Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 82. Kania.


__ADS_3

Tomi yang tiba-tiba datang ke sebuah mansion yang besar, dianggap sebagai penyusup oleh orang penjaganya.


Di mansion itu banyak sekali orang-orangnya, bukan tanpa alasan Tomi datang ke tempat ini, tentu ia mau meminta pertolongan orang hebat yang bisa membantu Tomi untuk membunuh Valentino.


Ternyata rasa sakit hati Tomi melekat dalam hati hingga berniat untuk balas dendam.


"Hei, lepaskan aku! Aku bukan musuh kalian!" teriak Tomi saat tangannya dipegang kuat oleh pria bertubuh kekar berpakaian hitam.


"Apa kau pikir kami bodoh! Kami akan membawa kau bertemu Tuan kami!" Salah satu pria itu bicara kasar.


"Terserah malah aku senang bisa langsung bicara dengan dia," jawab Tomi, kali ini membiarkan dua pria itu memegangi tangannya seperti tahanan, toh ahirnya akan dibawa bertemu dengan orang yang ingin Tomi temui.


Mereka terus berjalan menuju ruang sang Tuan yang berada di lantai tiga, sampai di sana dan setelah membuka pintu ruang sang Tuan, Tomi langsung dilempar sampai jatuh ke lantai dengan tersungkur.


Sialan mereka memperlakukan aku tidak manusiawi, awas saja nanti, maki Tomi dalam hati seraya melirik tajam dua pria yang mendorongnya tadi.


Tomi mengangkat wajahnya menatap ke depan, seketika ia melihat seorang pria berwajah tampan, aura dingin serta tatapan menusuk menatap kearahnya.


Tomi mau berdiri, namun dengan segera pria bertubuh kekar menahan Tomi untuk tetap tertunduk di lantai.


Sial! mereka pikir aku mau menyembah, maki Tomi dalam hati lagi, ahirnya Tomi mengikuti perintah mereka.


"Jordan, apa kau masih ingat dengan aku."


Kalimat pertama yang Tomi ucapan seketika membuat pria yang saat ini duduk di singgasana seperti sedang mengingat sesuatu.


"Aku tidak ingat dengan kamu," jawab pria dingin itu.


Ah sial, umpat Tomi lagi.


Tomi menghela nafas berat menahan kekesalan. "Aku adalah Tomi, apa kau masih ingat di masa sekolah dulu, aku pernah menolong mu, dan kau berjanji bahwa suatu hari akan membalas budi. Dan sekarang aku datang kemari untuk menagihnya."


Jordan tersenyum menyeringai. "Kau minta bantuan apa." Kalimat pertanyaan tapi terdengar kalimat perintah untuk segera mengatakannya.


"Sebelum aku bercerita ijinkan aku berdiri, karena ini sangat penting." Tomi mencoba negosiasi.

__ADS_1


Jordan mengangkat tangannya.


Tomi langsung berdiri, sebelum berjalan mendekati Jordan, Tomi menoleh ke belakang tersenyum sinis ke arah pria berbadan kekar itu.


Tomi berjalan ke depan, duduk di kursi tepat di depan Jordan dengan meja sebagai pembatas.


Tatapan Jordan semakin tajam ke arah Tomi, Jordan tidak suka berbelit-belit, dan Tomi yang paham dengan tatapan tajam Jordan hanya mengumpat dalam hati.


Sekarang ia miskin tidak punya uang semua orang bersikap semaunya, dulu saat banyak uang semua orang memujanya. Begitulah arti helaan nafas Tomi sebelum ahirnya bicara.


"Aku mau kau membantu aku menghabisi orang ini." Tomi menunjukan foto Valentino ke Jordan.


Saat melihat foto tersebut, mata Jordan terbelalak lebar, kemudian menatap Tomi penuh rasa ingin tahu, kenapa bisa Tomi memusuhi Valentino. Yang sebenarnya adalah musuh besarnya selama ini.


"Ceritakan apa masalah kamu dengan dia." Jordan meremat foto Valentino.


"Karena dia menikahi mantan istri aku, gara-gara dia aku gagal balikan lagi sama mantan istri aku. Aku mau menghabisi dia dengan kedua tanganku. Dan setelah itu aku akan mengambil kembali mantan istriku," jelas Tomi yang sekalian curhat.


