Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 55. Aku mencintaimu.


__ADS_3

Amanda mengaduk minuman jusnya, setiap gerakan tangan Amanda juga wajah Amanda yang tampak senyum itu diperhatikan oleh Valentino, pria itu makin terkesima dengan kecantikan Amanda malam ini.


Padahal Valentino juga tahu bahwa malam ini Amanda tampil biasa hanya menggunakan make-up tipis-tipis, tapi entah auranya terpancar begitu cantik di mata Valentino.


Ayo Valentino lakukan sekarang katakan bahwa kamu mencintai Amanda, bisik hati Valentino di sisi kanan.


Mundur saja Valentino pasti kamu ditolak Amanda, lihatlah kamu saja belum apa-apa sudah gugup, bisik hati Valentino sebelah kiri.


Hei jangan memprovokasi Valentino yang tidak baik! Bagaimana mungkin Valentino ditolak dia kan tampan, bisik hati kanan Valentino yang membela.


Valentino tersenyum bangga dibilang tampan oleh bagian hatinya, Valentino menyingkirkan bagian hatinya yang jelek, dan mengikuti bagian hatinya yang baik.


Valentino mengatur nafas sebelum ahirnya bicara, ternyata mau menyatakan cinta pada wanita yang dicintainya rasa gugupnya melebihi apa pun, tangan Valentino membentuk kepalan bukan karena marah tapi untuk memberikan kekuatan.


Sampai di detik ahirnya bibir yang banyak diinginkan para wanita untuk merasakan ciumannya itu bicara lancar.


"Amanda aku mencintaimu."


Amanda yang saat ini masih menunduk sembari mengaduk jus dengan perlahan mengangkat kepalanya menatap Valentino, namun perhatian Amanda terhenti pada sebuah kotak berudu warna merah yang berada di telapak tangan Valentino.


Amanda mendengar apa yang Valentino ucapkan barusan, hanya saja Amanda masih belum percaya dan mau memastikan.


"Maksudnya?" Amanda menaikan satu alisnya.


Valentino semakin memperlihatkan isi dalam kotak merah beludru itu yang di dalamnya ada sebuah cincin bertahtakan berlian milik keluarganya dari temurun-temurun. "Aku mencintaimu Amanda dan aku melamar mu saat ini."


Wajah Valentino serius saat bicara. Dalam hatinya tidak percaya bahwa bisa bicara seperti itu, padahal andai Amanda melihat kakinya di bawah meja saat ini sudah bergetar karena gugup.


"Valentino kamu jangan becanda ini tidak lucu." Amanda tertawa kecil.


"Aku serius lihatlah wajahku, aku sungguh mencintaimu." Sekali lagi Valentino menegaskan.


Amanda menghela nafas berat, melihat ke arah lain seperti sedang berpikir yang kemudian kembali menatap Valentino. "Jika kamu serius ok aku akan jawab serius." Amanda berhenti sejenak melihat ekspresi Valentino, Amanda menemukan keseriusan di wajah pria itu. "Aku belum mau menikah lagi." Amanda menghela nafas panjang bagian inilah Amanda terasa berat bila harus menjelaskan. "Penyebab hancurnya rumah tanggaku kemarin sakitnya masih membekas di hatiku belum bisa aku hilangkan."

__ADS_1


"Aku yang akan menyembuhkan," sarkas cepat Valentino yang masih serius tanpa mengubah ekspresinya.


Amanda menggelengkan kepala seraya membuang nafas berat. "Valentino aku mohon jangan keras kepala, tolong mengerti."


"Aku sangat mengerti kamu, kau membutuhkan seseorang yang bisa melindungi dan mencintai kamu dengan tulus, dan akulah orangnya." Valentino tidak menyerah.


"Valentino ini pernikahan bukan mainan!" suara Amanda berubah meninggi karena merasa geram Valentino tidak mau mengerti.


"Dan aku tidak mengatakan mainan, aku sungguhan melamar kamu karena aku mencintaimu." Jawab Valentino yang semakin membuat Amanda pusing.


"Valentino?" geram Amanda yang kemudian berdiri mau berjalan keluar.


