
Kertas yang jatuh ke lantai Tomi punguti lagi lalu dirinya buang ke tong sampah, bibirnya masih mengoceh menyalahkan Dinda yang ceroboh, tiba-tiba terdengar dering ponsel di atas meja kerjanya, Tomi langsung menghampiri dan mengangkat.
"Terimakasih, saya akan pulang sekarang," jawab Tomi yang entah membicarakan apa orang di sambungan telepon.
Tomi mematikan ponselnya, dan menggenggam hp di tangannya begitu kuat sampai sedikit retak, sudah marah dibuat Dinda, kini Tomi makin marah setelah mendengar kabar yang di dapat barusan.
Tanpa pikir panjang lagi, Tomi segera keluar dan menuju pulang.
Saat ini Amanda baru saja sampai di rumah, badan terasa sangat lelah, Amanda duduk di pinggir ranjang seraya meregangkan otot-ototnya.
"Kopernya letakkan di situ saja, Bik." Amanda menunjuk pojokan sebelah almari. Pembantunya meletakkan sesuai perintah Amanda, dan setelah itu pamit ijin pergi.
Amanda kemudian membersihkan diri lebih dulu, setelah selesai mandi menggunakan baju rumahan, dan langsung rebahan di atas ranjang.
Amanda kemudian teringat sesuatu, Amanda mengecek CCTV di rumah ini, selama dirinya pergi Tomi tidak mengajak wanita masuk ke dalam rumah, Amanda menarik nafas lega, tapi bukan berarti tidak mencurigai Tomi.
Amanda membutuhkan teh hangat, kemudian menelpon pembantunya untuk mengantar teh hangat ke kamarnya.
Amanda sedang memeriksa kopernya, ada sesuatu yang dirinya bawa dari Amerika, tentu itu penting untuk memudahkannya menguak kejatahan Tomi.
Pintu kamar dibuka, Amanda mengira adalah pelayannya yang masuk.
"Teh hangatnya diletakkan di atas meja saja ya, bik." Bunga matanya masih fokus dengan isi koper, tidak melihat siapa yang masuk ke dalam kamar.
"Bangun!"
Ah!!
Tomi mencekal rahang Amanda dengan begitu kuat, dan menarik Amanda untuk berdiri. "Kamu bisanya pergi dari rumah tidak minta ijin sama aku, hah!"
Tomi saat ini sangat marah, matanya menatap tajam Amanda dan semakin kuat mencengkram rahang Amanda.
Amanda menginjak kaki Tomi, dan seketika Tomi melepaskan Amanda berganti dirinya mengaduh sakit.
"Apa kmu lupa, saat aku pergi kau masih tidur, dan kau adalah orang yang paling tidak suka diganggu bila saat tidur, kenapa kau menyalahkan aku, salahkan saja dirimu!" Amanda mengibaskan tangan berlalu dari depan Tomi.
Tomi makin tidak terima saat melihat Amanda melawan.
"Mau kemana kau!" Tomi meraih tangan Amanda lalu mendorongnya sampai membentur dinding.
Ah! Brukk!
"Amanda! kenapa sekarang kamu jadi keras kepala, hah! kenapa kamu melawan aku!"
__ADS_1
Plak!
Plak!
Dua kali Tomi menampar pipi Amanda, Amarahnya sudah tidak bisa lagi dibendung, Amanda yang sudah merasa benci dengan Tomi makin benci, tidak terima dirinya di tampar begitu saja, tubuhnya sangat berharga bila hanya sekedar disakiti.
Plak!
Plak!
Amanda balas dua kali juga menampar Tomi. "Jangan kamu kira aku akan diam saja menerima perlakuan kasar kamu!" Amanda menunjuk wajah Tomi dengan suara berapi-api.
"Sialan!" Tomi mendorong tubuh Amanda sampai membentur dinding.
Ah! Pekik Amanda seketika rasanya remuk tubuhnya didorong Tomi dengan begitu kuat, saat melihat Tomi mau mendekati dengan wajah tidak terbaca, Amanda menendang perut Tomi hingga Tomi terhuyung kebelakang.
Bugh!
Ah! Tomi terhuyung kebelakang.
Amanda langsung berusaha berlari di saat Tomi memegangi perutnya, dan bersamaan itu pintu dibuka oleh bibi.