Jordan tidak minat mendengar curhatan Tomi yang mau mengambil mantan istrinya, Jordan hanya tertarik ingin tahu informasi mengapa sampai bisa Valentino menikah.


Ya, Jordan adalah pria yang membuat hubungan Ervina dan Valentino menjadi kata perpisahan. Dan saat itu Ervina milih bersama Jordan karena Jordan bisa memuaskan hasratnya, sedangkan Valentino pria itu tidak mau menyentuhnya karena selalu berkata ingin menjaga Ervina. Ternyata hal itu membuat Ervina bosan dan muak yang ahirnya milih menjalin hubungan dengan Jordan.


Jordan menjentikkan jarinya, salah satu pria berbadan kekar berjalan mendekat, Jordan membisikkan sesuatu pada pria itu, kemudian pria itu pergi dari sana bersama temannya yang tadi, kini di ruangan tersebut hanya tinggal Jordan dan Tomi.


"Tadi kau ingin menghabisi Valentino dengan tanganmu sendiri, ikut aku sekarang supaya keinginanmu itu terwujud." Jordan berdiri berjalan ke arah pintu, Tomi mengikuti langkah pria itu dari belakang.


Mereka menuju tempat yang berada di lantai satu, selama berjalan di belakang Jordan, Tomi toleh-toleh melihat mansion yang besar itu, sampai ahirnya langkah kaki mereka tiba di sebuah tempat berlatih.


"Kau harus berlatih ilmu bela diri dan beberapa senjata bersama dia ... Miko."


Tomi menyetujui saran dari Jordan, Tomi ingin lebih kuat dari Valentino pada waktu itu, Tomi masih kesal dan marah saat mengingat dadanya diinjak sampai berasa mau mati.


"Miko, kau ajari dia," ucap Jordan pada orang kepercayaannya itu.


"Baik Tuan," jawab Miko.

__ADS_1


Jordan meninggalkan tempat berlatih.


Tomi dan Miko sudah bersiap untuk berlatih, ternyata Tomi begitu lemah menurut Miko, setelah berlatih Tomi berkali-kali ambruk ke lantai karena terkena tendangan.


Seperti saat ini Tomi ambruk lagi.


Bugh.


Brukk!!


Sialan jika begini terus aku kan mati, batin kesal Tomi.


Tomi bangkit lagi dan sekarang mulai fokus saat mau mendapat tendangan dari Miko, mereka terus berlatih sampai tidak kenal waktu, hingga sore hari masih berlanjut sampai malam hari.


Di dalam ruang kerja Jordan, saat ini pria itu sedang membaca berkas hasil penyelidikan mengenai Valentino yang kini menikah dengan Amanda.


Jadi wanita itu namanya Amanda, gumam Jordan.


Saat ini Jordan makin penasaran ingin melihat wanita yang namanya Amanda, wanita yang sampai membuat Valentino menikah, wanita yang membuat Valentino menghapus nama Ervina wanita yang sangat Valentino cintai.


Jordan bersama anak buahnya malam ini menyusun sebuah rencana, niat hati memang mau membantu Tomi, tapi Jordan memiliki rencana lain tanpa Tomi ketahui.


"Laksanakan malam ini!" perintah Jordan dengan suara terdengar sangat dingin.


"Baik Tuan," jawab mereka serempak, saat ini ada empat anak buahnya yang berada di ruangan tersebut.


Mereka berempat pergi dari sana, menyisakan Jordan seorang diri.


Setelah kepergian mereka, Jordan auranya berubah semakin dingin lebih dari sebelumnya.


"Kania tidak akan pernah mati, andai saat itu dia tidak milih tertabrak mobil hanya demi menyelamatkan kamu, pria yang Kania cintai tapi kau selalu menyakiti Kania," ucapnya dengan marah.


"Jangan harap kau akan bahagia, aku akan mengambil yang menjadi kebahagiaan mu," ucapnya lagi sembari menggebrak meja.


Ya, permusuhan mereka berawal setelah kematian Kania adik Jordan yang sangat mencintai Valentino. Namun Valentino tidak mencintai Kania.

__ADS_1


__ADS_2