendorong tubuh Amanda sampai terjerembab di atas ranjang, Tomi mencekal kuat bahu Amanda tidak peduli dengan Amanda yang meringis kesakitan.
"Lepaskan aku Tomi! lepaskan aku! kau bisa membunuhku!" teriak Amanda ingin berusaha lolos namun tidak kuat mendorong tubuh Tomi.
Pria itu sangat kuat, Amanda tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima perlakukan kasar Tomi.
"Aku akan lepaskan kamu setelah kamu mengakui kesalahan kamu!"
"Gila kamu Tomi! gila!"
Ahh! Amanda meringis kesakitan saat Tomi semakin menekan bahu Amanda, namun Tomi tidak miliki rasa kasihan sedikit pun, jiwanya sudah dipenuhi amarah, hingga membuat dirinya tidak bisa berpikir jernih.
Setelah puas menyakiti Amanda, Tomi menjauh, dan kesempatan ini Amanda manfaatkan untuk segera bangkit dari atas ranjang.
Amanda menerjang tubuh Tomi menampar pipi pria itu, tidak puas hanya satu tamparan, Amanda menampar pipi Tomi berkali-kali, Samapi wajah Tomi memerah menggambar lima jari tamparan keras Amanda.
Tomi hanya diam tanpa melawan, seolah tamparan keras Amanda seketika menyadarkan perbuatannya barusan yang sudah menyakiti Amanda.
Wajah Tomi tampak bersalah dengan bibir bergetar entah mau bicara apa, tangannya menempel di pipinya merasakan sakit bekas tamparan.
Amanda yang masih kesal dengan Tomi meraih baju-baju yang tergeletak di lantai kemudian Amanda lempar ke arah Tomi.
Tomi melindungi wajahnya yang sakit menggunakan lengannya menghindari baju-baju yang Amanda lempar ke arahnya.
Melihat ada bantal, Amanda melemparkan juga ke arah Tomi. Membawa satu bantal mendekati Tomi dan memukul-mukulnya ke tubuh Tomi.
"Hentikan Amanda hentikan!"
Amanda mendorong bantal ke wajah Tomi dengan kuat sebelum ahirnya pergi dari kamar tersebut meninggalkan Tomi yang berantakan, wajah panas tubuhnya ngilu, Tomi ambruk ke lantai.
Amanda pergi dari rumah dengan wajah sangat marah, mulai malam ini Amanda memutuskan untuk tidak lagi tinggal di rumah ini, cukup kesabaran Amanda sampai sini.
Setelah taksi online pesanannya tiba, Amanda segera masuk ke dalam pergi bersama taksi tersebut.
__ADS_1