
Amanda sedang fokus dengan laptop di depannya, namun tiba-tiba mendapat telepon berupa Vidio call. Amanda tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Valentino, gumamnya sembari menggeser simbol hijau yang kemudian mengarahkan kamera ke wajahnya. Seketika Amanda bisa melihat Valentino di seberang sana yang saat ini sedang duduk bersantai di kursi sofa. Yang sedang tersenyum manis.
"Kamu udah selesai kerjanya?" tanya Amanda saat melihat Valentino bersantai.
"Belum." Valentino mengganti kamera belakang, dan seketika Amanda melihat tumpukan file-file di atas meja kerja Valentino.
"Kenapa tidak diselesaikan? Nanti numpuk banyak malah jadi malas," nasehat Amanda, tapi mendapat jawaban Valentino yang menggelikan.
"Aku tidak konsentrasi kerja kalau belum melihat wajah kamu." Di seberang sana Valentino tertawa.
Amanda menyebikkan bibirnya.
Tawa Valentino berhenti kini berganti serius.
"Nanti malam temani aku ya ke pesta kolega bisnis aku," pinta Valentino penuh harap.
Amanda menunjukan wajah malas. "Gimana ya?"
"Ayo lah ... Aku tidak mood mau berangkat sendiri," bicara manja.
Amanda tampak berpikir, di seberang sana jantung Valentino berdebar-debar takut jawaban Amanda sebuah penolakan.
Amanda melihat kamera hp lagi, di sana Amanda melihat wajah Valentino yang memelas, malah terlihat lucu di mata Amanda.
"Baiklah aku mau."
"Yes! peluk cium dari jauh ya, bye." Valentino memutus sambungan telepon dengan bahagia.
Amanda menggelengkan kepala seraya meletakkan hp nya lagi di atas meja.
Amanda melanjutkan lagi pekerjaannya, sampai tiba pukul tiga sore, semua pekerjaan Amanda sudah selesai.
Merry masuk ke ruang kerja Amanda.
"Nyonya ada yang mau saya sampaikan."
Amanda langsung bangkit menuju kursi sofa yang panjang, mengajak Merry ngobrol santai di sana.
"Ada apa?" tanya Amanda setelah mereka duduk.
Wajah Merry makin serius." Nyonya saya mendapat tawaran kerja sama dengan perusahaan xx, dan ini proposal yang diajukannya, silahkan Anda baca." Merry menyerahkan proposal tersebut.
Amanda meraih proposal tersebut dan mulai membacanya, setiap lembar yang Amanda baca menunjukan wajah keseriusannya. Sampai selesai yang Amanda baca, menutup kembali proposal tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menerima kerja sama ini, pengajuan proposalnya belum sempurna, perusahaan kita tidak boleh asal sembarang menerima kerja sama," jelas Amanda yang membuat Merry langsung mengerti.
"Bawa lah proposal itu ke meja kerjamu, setelah itu ikut aku."
Merry mengangguk sebelum ahirnya pergi dari sana.
Tidak berselang lama Merry sudah kembali lagi, Amanda langsung bangkit dari duduknya berjalan sembari menyambar jas nya yang ia gunakan sembari berjalan.
Mereka saat ini keluar dari perusahaan, Merry hanya mengikuti tanpa banyak bertanya mau pergi ke mana.
Setelah berada di dalam mobil, Amanda memerintahkan untuk menuju sebuah butik. Tapi bukan butik miliknya melainkan butik milik temannya.
Merry segera menjalankan mobilnya.
Di dalam perjalanan, Amanda mendapat pesan masuk lagi dari Valentino, pria itu lagi-lagi mengatakan kangen.
Merry yang tanpa sengaja melihat ke kaca mobil dan menangkap wajah Amanda di belakang sana yang senyum-senyum sendiri, hatinya merasa bahagia.
Nyonya terlihat bahagia dengan pernikahan yang sekarang, batin Merry.
Manda masih terus berbalas chat dengan Valentino sampai tidak terasa mobil sudah sampai di tempat tujuan.
"Nyonya kita sudah sampai." Merry memberitahu.
Amanda mengangkat wajahnya menatap ke depan. "Baiklah," jawabnya yang kemudian menyudahi chattingan dengan Valentino.
