
"Tidak, hanya ingin bertemu kamu saja, iya seperti itu," jawab sembarang Tomi disertai senyum.
Merry menyipitkan matanya tetap diam lengkap dengan auranya yang dingin, tangan melipat di dada.
"Apa kita bisa bicara berdua?" tanya lembut Tomi.
Merry tersenyum miring. "Maaf, saya bukan orang yang pengangguran seperti Anda, waktu saya padat." Selesai bicara Merry langsung melenggang pergi.
Sombong sekali dia, gumam Tomi dengan tangan terkepal, yang kemudian ikut pergi dari tempat tersebut.
Dinda segera sembunyi di balik pintu kerja saat melihat Merry berjalan ke arah pintu keluar. Tidak lama setelah Merry pergi, Dinda juga melihat Tomi yang menyusul pergi.
Hemm sepertinya Tomi mulai menjalankan rencananya, baiklah aku juga, batin Dinda dengan rencana liciknya.
Dinda menyimpan lagi berkas yang tadi ia pegang, Dinda berjalan menuju lift tujuan kali ini ruang kerja Presdir.
Sampai tiba di sana, Dinda tersenyum saat mengangkat sebuah kunci, kunci duplikat yang bisa membuka pintu ruang kerja Amanda.
Aku harus segera mengambil surat-surat penting itu, gumam Dinda dengan tersenyum miring.
Cukup sekali putar, Pintu terbuka, Dinda langsung segera masuk ke dalam sana, Dinda mulai mencari di dalam laci meja, di dalam almari yang ada tumpukan banyk file-file.
Dengan jeli Dinda terus berusaha mencari, memilah tumpukan file-file satu per satu, matanya sesekali menatap pintu memastikan tetap aman.
Dimana surat penting itu? aku harus segera mendapatkannya, dimana kamu dimana kamu, batin Dinda yang sudah tidak sabaran ingin segera menemukan.
Sekian banyak tumpukan file di almari tidak ada sudah Dinda cari, Dinda frustasi campur kesal karena tidak bisa menemukan.
Sial! dimana dia menyimpannya! batin Dinda marah, seraya terus mencari namun sayangnya tetap saja tidak menemukan.
Dinda berdiri seraya menatap ke seluruh ruangan, tersenyum kecil saat masih ada sebuah almari yang belum Dinda lihat isi di dalamnya.
__ADS_1
Dengan langkah kaki tergesa-gesa Dinda menghampiri almari itu, berusaha membuka namun sialnya tidak bisa.
Ah! aku yakin pasti ada di dalam sini, tapi kenapa susah sekali aku buka, hah! dimana kuncinya, Dinda menuju laci meja kerja, membukanya dan menemukan sebuah kunci di dalam sana.
Dinda segera mencoba membukanya kembali, diantara lima kunci yang Dinda pegang untuk mencoba membuka, salah satunya berhasil membuka pintu almari tersebut.
Dengan tidak sabaran, Dinda segera mencarinya surat yang menjadi incarannya. Dan bibir Dinda langsung menyungging senyum saat yang dirinya cari kini telah berhasil ditemukan.
Aku berhasil dapatkan, dengan seperti ini aku akan segera memiliki harta yang Amanda punya, hahaha! aku bisa segera kaya.
Dinda kembali merapihkan di dalam almari, menguncinya kembali, serta mengembalikan kunci ke dalam laci.
Dinda dengan langkah penuh semangat berjalan menuju pintu, pintu terbuka.
Deg!
Dua wanita saat ini saling pandang, yang satunya terkejut, yang satunya menatap tajam.
"Berani Anda masuk ke dalam!" Suara tegas Merry membuat tubuh Dinda merinding, tatapan menusuk Merry menghipnotis Dinda sampai tidak bisa berkutik malah diam mematung dengan tubuh ketakutan karena sudah ketahuan.
"Tindakan Anda bisa saya laporkan, dan Anda bisa segera di pecat dari perusahaan ini!" ucap tegas Merry seraya mengangkat file ditangannya.
