Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 20. Butuh waktu.


__ADS_3

Setelah menunggu rumayan lama, yang ternyata layar hp tetap gelap bertanda Amanda tidak menelpon juga tidak mengirim pesan ucapan terimakasih, Tomi hanya bisa menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya kasar.


Amanda aku tidak akan menyerah, aku akan terus berusaha untuk kita tetap bisa bersama, aku tidak mau semua rencana aku gagal untuk memiliki hartamu.


Keesokan harinya.


Amanda mendatangi rumah sakit, untuk melihat kesehatan bayi dalam kandungannya.


Saat ini Amanda sedang diperiksa oleh dokter, setelah pemeriksaan selesai dokter tersebut menjelaskan.


"Kesehatan Nyonya sedikit terganggu ya, usahakan jangan stres kasihan perkembangan janinnya."


Amanda mengangguk mendengar penjelasan dokter tersebut.


Kemudian dokter melakukan USG, Amanda meneteskan air mata saat mendengar suara detak jantung calon bayinya.


"Bayiku sehat, dokter?" tanya Amanda penuh harap ingin mendengar keadaan bayinya sehat.


"Perkembangan janin dalam kandungan bagus, Nyonya tenang saja."


Amanda lega setelah mendengar penjelasan dokter barusan, Amanda berharap tidak akan mempengaruhi perkembangan janinnya meski Amanda saat ini dalam masalah yang rumit.


Setelah semuanya selesai, Amanda pergi dari rumah sakit, Amanda bingung mau datang ke perusahaan atau pulang ke apartemennya, Amanda melihat arlojinya waktu masih pukul sepuluh pagi.


Saat ini Amanda sedang mengendarai mobil, saat tiba di lampu merah, Amanda menghentikan mobilnya.


Nak, jangan marah sama Mommy, disaat nanti kamu lahir dan setelah besar mengerti jika Daddy dan Mommy mu tidak lagi bersama, Mommy minta maaf Nak, maaf tidak bisa memberikan keluarga yang utuh untuk kamu, maaf Nak?


Jangan menangis dan marah sama Mommy jika tangan kokoh seorang Daddy tidak akan kamu rasakan menimang-nimang kamu saat masih kecil, maafkan Mommy.


Amanda mengusap air matanya setelah bicara dengan bayinya dalam hati, dan kembali melajukan mobilnya setelah lampu berganti warna hijau.


Amanda ternyata tidak melajukan mobilnya ke perusahaan, tetapi mobil itu berhenti di pusat perbelanjaan.

__ADS_1


Amanda menelpon Merry bahwa hari ini tidak masuk kantor, dan meminta Merry untuk meng handel semuanya.


Setelah obrolan dengan Merry selesai, Amanda menyembul keluar dari dalam mobil, kini mulai berjalan memasuki pusat perbelanjaan tersebut.


Tidak tahu mau membeli apa, Amanda hanya butuh hiburan, dan saat langkah kakinya membawa dirinya sampai di pusat permainan anak-anak, Amanda terdiam di sana dengan mata berbinar-binar dan bibir tersenyum.


Amanda membayangkan sembari mengusap perutnya yang sudah sedikit menonjol, bahwa kelak anaknya juga akan tersenyum dan tertawa ketika sedang asyik bermain, seperti anak-anak itu yang bermain saat ini.


Namun saat matanya melihat beberapa anak yang datang ditemani ayah dan ibunya, Amanda meneteskan air mata, merasa disinilah letak kelemahannya, akan kah mampu jika anaknya bertanya dimana Daddy.


Membayangkan saja Amanda bingung mau menjawabnya seperti apa, tidak ingin lebih stres ahirnya milih pergi dari tempat permainan tersebut.


Amanda menuju toko yang menjual susu ibu hamil, selama ini Amanda jarang minum susu, merasa bersalah karena kurang perhatian sama janinnya.


Saat ini Amanda membeli susu hamil empat dus, sekalian buat stok. Berjalan lagi sembari melihat-lihat mungkin ada yang ingin dibelinya lagi, namun setelah tidak ada yang mau dibelinya lagi, Amanda menuju kasir dan membayar tagihannya.