Valentino lesu saat Amanda milih pergi meninggalkannya, namun sebelum Amanda keluar dari ruangan ini Valentino menoleh ke belakang.


"Amanda!"


Langkah kaki Amanda yang sudah sampai di ambang pintu terhenti saat namanya dipanggil.


Amanda tidak menjawab ucapan Valentino yang milih langsung pergi setelah Valentino menyelesaikan ucapannya.


Tidak apa-apa Valentino setidaknya kamu sudah jujur tentang perasaanmu, bisik hati Valentino sebelah kanan.


Sudah aku bilang tadi tidak usah bicara pasti kau akan ditolak sekarang ditolak beneran kan, sakit kan, bisik hati Valentino sebelah kiri yang mengejek.


Hah Valentino hanya bisa melihat nanar pada cincin yang sudah disiapkannya yang saat ini berada di genggaman tangannya.


Valentino kembali menyimpan cincin itu di saku jasnya, menghela nafas panjang sembari berjalan keluar dari tempat tersebut.


Amanda yang saat ini sudah berada di dalam mobil taksi, menghapus air matanya, sebenarnya tidak setega itu mau bicara kasar dan menolak cinta Valentino.


Tapi Amanda tidak bisa bohong bahwa dirinya memang masih takut untuk menjalin hubungan dengan pria.


Melamun terus sampai tidak terasa kini mobil taksi yang Amanda tumpangi sudah sampai di apartemen.

__ADS_1


Amanda keluar dari dalam mobil, Valentino yang berada di dalam mobil tidak jauh dari mobil taksi yang membawa Amanda kini melihat wanita yang dicintainya keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung apartemen.


Ya, tadi Valentino mengikuti mobil taksi yang membawa Amanda, memastikan wanita itu selamat sampai tujuan.


Bukan tanpa alasan, Valentino tahu apa bila saat ini Amanda tengah di teror seseorang, itu lah sebabnya Valentino mengikuti.


Setelah Amanda aman sampai tujuan, Valentino kembali menjalankan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


Amanda menghentikan niatnya saat mau masuk ke dalam lift, telinganya seperti mendengar suara deru mobil milik Valentino, namun saat menoleh tidak ada mobil yang berjalan, Amanda bergegas masuk ke dalam lift.


Sampainya di lantai tempat kamarnya berada, setelah keluar dari dalam lift lagi-lagi Amanda melihat kado di depan pintu apartemennya.


Amanda membuka Kodo itu lagi dengan marah campur kesal tapi matanya menangis, sungguh Amanda benci dengan semua ini, semua yang ingin menakuti Amanda.


Ahh! Teriak Amanda saat berhasil merobek kado tersebut, dan segera membuka isi dalamnya namun seketika Amanda menjerit sembari melempar asal kado tersebut.


Yang ternyata di dalamnya sebuah boneka Barbie yang dilumuri darah.


Amanda segera masuk ke dalam Apartemennya, setelah mengunci Amanda segera berjalan menuju kamarnya.


Pintu kamar juga Amanda kunci, Amanda berjalan mundur sembari telapak tangannya menutup telinga, nafas Amanda terengah-engah. Tiba-tiba ada suara benda jatuh di balkon.


Amanda langsung terkejut, dan segera melihat yang terjadi di balkon, setelah membuka pintu kaca balkon Amanda mencari suara benda yang jatuh itu namun tidak ada apa-apa yang jatuh, tiba-tiba ada suara jatuh lagi.


Grusak!


Meong...meong.


Hah, Amanda langsung bernafas lega sembari memegangi dadanya yang ternyata suara tadi adalah kucing yang bermain lompat-lompat.


Tapi apa bila Amanda pikir gedung apartemen ini sangat tinggi, dari mana asalnya kucing itu, apa kah kucing akan memanjat dari bawah? Hah entahlah Amanda tidak mau berpikir pusing lagi. Amanda sudah lelah dan ingin segera istirahat.


Apa bila saat ini Amanda bersiap untuk tidur berbeda dengan Valentino yang saat ini duduk di sofa masih memikirkan caranya menaklukkan hati Amanda.

__ADS_1


__ADS_2