Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 77. Segudang solusi.


__ADS_3

Dua hari berlalu, keadaan Mommy Vio pagi ini sudah lebih baik, baru saja dokter memeriksa keadaan Mommy Vio, dan mengatakan sudah boleh pulang hari ini.


Dan selama dua hari ini, Amanda tidak masuk kerja, Amanda menemani Mommy Vio, apa bila ada pekerjaan kantor yang harus segera mendapat tanda tangan Amanda, maka Merry datang ke rumah sakit.


Amanda saat ini membereskan barang Mommy Vio, menginap dua hari membuat barang Mommy Vio tidak terlalu banyak, hanya ada satu tas kecil.


Tidak lama kemudian Valentino datang bersama satu pelayan, untuk membawa barang milik Mommy Vio.


Amanda memeluk Valentino saat pria itu datang, Valentino menghujani kecupan di wajah Amanda.


Mommy Vio tersenyum kecil melihat keromantisan mereka berdua.


Valentino beralih mendekati Mommy Vio. Mommy Vio menyambut Valentino datang dan memeluk putranya.


"Mom, hari ini Mommy pulang jangan sakit-sakit lagi ya?" pinta Valentino dengan suara lembut masih memeluk Mommy Vio.


Mommy Vio melerai pelukannya dan berganti mencium kening Valentino.


Karena semua sudah siap, Valentino membantu Mommy Vio untuk duduk di kursi roda.


Amanda mendorong kursi roda Mommy Vio, Valentino berjalan lebih dulu menyiapkan mobil, di sebelah Amanda berjalan ada pelayan yang membawa tas berisi barang Mommy Vio.


Tiba di parkiran mobil, Valentino membantu Mommy Vio untuk masuk ke dalam mobil, yang kemudian di susul Amanda juga pelayan.


Setelah semua masuk ke dalam, tanpa ada yang tertinggal, Valentino menjalankan mobilnya, bibirnya tersenyum saat melirik kaca mobil melihat Amanda di belakang sana sedang memeluk Mommy Vio.


Ternyata aku tidak salah memilih istri, dia begitu perhatian dan menyayangi Mommy ku, batin Valentino sembari mengemudikan mobil.


Di rumah utama.


Para pelayan sudah bersiap untuk menyambut Nyonya besar pulang dari rumah sakit, kamar Mommy Vio sudah dibersihkan, di dapur juga sudah disiapkan obatan herbal.


Dan saat mendengar suara deru mobil memasuki pelataran rumah, para pelayan langsung keluar. Menyambut kedatangan mereka.


Menunduk hormat saat Amanda juga Mommy Vio dan Valentino berjalan mau memasuki rumah.


Sampainya di dalam kamar, Mommy Vio langsung berbaring di atas ranjang, salah satu pelayan masuk membawa obatan herbal.


Mommy Vio meminumnya sedikit kemudian membawa tubuhnya tiduran lagi, keadaannya memang sudah lebih baik, tapi Mommy Vio masih merasa lemas.

__ADS_1


Amanda duduk di pinggiran ranjang sembari memijit kaki Mommy Vio, sampai Mommy Vio tertidur, Amanda baru beranjak pergi dari sana.


Amanda masuk ke dalam kamarnya, di dalam sana tidak menemukan Valentino, Amanda pikir mungkin Valentino ada di ruang kerja. Amanda bergegas untuk mandi.


"Yang, sayang." Valentino memanggil Amanda saat baru saja masuk ke dalam kamar. Valentino tidak melihat Amanda, namun samar-samar mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi.


Ternyata dia sedang mandi, gumamnya sembari duduk di sofa untuk menunggu Amanda.


Tidak lama kemudian, Amanda keluar dari dalam sana, menggunakan handuk kimono dan rambutnya yang basah Amanda bungkus dengan handuk kecil.


Valentino menoleh kini mata mereka bertemu dan saling melempar senyum.


"Tadi dari mana?" tanya Amanda berjalan mendekat.


"Dari ruang kerja," jawab Valentino sembari menepuk pahanya.


Amanda yang paham kode Valentino langsung duduk di pangkuan pria itu. Dan seketika Valentino melingkarkan tangannya di pinggang Amanda.


