Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 85. Hanya bisa patuh.


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Amanda yang terdengar dingin itu, Valentino menghela nafas panjang, kali ini Valentino merasa harus jujur sama Amanda, bukan untuk membuat wanita itu takut, tapi karena tidak ingin ada yang dirahasiakannya, apa pun yang menjadi masalahnya, Amanda juga berhak tahu.


"Ada orang yang tidak menyukai aku, tiba-tiba datang mengejar mobil aku dan memberikan serangan tembakan."


Amanda langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, Amanda hampir tidak percaya dengan penjelasan Valentino barusan.


"Tapi bagaimana bisa itu sangat bahaya, bagaimana jika orang itu berkelanjutan ingin mencelakai kamu." Bibir Amanda bergetar, tangannya memegang tangan Valentino, wanita itu kini menangis.


Valentino tersenyum, tangannya terulur mengusap air mata Amanda. "Aku senang kamu menangisi aku itu tandanya kamu khawatir dengan aku, tapi jangan takut karena aku bisa menjaga diri." Valentino meyakinkan Amanda.


Amanda langsung memeluk Valentino, sangat takut sekali Valentino kenapa-napa.


"Kamu kan punya anak buah banyak, bawa dia untuk menjaga kamu," ucap Amanda masih dalam pelukan Valentino.


Valentino tersenyum saat mendengar kalimat khawatir Amanda untuk dirinya, padahal Valentino lebih mengkhawatirkan Amanda, Valentino takut orang jahat itu akan mengincar Amanda.

__ADS_1


"Ya sayang." Valentino lebih milih menyetujui saran Amanda, supaya wanita itu tenang.


"Sekarang ayo tidur karena sudah malam," ajak Valentino setelah melerai pelukannya.


Mereka kemudian berjalan menuju ranjang dan istirahat di sana.


Keesokan harinya.


Pagi ini Amanda berangkat ke kantor diantar oleh Valentino, baru saja mereka tiba di ruang kerja Amanda.


"Pokoknya kamu harus nurut, jangan terima pertemuan dengan klien di luar perusahaan, apa bila mau meeting biarlah mereka yang datang ke perusahaan. Andai tidak mau biarkan saja batal tidak usah disayangkan," ucap Valentino panjang lebar.


"Iya, aku nurut." Amanda patuh, karena tidak mau membuat Valentino merasa khawatir.


"Jika begitu aku pergi sekarang." Valentino mencium kepala Amanda.

__ADS_1


Saat Amanda menjauhkan kepalanya dari pundak Valentino, mereka jadi saling pandang, di detik berikutnya mereka berciuman bibir cukup sebentar, dan setelah itu Valentino beneran pergi dari sana.


Valentino sudah memerintahkan anak buahnya untuk menjaga Amanda di berbagai sisi, hanya saja mereka berada di tempat tersembunyi.


Gedung perusahaan Amanda di penuhi anak buah Valentino yang diperintahkan untuk menjaga Amanda.


Bahkan CCTV ruang kerja Amanda dan seluruh CCTV di perusahaan kini sudah terhubung di hp Valentino, pria itu akan mudah untuk mengawasi Amanda selama di perusahaan, dan akan tahu juga andai ada orang yang mencurigakan menyusup masuk.


Jika kalian mau bermain-main dengan nyawaku aku juga akan bermain-main dengan kalian, tapi jika kalian bermain-main dengan nyawa istriku aku pastikan habis nyawa kalian semua, batin Valentino penuh emosi saat masuk ke dalam mobil menutup pintunya dengan kasar.


Mobil Valentino segera melesat pergi meninggalkan perusahaan Amanda.


Sementara itu Amanda saat ini sedang menyelesaikan pekerjaannya, pekerjaan begitu banyak, Amanda berusaha menenangkan pikirannya, harus bisa tenang seperti yang diminta Valentino.


Amanda menghentikan sejenak pekerjaannya, kini menatap lurus ke depan. "Semoga tidak akan terjadi hal buruk dengan keluarga baruku."

__ADS_1


Sebenarnya Amanda merasa sedih karena dalam situasi seperti ini dirinya tidak bisa membantu Valentino. Hanya bisa patuh sesuai perintah pria itu.


__ADS_2