Krekk!
"Nyonya."
Bibi melihat tuannya di dalam sana, matanya terlihat marah, sedangkan nyonyanya terlihat ketakutan.
Tomi yang melihat Amanda saat ini sedang bersama Bibi, pria itu tidak menegur Amanda lagi, hanya melirik dengan tatapan tajam.
Amanda memegang kuat tangan sang bibi, menatap punggung Tomi yang terus berjalan menjauh.
"Nyonya tenanglah, mari masuk ke dalam." Bibi mengajak Amanda masuk ke dalam kamar, Amanda menurut.
"Minumlah teh hangat ini Nyonya supaya Nyonya lebih tenang." Bibi memberikan segelas teh hangat, Amanda menerima teh hangat itu dan menyuprutnya pelan-pelan.
Kini keduanya sudah berada di dalam kamar, Amanda duduk di pinggir ranjang.
"Nyonya, bibi ambilkan air hangat ya untuk mengompres luka yang ada di bibir Nyonya."
Amanda baru tahu bila ternyata bibirnya saat ini tengah terluka, itu semua pasti akibat tamparan keras Tomi.
Amanda menjawab dengan anggukan kepala, Bibi turun ke bawah untuk mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres.
__ADS_1
Aku tidak menyangka Tomi bisa berubah semerikan itu, aku hampir tidak mengenali bila itu adalah Tomi suami aku, bahkan aku hampir mati ditangannya tadi.
Amanda terus melanjutkan meminum teh hangat, sedikit lebih tenang saat ini, sembari berpikir tentang cara menghadapi Tomi.
Bila Tomi terus-menerus seperti ini aku tidak bisa diam saja, aku juga harus bisa ilmu bela diri, karena aku tidak mau mati konyol lagi karena tidak bisa melawan Tomi.
Amanda memantapkan diri akan belajar ilmu bela diri, Amanda mengingat Sekertarisnya Merry yang ahli ilmu bela diri.
Amanda mengambil hp nya lalu menghubungi Mery.
"Hai Merry, apa kah siang ini kamu bisa datang ke rumah."
"Oh, masih banyak kerjaan di kantor? jika begitu nanti malam saja kita bertemu di cave, lanjutkan kerajaanmu," ucap Amanda lagi melalui sambungan telepon, sebelum ahirnya hp ia matikan.
Bibi kembali masuk ke dalam kamar, tangannya membawa ember kecil berisikan air hangat.
"Bibi kompres ya Nyonya." Bibi mulai mengompres bibir Amanda yang terluka, Amanda mengaduh perih, bibi mengurangi tekanannya.
Setelah Bibi keluar, Amanda membawa tubuhnya untuk istirahat, karena sejak baru menginjak kaki di rumah setelah dari Amerika, Amanda belum tidur.
Sementara itu Tomi saat ini sedang berada di dalam mobil, mengendarai mobil dengan begitu kencang, melampiaskan rasa marahnya terhadap Amanda.
"Amanda berani melawan aku, ini tidak boleh terjadi, aku harus membuat Amanda tunduk sama aku, dia tidak boleh melawan aku!"
Tomi terus bicara sendiri seraya menambah terus kecepatan mobilnya, bahkan tidak peduli saat di depan sana adalah jalan perempatan, Tomi terus melaju cepat sampai ahirnya harus mengerem dadakan karena ada mobil yang mau melintas.
Ciiiiittttttt!
Dumm!
Ban mobil milik Tomi meledak.
Sial sial!
Umpatan Tomi saat mendengar ban mobilnya meledak, Tomi segera keluar dan mengecek apa penyebabnya, ternyata ada paku yang menusuk, karena hantaman keras saat mengerem tadi membuat ban mobil meledak.
Tomi menelpon seseorang.
"Hei kenapa ban mobil saya tidak kamu ganti kemarin!" teriak marah Tomi bicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Belum saya ganti bos, maaf bos," suara seseorang di sambung telpon.
"Dasar bodoh! Begog!" Tomi makin kesal dan marah, menendang ban mobilnya yang sudah tidak layak pakai.
__ADS_1
Ban mobil Tomi memang sudah sangat tipis jadi mudah bila hanya meledak.
Tomi menghubungi seseorang lagi meminta untuk menjemputnya di jln xx