
Saat ini Amanda dan Merry sedang berada di dalam mobil yang sedang melaju, Merry yang sebagai pengemudinya menatap Amanda melalui kaca mobil, di belakang sana Amanda tampak melamun tanpa tahu apa yang Amanda pikirkan.
Tapi wajah gelisah itu membuat Merry penasaran, dan ahirnya milih bertanya.
"Apa Nyonya baik-baik saja?" tanya Merry menoleh ke belakang sekilas kemudian fokus mengemudi lagi.
Mendapat pertanyaan dari sekertaris nya membuat Amanda menatap ke depan di mana Merry sedang duduk di kursi kemudi.
Apa aku harus ceritakan sama Merry, tapi bagaimana jika teror ini terus berlangsung dan sampai membunuh aku, ya Tuhan kenapa di dunia ini ada teror begitu menyeramkan seperti di film-film action, keluh Amanda dalam hati yang seketika merasa pusing.
Tidak bisakah membuat aku tenang sejenak menikmati hidup ini, batin Amanda lagi dengan wajah semakin cemas.
Merry yang melihat wajah Amanda dari kaca mobil fik Merry paham bahwa saat ini Amanda sedang miliki masalah yang belum Merry ketahui.
Ahirnya Merry mendengar suara helaan nafas panjang sebelum ahirnya Amanda bicara.
"Semua terjadi sejak semalam, saat aku pulang dari klub malam aku menemukan sebuah kotak di depan pintu apartemen aku." Amanda menghela nafas panjang lagi sebelum lanjut bicara, "Ternyata di dalamnya adalah sebuah surat dan saat aku baca isinya adalah surat ancaman."
"Ancaman," ulang Merry cepat campur terkejut juga.
"Ada yang meneror aku, tapi aku belum tahu siapa dan tadi-." Amanda menjeda ucapannya, mengingat kejadian di restoran tadi. "Tiga kecoa di piring aku juga adalah kiriman dari teror, karena aku mendapatkan pesan masuk ancaman dari nomor asing yang tiba-tiba masuk di ponsel aku."
Merry mencekal kuat setir mobil disertai aura yang berubah dingin, penjelasan Amanda barusan membuat Merry geram campur marah.
Mungkin bagi Merry Amanda kurang paham maksud teror itu, yang hanya sekedar menggertak tidak akan sampai membunuh tapi apa bila dibiarkan bisa membuat orang yang diteror depresi.
Merry tentu paham hal beginian karena dulu Merry pernah gabung anggota mafia tapi hanya satu tahun, setelah Merry berhasil menyelesaikan misi ahirnya dibebaskan karena itu kesepakatan yang Merry minta.
"Nyonya tidak usah takut, saya akan bantu Nyonya untuk segera menemukan pelaku teror itu."
Amanda mengangguk mendengar ucapan Merry barusan, sekarang sudah lebih tenang tidak secemas tadi.
__ADS_1
Merry kembali fokus mengemudi, sedangkan Amanda bersandar di kursi belakang dengan segala pikiran yang terus bertanya dan menduga-duga.
Apa ini ada kaitannya dengan Tomi? Apa bila iya memang apa motif dia itu, sepertinya aku harus menemui Tomi, batin Amanda.
Tidak lama kemudian mobil sampai di perusahaan, Amanda dan Merry bersama-sama masuk ke dalam.
Sampainya di ruang kerja, Amanda menghubungi Tomi, seketika pria itu senang saat mendapat telepon dari Amanda yang mengajak bertemu.
Tiga puluh menit kemudian.
Amanda menunggu Tomi datang di Cave sebelah perusahaannya, Amanda yang saat ini sedang duduk di salah satu kursi pengunjung, mampu melihat Tomi yang baru menyembul dari pintu masuk.
Wajah pria itu tersenyum sumringah yang terus berjalan menghampiri Amanda.
Dih! Umpat Amanda yang melihat senyum Tomi yang sok ramah.
"Kamu ngapain meneror aku," ucap Amanda to the poin dengan suara dingin setelah Tomi duduk.
"Apa maksudmu Amanda." Tomi menatap bingung.
Tomi semakin tidak mengerti ucapan Amanda yang tiba-tiba bicara asal menurut Tomi, dan tadi apa? Teror, Amanda menuduhnya meneror.