Amanda pulang hanya membawa belanjaan susu saja, karena tidak berniat mau beli apa-apa lagi, setelah masuk ke dalam mobil, Amanda melajukan mobilnya menuju ke apartemen.


Amanda menghentikan mobilnya tepat di samping pria tua itu, saat Amanda membunyikan klakson, pria tua itu berhenti jalannya dan menoleh ke samping melihat mobil mewah yang bersih seperti sehabis di cuci, pria tua itu menatap bingung, dan berpikir siapa-siapa?


Amanda menurunkan kaca mobilnya. "Pak, terima ini ya, ada sedikit rejeki untuk bapak, saat ini sedang hujan tidak baik jika Bapak tetap lanjut bekerja, jaga kesehatan Pak, istirahat di rumah."


Pria tua itu menerima amplop pemberian Amanda dengan tangan bergetar dan mata berkaca-kaca, sungguh berterimakasih dalam hatinya.


"Terimakasih, terimakasih Nak?" ucap pria itu yang kini sudah menangis haru.


Amanda tersenyum, ada kebahagiaan setelah membantu orang yang lagi susah, Amanda kembali menutup kaca mobil sebelum ahirnya kembali melajukan mobilnya.


Lima belas menit, Amanda sudah sampai di apartemen, namun saat baru saja keluar dari lift, Amanda melihat ada Ibu Lili di depan pintu ruang apartemennya.


"Ibu," sapa Amanda pada Ibu Lili yang saat ini sedang berdiri memunggunginya.


"Jadi Ibu baru sampai di Indonesia tadi pagi?" tanya Amanda, kini mereka berdua sudah duduk di ruang keluarga.

__ADS_1


Ibu Lili mengangguk, memegang tangan Amanda, dengan sorot mata yang terlihat sedih.


Amanda langsung terkejut melihat Ibu Lili yang menatapnya seperti itu, tidak bisa dipungkiri, Amanda yakin bila Ibu Lili sudah tahu masalah rumah tangganya.


Meski tanpa dijelaskan pun, karena saat ini dirinya dan Tomi tidak lagi tinggal bersama.


Deg. Amanda makin terkejut saat Ibu Lili tiba-tiba menangis sembari memeluknya.


"Ibu sayang sama kamu, Nak. Ibu tidak ingin kalian berpisah, Ibu tidak mau miliki menantu selain kamu."


Amanda ikut bersedih mendengar ucapan Ibu Lili, namun mau bagaimana lagi bahwa keputusan Amanda sudah bulat.


Mau dimaafkan juga Amanda yakin Tomi akan kembali jahat, Anda tidak mau saja kembali ke lubang yang sama.


"Ibu, maafkan Manda, Ibu tidak boleh bicara seperti itu, aku aku-."


"Tidak, tolong pikirkan sekali lagi keputusan kamu, Nak." Ibu Lili mengusap pipi Amanda.


Amanda termenung.


"Jika kalian pisah, bagaimana anak kalian nanti, apa kamu tega melihat dia mencari Mommy mencari Daddy, apa kalian sanggup mendengar suara tangisnya?"


Amanda langsung menangis kembali memeluk Ibu Lili, sebenarnya hal itu juga yang Amanda pikirkan, bahkan tadi saja saat melihat anak-anak yang ditemani orang tua lengkap, Amanda sudah tidak sanggup. Dan mendengar ucapan Ibu Lili semakin membuat hati Amanda teriris, terdengar jahat sekali dirinya.


"Jangan egois, Nak. Turunkan ego kalian, pikirkan anak kalian yang belum lahir itu," jelas Ibu Lili seraya mengusap punggung Amanda.


Amanda berpikir dalam pelukan Ibu Lili, jika mengingat anaknya mungkin Amanda tidak akan bercerai, tapi jika mengingat Tomi yang jahat itu, Amanda tidak sanggup harus berada di bawah satu atap lagi dengan Tomi.


Luka itu rasanya akan terus membekas dalam hatinya tidak bisa terhapuskan oleh waktu, keputusan yang besar ini tidak bisa Amanda jawab saat ini juga.


Amanda melerai pelukannya. "Ibu, Amanda akan pikirkan dulu yang terbaik, Amanda butuh waktu."


Ibu Lili tersenyum seraya menganggukkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2