
Sebelum membuka handle pintu ruang kerja Amanda, Valentino tersenyum penuh arti, entah rencana apa yang sedang Valentino susun.
Klekk!
Pintu terbuka, wajah cantik yang saat ini sedang fokus dengan pekerjaannya di tangannya seketika jadi pandangan pertamanya.
Valentino berjalan masuk ke dalam, merasa ada yang masuk ke dalam ruang kerjanya Amanda mendongakkan kepalanya, perhatiannya seketika pada bibir Valentino yang pecah mengeluarkan darah.
"Oh Tuhan, bibirmu kenapa?" tanya Amanda panik dan langsung berdiri berjalan mendekati Valentino.
"Bibirmu pecah," ucap Amanda setelah memeriksanya yang kini sudah berdiri di depan Valentino.
Hem. Jawab singkat Valentino.
"Duduklah di sofa, akan aku obati," titah Amanda, dan Valentino langsung menurut saja langsung duduk di sofa.
Amanda keluar dari ruang kerjanya, sepuluh menit Amanda sudah kembali lagi membawa ember berisikan air dingin dan kain mengompres, juga kotak obat.
"Aku obati mungkin akan terasa sedikit perih tapi kamu harus tahan ya," ucap Amanda yang sudah bersiap mau mengobati.
Valentino mengangguk patuh membiarkan Amanda melakukan apa pun yang jadi keinginannya.
Amanda menempelkan kain mengompres ke bibir Valentino yang pecah, jarak keduanya kini sangat dekat, Amanda fokus mengompres sampai tidak sadar diperhatikan terus oleh Valentino.
Aww! keluh Valentino.
Amanda menarik tangannya untuk menjauh. "Sakit?"
Valentino mengangguk seraya meringis kesakitan, padahal Amanda melakukannya sudah sangat pelan dan hati-hati harusnya tidak sakit pikir Amanda.
Amanda kembali menempelkan kain kompres itu, kali ini lebih hati-hati tidak mau menyakiti Valentino, tapi siapa sangka Valentino masih saja mengaduh sakit padahal sudah sepelan itu.
Aww! Keluhnya.
Amanda melakukan lagi lebih lembut lagi, tapi Valentino masih mengaduh sakit lagi.
Hah sepertinya Amanda tahu sesuatu, dan di detik itu juga Amanda menekan luka bibir Valentino menggunakan kain kompres.
"Sakit? Katakan sakit sekarang, bilang sakit," ucap Amanda sembari menekan terus, tapi Valentino malah tertawa.
Hahahah!
__ADS_1
"Hah menyebalkan," ucap kesal Amanda sembari melempar kain kompres itu ke dalam baskom.
Amanda bangkit dari duduknya. "Obati sendiri lukamu, jangan ganggu aku." Amanda bicara dingin, berjalan menuju tempat kerjanya.
Sudah pekerjaan masih banyak, bisa-bisanya dia mengerjaiku, gerutu Amanda dalam hati.
Hahaha!
Masih mendengar suara tawa Valentino saat duduk di kursi kerjanya, Amanda mulai sibuk lagi.
Ahirnya Valentino mengobati lukanya sendiri, memang Valentino yang aneh, enak diobatin malah usil, ahirnya ngobatin sendiri.
Amanda tidak peduli lagi mau Valentino kesusahan mengobati bibirnya, karena hatinya sudah kesal dikerjain Valentino.
Di tempat lain, tidak jauh beda derita yang dirasakannya, hanya saja bedanya dia orang memang tidak miliki siapa-siapa jadi harus serba sendiri.
Tomi yang baru saja masuk ke dalam rumah, kebingungan mau mengobati luka bibirnya juga tubuhnya yang terasa sakit.
Saat berdiri di depan cermin, Tomi terkejut melihat wajahnya bekas pukulan Valentino warnanya memburu.
"Wajah tampanku jelek lagi," ucap Tomi sembari mengigat dua hari lalu di pukul Sekertaris Son, belum hilang rasa nyerinya tadi ditinju lagi sama Valentino. makin sakitlah sekarang.
Sengsara sekali hidup Tomi saat ini. Masih belum diobati lukanya Tomi langsung tidur saja.
Waktu menjelang siang.
Mommy Vio datang ke perusahaan Amanda sembari menenteng kotak bekal nasi di tangannya.