"Mohon ... mohon jangan lakukan itu," ucap Dinda seraya ingin meraih tangan Merry supaya mau menolongnya dan memaafkannya.
Namun Merry menepis tangan Dinda, dan sedikit mendorong tubuh Dinda supaya menjauh dari hadapannya, Merry segera masuk ke dalam dan mengunci pintunya dengan segera.
Ah sialan!!
Dinda memaki kesal, semua yang sudah dirinya dapatkan kini direbut kembali.
Aku akan mencari cara lain untuk mendapat kembali surat tersebut, aku adalah Dinda miliki seribu cara licik, batinnya seraya tersenyum miring.
__ADS_1
Dinda pergi dari tempat tersebut, sementara Merry yang berada di dalam, kini meletakkan kembali surat tersebut ke dalam almari tempat yang semula.
Sebenarnya surat yang Dinda ambil itu bukan surat yang asli, karena sudah Merry palsukan, namun supaya Dinda tidak curiga, Merry tetap merebutnya, dan surat yang asli masih Merry simpan di tempat yang paling aman.
Untung saja aku tepat waktu, memang iblis wanita itu, baru saja aku keluar dia sudah berani masuk, berati dia miliki kunci cadangan untuk ruangan ini, dan ini bahaya aku harus segera mengubah kunci pintu ruangan ini, batin Merry yang kemudian bangkit berjalan menuju pintu.
Merry mengecek pintu, terdiam di sana cukup lama, sampai ahirnya Merry menghubungi seseorang untuk mengganti kunci pintu ruangan ini.
Merry kemudian duduk di kursi meja kerja, saat ini Merry bingung tidak bisa pergi begitu saja, sembari menunggu orang yang dipanggil datang, Merry akan tetap berada di ruangan ini.
Tidak ingin bila Dinda kembali masuk lagi, tadi saja Merry sampai membatalkan pertemuannya dengan klien, karena tiba-tiba Amanda menghubunginya bila Dinda masuk ke ruang kerjanya.
Meskipun Dinda sudah menon aktifkan CCTV di ruang kerja Amanda, tetap saja Amanda masih bisa melihat karena sudah Amanda pasang CCTV yang ukuranya sangat kecil, khusus Amanda pasang sendiri, bila yang lain mati, itu tidak akan mati.
Dan ukuran yang begitu kecil, mereka tidak akan tahu, bahkan Merry saja tidak tahu dimana Amanda meletakkan CCTV kecil itu.
Sementara Dinda kembali menemui Tomi, setelah pria itu kembali, karena tadi sempat keluar.
"Tomi, aku sudah berhasil mendapatkan surat penting itu, tapi gagal karena saat aku mau keluar tiba-tiba wanita sialan itu sudah berada di depan pintu!" adu Dinda pada Tomi dengan marah.
"Bodoh!"
"Kau mengatai ku bodoh!" ucap marah Dinda yang tidak terima.
"Lalu apa bila bukan bodoh! kamu ceroboh sudah aku bilang gunakan trik pelan-pelan, dan biarkan saja aku yang melakukan, tapi kamu tetap nekat melakukannya sendiri," ucap Tomi yang juga marah karena Dinda semaunya.
"Jadi kamu menyalahkan aku, sedangkan kamu saja mana usaha kamu mana! kamu terlalu lambat Tomi." Setelah bicara Dinda mau melangkah pergi, bicara dengan Tomi hanya membuatnya makin kesal tidak mendapat solusi.
"Kamu masih saja tidak mau disalahkan, bagaimana bila tindakan kamu ini membuat kamu di pecat, apa kamu tidak berpikir sejauh itu!"
Deg!
__ADS_1
Dinda seketika menghentikan langkahnya, tangannya terkepal, mau menyangkal juga apa pun yang Tomi ucapkan ada benarnya, bahkan Merry saja tadi sudah mengatakan akan melaporkan Dinda supaya dipecat.
Dinda kembali berjalan tanpa menoleh ke belakang, Tomi membanting majalah yang ada di atas meja kerjanya dengan keras, sampai membuat kertas-kertas di atas meja bertebaran jatuh ke lantai.