
Amanda melepas pria itu dan seketika pria itu ambruk ke lantai, Amanda berlari ke arah Valentino memeluk pria itu.
Valentino yang saat ini di peluk Amanda, masih tidak percaya bahwa Amanda selamat.
"Aku takut."
Mendengar suara Amanda, Valentino langsung sadar dari rasa keterkejutannya, dan membalas pelukan Amanda.
Ya, Amanda selamat dari tembakan itu, karena sekertaris Son yang menembak pria jahat itu lebih dulu, Sekertaris Son datang membawa helikopter, menembak pria jahat itu dari arah belakang.
"Aku takut kehilanganmu, untung kamu selamat," ucap Valentino serta mengeratkan pelukannya.
Valentino segera mengajak Amanda pergi dari sana. Mereka berdua masuk ke dalam helikopter yang sama dengan sekertaris Son.
Anak buah Valentino yang lain juga sudah masuk ke dalam helikopter dan siap pergi meninggalkan tempat tersebut.
Jordan bersama anak buahnya yang lain sudah mati.
Kini helikopter para tim Valentino sudah mengudara tapi belum pergi. Valentino menjatuhkan bom ke mansion tersebut, setelah itu helikopter terbang tinggi dan dalam waktu sepuluh menit bom itu meledak membakar habis mansion besar itu.
Kembali menghabiskan waktu selam dua belas jam, helikopter mereka tiba di tanah air.
__ADS_1
Valentino berganti mengendarai mobil untuk membawa Amanda ke rumah sakit.
Anak buahnya yang lain yang terluka juga mendatangi rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Amanda dan Valentino segera mendapat penanganan, meski tidak luka parah tapi mereka mendapat luka ringan.
Mommy Vio juga datang ke rumah sakit, untuk melihat keadaan putra dan menantunya. Setelah dokter keluar dan Mommy Vio diijinkan masuk. Wanita paruh baya itu langsung masuk untuk menemui Valentino dan Amanda.
"Kalian untung kalian selamat," ucap Mommy Vio saat baru datang, memeluk Valentino. kemudian berganti memeluk Amanda.
Ruang IGD mereka berdua jadi satu dengan ranjang pasien yang terpisah.
"Kami baik-baik saja Mommy," ucap Amanda setelah Mommy Vio menjauh dari darinya,
Mommy Vio jelas khawatir, tapi Amanda dan Valentino tidak menceritakan hal sebenarnya yang terjadi, khawatir akan membuat Mommy Vio ketakutan, karena yang menculik Amanda bukan sembarang orang.
.
.
.
Tiga bulan kemudian.
__ADS_1
Pagi ini hari sangat cerah, secerah wajah pria yang baru beberapa hari lalu pergi keluar kota tanpa mengajak istrinya. Tentu sangat membuat pria itu merindu dengan istrinya.
"Happy birthday," ucap Amanda seraya mencium kening Valentino.
Saat ini mereka berdua masih berada di atas ranjang, baru saja selesai melakukan pergumulan panas.
Valentino tersenyum dan semakin memeluk tubuh Amanda yang polos.
"Aku punya hadiah untukmu."
Amanda berbalik mengambil sesuatu yang ia simpan di bawah bantal, sejak kemarin ingin sekali segera memberitahu Valentino, namun suaminya tiba di rumah baru jam tiga dini hari tadi. Dan sekarang Amanda baru akan menunjukan hadiah itu.
"Bukalah," ucap Amanda seraya menyerahkan kado itu.
Valentino membuka kado itu dengan senang hati, namun setelah terbuka yang ia lihat sebuah foto USG yang Valentino sendiri tidak mengerti apa maksudnya.
Valentino menatap Amanda.
"Aku hamil, ini anak kita dia masih kecil karena baru trimester pertama," terang Amanda seraya menunjukan gambar bayinya yang masih kecil sebiji kacang.
"Kau ha-hamil," ulang Valentino matanya berkaca-kaca menatap Amanda. Dan dengan segera Amanda menganggukkan kepalanya.
Valentino langsung memeluk Amanda dan menghujani kecupan di wajah Amanda, sungguh saat ini ia sangat bahagia. Setelah melewati banyak rintangan hidup, dan semua orang jahatin mereka musnah, kini diberi hadiah seorang malaikat kecil yang masih tumbuh di rahim istrinya, sungguh kebahagian lengkap bagi Valentino.
__ADS_1
"Terimakasih, terimakasih sayang." Valentino mencium bibir Amanda.
TAMAT.