Ini kali pertamanya Mommy Vio datang, jadi untuk menuju ruang kerja Amanda ditemani karyawan wanita, apa lagi penampilan Mommy Vio menggambarkan seorang Nyonya. Mereka menghargai.
Tadi sebelum mau mendatangi ruang kerja Amanda, bagian receptionist sudah menginfokan pada Amanda, dan setelah mendapat ijin masuk Mommy Vio segera diantar.
Karyawan yang mengantar Mommy Vio mengetuk pintu ruang kerja Amanda setelah sampai di sana.
Dan setelah mendapat ijin masuk, karyawan tersebut segera memutar handel pintu dan seketika pintu terbuka lebar, dari arah sini Mommy Vio bisa melihat wanita cantik yang duduk di kursi kerjanya masih tampak sibuk.
Karyawan tersebut membungkuk pamit undur diri, Mommy Vio berjalan masuk ke dalam dengan senyum mengembang. Namun saat matanya melihat seseorang yang tidur di sofa seketika matanya terbelalak lebar.
"Valentino," ucapnya lirih, bagaimana bisa Valentino ada di sini, dan apa yang dia lakukan? Malah tidur enak-enakan sementara Amanda kerja pikir Mommy Vio yang menatap heran ke arah Valentino.
Amanda bangkit dari duduknya dan mau mendekati, saat melihat Mommy Vio menatap Valentino yang lagi tidur.
__ADS_1
"Mom, bawa apa?" tanya lembut Amanda setelah berdiri di depan Mommy Vio.
Perhatian Mommy Vio seketika teralihkan pada Amanda yang saat ini berdiri di depannya, Mommy Vio mengangkat kotak bekal nasi itu. "Makan siang untuk kamu sayang." Mommy Vio tersenyum.
"Mommy ... Mommy tidak perlu repot-repot, nanti kecapean," ucap Amanda tidak enak hati.
Mommy Vio mengusap lengan Amanda. "Tidak apa-apa, Mommy tidak merasa direpotkan kok." Mommy Vio mengajak Amanda duduk.
Mereka duduk di sofa sebelah sofa tempat Valentino tidur.
"Sayang, kenapa tidak kamu marahin suami kamu itu, dia enak-enakan tidur sedangkan kamu capek kerja," ucap Mommy Vio saat ini mereka sudah duduk.
Amanda membuka kotak bekal nasi itu. "Dia kelelahan Mom."
Dan penjelasan Amanda itu membuat Mommy Vio berpikir ke hal negatif.
"Apa kalian semalam lembur?" tanya Mommy Vio penuh selidik seraya menggerak-gerakan dua alisnya.
Amanda mengusap tengkuknya yang tidak gatal, bingung juga mendapat pertanyaan seperti itu dari Mommy Vio, bukan Amanda tidak paham menjurus ke hal apa, tapi kan masalahnya bukan hal itu yang Amanda maksud, tapi demi menyelamatkan situasi ahirnya Amanda pilih menjawab dengan anggukan kepala.
Aaaa! Rasanya Amanda malu sekali, tapi ya sudahlah dari pada mendapat pertanyaan-pertanyaan terus.
Mommy Vio langsung tersenyum mendengar jawaban Amanda, harapannya semakin kuat untuk segera mendapatkan cucu.
Amanda mulai memakan bekal yang Mommy Vio bawa.
Mommy Vio geram melihat Valentino tidur, Mommy Vio mengambil bantal sofa kemudian ia gunakan untuk memukul Valentino.
"Manda kamu harus hukum anak nakal ini, bagaimana bisa dia bersantai sedangkan kamu sibuk bekerja," oceh Mommy Vio seraya memukul Valentino terus menggunakan bantal sofa.
Valentino bangun terusik dipukul bantal Mommy Vio.
Amanda hanya tertawa tanpa ada niat mau ikut campur, batinnya rasain di pukul Mommy Vio, habisnya tadi ngerjain dirinya.
Valentino menangkap bantal yang digunakan Mommy Vio untuk memukulnya. "Mom, di perusahaan sudah ada Son."
"Selalu kamu mengandalkan Son dan Son?" Mommy Vio kesal.
"Mom, aku hanya ingin menjaga istriku."
"Alasan!" sarkas cepat Mommy Vio.
__ADS_1