Valentino mencium aroma sabun yang menempel di kulit Amanda, menenggelamkan wajahnya di leher Amanda.


Amanda mencubit pinggang Valentino untuk menghentikan aksinya.


"Sakit sayang," keluh Valentino yang kemudian mencium pipi Amanda.


"Aku berangkat kerja sekarang, jaga diri baik-baik di rumah," ucap Valentino setelah selesai ciumannya.


Amanda mengangguk cepat, menjawab cepat lebih baik, supaya Valentino segera pergi pikirnya. Apa bila masih di rumah, Amanda tidak yakin bisa keluar kamar, mengingat Valentino mirip seperti bayi yang maunya nempel-nempel.


Valentino melepas pelukannya di pinggang Amanda, setelah Amanda berdiri Valentino menyusul berdiri juga.


Sebelum Valentino benar-benar keluar dari dalam kamar, Amanda melambaikan tangan yang dibalas dengan kiss bye.


Amanda tergelak tawa melihat tingkah Valentino.


Tibanya sore hari, Amanda membuat bubur untuk Mommy Vio, karena Mommy Vio belum selera makan dengan nasi, dan Amanda berinsiatif membuatkan bubur.


Saat ini Amanda dibantu oleh pelayan, saat Amanda menoleh merasa asing dengan wajah pelayan itu.


"Mbak baru disini?" tanya Amanda karena penasaran jadi milih bertanya.

__ADS_1


"Iya Nyonya, kemarin saya datang kemari," jawabnya sembari menunduk hormat.


Amanda manggut-manggut. "Sudah biasa kerja?" tanya Amanda lagi, karena apa bila dilihat dari begitu cekatannya, pelayan itu seperti sudah biasa melakukan pekerjaan rumah tangga.


"Iya Nyonya, saya sudah biasa."


Amanda melanjutkan pekerjaannya lagi, dan kemudian membiarkan pelayan itu mengerjakan tugas yang lain.


Tiga puluh menit, bubur buatan Amanda sudah jadi, Amanda segera menuangkannya ke dalam piring, kemudian meletakkannya di atas nampan, Amanda membawa ke kamar Mommy Vio beserta air putih juga.


Sampai di dalam kamar Mommy Vio, ternyata sudah bangun, Mommy Vio baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Mom, ini buburnya," ucap Amanda sembari menaruh nampan di atas meja.


Mommy Vio naik ke atas ranjang duduk di sana, tersenyum melihat Amanda. "Kenapa harus repot-repot buat bubur," bicara lembut.


"Manda ingin Mommy segera sembuh," ucapnya tulus.


"Terimakasih sayang," balas Mommy Vio.


Amanda mengambil piring isi bubur itu dan mulai menyuapi Mommy Vio. Dari satu suap hingga suapan terakhir, Amanda memberikan air minum.


Setelah Mommy Vio selesai minum, Amanda memberikan tisu, kemudian berdiri mengembalikan piring kotor ke dapur.


Tidak berselang lama Amanda sudah kembali, dan langsung duduk di pinggiran ranjang.


"Bagaimana keadaan Mommy saat ini? Apa lebih baikan?" tanya Amanda penuh harap Mommy Vio segera sembuh.


Mommy Vio tersenyum dan mengangguk kecil.


"Amanda senang mendengarnya Mom." Amanda tersenyum.


Mommy Vio membalas senyuman itu. "Kamu masih ingat kan, pesan Mommy. Jangan menunda."


Mendengar kembali Mommy Vio bicara mengenai hal tersebut, Amanda jadi merasa bersalah, entah apa yang harus dilakukan, saat ini Amanda hanya mampu menjawab dengan anggukan kepala.


Amanda akan mempersiapkan sepenuh hatinya, sadar juga ini adalah kewajibannya yang belum dilakukan.


Setelah menemani Mommy Vio sampai wanita itu tertidur, Amanda kembali masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Amanda berjalan menuju jendela melihat ke arah luar yang sudah mulau gelap, bertanda akan berganti malam.


Amanda butuh teman untuk bisa ia ajak bicara, dan setelah meyakini keputusannya, besok Amanda berencana akan bertemu Jihan, teman yang memiliki segudang solusi.


__ADS_2