"Amanda ...."
"Eren ...."
Teriak mereka berdua bersamaan sebelum ahirnya berpelukan, sudah lama sekali mereka tidak bertemu, dan sekarang bisa melepas rindu.
"Ayo masuk ke dalam," ajak Eren setelah melerai pelukannya.
Amanda masuk ke dalam ruangan Eren, sementara itu Merry hanya duduk di kursi tunggu yang ada di dalam butik tersebut.
"Tumben datang ke sini ada apa?" tanya Eren sudah tidak sabaran ingin tahu jawaban Amanda.
"Aku mau membeli salah satu gaun mu, untuk acara pesta nanti malam bersama suami aku," terang Amanda yang langsung mendapat senyum godaan Eren.
"Cie ... yang baru nikah mau jalan-jalan ke pesta." Eren tertawa, Amanda juga ikutan tertawa.
"Sudah buruan ambilkan gaun nya, aku tidak butuh lama karena ini sudah sore," pinta Amanda setelah tawa itu henti.
"Iya, tunggu sebentar. Aku sepertinya ada gaun cantik yang cocok sama kamu," ucap Eren sembari berdiri.
__ADS_1
Eren berjalan menuju gaun pesta hasil rancangannya, yang tadi Eren katakan cocok untuk Amanda.
Gaun itu masih sisa dua warna, yaitu merah dan Salem, dua warna itu Eren bawa untuk ditunjukan ke Amanda.
"Kamu pilih yang warna mana?" tanya Eren setelah berdiri di depan Amanda seraya menunjukan warna gaun itu.
Amanda mengamati sebelum ahirnya memutuskan. "Aku coba yang warna salem dulu."
Amanda berdiri mengambil yang warna salem kemudian Amanda coba di ruang ganti.
Beberapa saat kemudian Amanda keluar, Eren yang melihat Amanda memakai gaun itu terpesona melihat kecantikannya.
"Wow, perfek." Eren mendekati Amanda, merapihkan rambut Amanda yang panjang, memutar tubuh Amanda.
"Cocok banget, kamu sangat cantik pakai gaun ini," ucapnya dengan tersenyum.
"Baiklah aku bungkus yang ini saja." Amanda kembali masuk ke ruang ganti melepas gaun pesta itu, setelah keluar dari sana menyerahkan ke Eren untuk di bungkus.
Saat itu juga Amanda melakukan transaksi, gaun seharga tiga puluh lima juta.
Eren menyerahkan paper bag itu ke tangan Amanda.
"Aku pergi," ucap Amanda seraya melambaikan tangan ke arah Eren.
Keluar dari ruang Eren, Amanda langsung mengajak Merry menuju mobilnya.
Amanda langsung meminta diantar pulang. Saat ini sudah pukul lima sore, tidak terasa di sana ngobrol-ngobrol ternyata memakan waktu lama.
Tiga puluh menit, mobil sudah sampai di rumah utama.
Amanda mengijinkan Merry untuk langsung pulang. Sementara itu Amanda langsung masuk ke dalam rumah, dan segera menuju lantai tempat kamarnya berada.
Sampai di dalam kamar, Amanda segera mandi, Amanda ingin berendam untuk menghilangkan rasa lelah.
Aroma terapi yang Amanda campur ke dalam air, membuat Amanda merasa nyaman juga tenang.
Sampai tiga puluh menit Amanda berendam, dan setelah merasa cukup Amanda membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower.
Setelah selesai Amanda langsung keluar namun sebelumnya sudah menggunakan handuk kimono.
Baru saja langkah kakinya menginjak lantai kamar, Amanda dikagetkan dengan kedatangan Valentino.
Valentino tertawa melihat Amanda terkejut.
Plak! Amanda memukul lengan Valentino dengan gemas. "Kau mengagetkan aku," bicara kesal.
__ADS_1
Valentino tidak peduli dengan ocehan Amanda, dengan gerakan cepat Valentino menarik Amanda masuk ke dalam pelukannya.
Valentino mencium lembut bibir Amanda, bibir yang tadi bicara ngomel, Valentino gemas tidak bisa apa bila tidak menciumnya.