Tomi menggeleng mencoba meyakinkan Amanda. "Amanda aku memang jahat sama kamu, tapi aku tidak mungkin sejahat itu sampai meneror kamu."
"Oh ya," jawab Amanda santai. "Tapi aku tidak percaya, aku yakin kamu pelakunya!" Kini nada bicara Amanda tegas serta aura lebih serius.
"Terserah kamu mau bicara apa yang pasti aku tidak melakukannya," bela Tomi pada diri sendiri.
"Sampai aku tahu kau adalah pelakunya, ingat Tomi kali ini aku tidak akan main-main! Akan aku masukkan kau ke jeruji besi!" bentak Amanda dengan marah seraya menunjuk wajah Tomi.
Amanda kemudian pergi dari sana meninggalkan Tomi dalam kekesalan, tadi saat mau datang kemari Tomi sudah bahagia, tapi nyatanya sampainya bertemu Amanda hanya di tuduh sebagai teror. Tomi menggebrak meja melampiaskan kekesalannya. Yang tidak lama kemudian ikutan pergi dari sana.
__ADS_1
Amanda yang saat ini sudah kembali di perusahaan dan sudah berada di ruang kerjanya, tampak sedang memijit pelipisnya.
Tiba-tiba suara dering ponsel menarik perhatian Amanda, saat melihat siapa yang nelpon ternyata nama yang tertera di layar hp nya adalah Valentino. Amanda mengangkat telepon itu.
"Nanti malam bisa bertemu di restoran xx," ucap Valentino di sambungan telepon.
"Bisa," jawab Amanda.
"Aku tunggu," ucap Valentino di sambungan telepon lagi yang kemudian telepon dimatikan.
Amanda menghela nafas panjang setelah sambungan telepon mati, Amanda melanjutkan kerjanya sampai tiba sore hari, dan setelah jam kerja selesai Amanda bersama karyawan yang lain pulang.
Setelah Amanda sampai di apartemen, beristirahat lebih dulu, tiga puluh mint Amanda baru mau mandi dan sekalian bersiap karena malam ini akan bertemu Valentino.
Tiga puluh kemudian Amanda sudah rapi dan sudah siap mau berangkat sekarang. Amanda keluar dari apartemen sendiri dan hanya pergi menggunakan taksi online.
Saat ini Amanda sudah dalam perjalanan, dua puluh menit kemudian mobil sudah sampai restoran yang Valentino kirimkan alamatnya.
Setelah membayar tagihan Amanda segera masuk ke dalam, sampainya di ambang pintu masuk ada seseorang yang menghampiri Amanda, yang sebelumnya sudah melihat foto Amanda jadi mengenali wajah yang baru masuk ini adalah Amanda.
Orang tersebut mengantar Amanda menuju sebuah ruangan eklusif, Amanda mengikuti saja tanpa banyak bertanya.
Sampainya di dalam ruangan tersebut seketika Amanda mencium wangi lilin aroma terapi, namun matanya tidak melihat siapa pun di ruangan ini, sedangkan orang yang mengantar Amanda tadi langsung pergi.
Amanda berjalan menuju kursi sofa, baru saja Amanda duduk di kursi sofa tiba-tiba mendapati lampu mati namun dalam waktu bersamaan berganti lampu hias serta lilin-lilin yang menyala, suasana ruangan ini jadi tampak romantis.
Di pintu masuk Amanda melihat seorang pria berdiri tegap yang kemudian berjalan ke arahnya yang diikuti seseorang di belakangnya yang sedang memainkan musik biola yang indah.
Valentino duduk dengan gelaran elegan, malam ini Amanda melihat Valentino seperti tampil beda, apa bila biasanya sudah tampan malam ini lebih tampan menurut Amanda, sejenak Amanda terhipnotis.
Sampai seorang pelayan datang mengantarkan minuman dan makanan, Amanda memutus pandangan itu.
__ADS_1
Di balik penampilannya yang luar biasa keren dan wajah tampan Valentino malam ini, telapak tangan pria itu kini sudah basah merasakan gugup yang luar biasa, malam ini Valentino akan melamar Amanda dan menyatakan cinta pada wanita itu, tapi kata-kata yang sudah ia susun rapi bersama sekertaris Son kini mendadak lupa.
Ah sial! umpat Valentino merutuki ingatannya yang mendadak blank.