Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 58. Hampir di culik.


__ADS_3

Amanda terdiam sampai duduk lagi dengan kasar, pandangannya mengarah ke lantai seperti sedang berpikir dan sesaat kemudian Amanda mengangkat kepalanya membalas tatapan Valentino.


"Lalu tujuan kamu apa melarang Tomi membantu aku? Apa kamu senang melihat aku kebingungan merasakan di teror." Amanda bicara tegas disertai tatapan kesal.


Valentino mendekat kemudian sedikit membungkuk untuk menatap wajah Amanda yang lagi duduk. "Sudah aku bilang dari awal, menikahlah dengan aku maka aku akan melindungi kamu."


"Omong kosong apa kamu Valentino!" bentak Amanda sembari berdiri dari duduknya, kali ini Amanda menatap tajam. "Jangan memanfaatkan situasi!" ucap Amanda lagi dengan kasar karena tidak suka.


Valentino menghela nafas panjang, sudah tahu pasti akan mendapat kemarahan Amanda. Tapi memang situasi seperti ini sangat membahayakan, dan Valentino belum bisa menceritakan semua saat ini, khawatir hanya membuat Amanda takut.


Ya pling saat ini hanya bisa melindungi Amanda dari jauh, dengan mengerahkan bawahannya, meski teror itu tetap dibiarkan lolos yang penting tidak sampai menyakiti Amanda, banyak ribuan mata Valentino yang selalu melihat Amanda, tanpa wanita itu ketahui.


"Aku cukup sekali memberikan tawaran, dan sekarang terserah kamu." Valentino bicara lembut tidak ingin Amanda takut sebelum ahirnya Valentino melenggang pergi.


Setelah Valentino pergi, Jefry mendekati Amanda.


"Lebih baik kau terima saja tawaran itu, kau bisa membuat kesepakatan," ucap Jefry menasehati.


"Ini pernikahan Jefry tidak bisa dipermainkan." Amanda bicara tegas wajahnya masih tampak kesal.


"Baiklah aku tidak akan ikut campur," ucap Jefry ahirnya yang kemudian pergi dari sana meninggalkan Amanda.


Amanda menurunkan pandangannya melihat lantai, Amanda terlihat kebingungan harus berbuat apa setelah ini.


Merry yang tidak tega melihat Amanda seperti itu ahirnya mendekati. "Nyonya lebih baik kita pulang, percayalah semua akan baik-baik saja."


Amanda ahirnya bangun dari duduknya mengikuti saran Merry, mereka berdua berjalan keluar bersama.


Setelah hari ini pertemuan Amanda dengan Jefry yang berujung mengetahui siapa Valentino yang ternyata Bosnya Jefry, yang itu artinya adalah Bos mafia, Amanda terus kepikiran ucapan Valentino. Dengan rasa marah campur kesal karena di saat Amanda butuh bantuan, Valentino malah menawarkan hal yang tidak masuk akal.


Dan setelah hari itu hari-hari Amanda masih saja dihantui dengan teror-teror, sampai membuat Amanda benar-benar tidak nyaman.


Karena tidak tahu mau berbuat apa, ahirnya Amanda membiarkan saja, seperti hari ini Amanda masih saja lanjut beraktivitas.


Hari ini Amanda masih bisa menyelesaikan pekerjaannya pertemuan dengan klien, tidak cukup satu orang, dalam satu hari ini ada empat klien yang harus Amanda temui.


Sudah tidak kebayang seperti apa lelahnya apa lagi di tempat yang beda-beda, dan yang terakhir ini Amanda menemuinya malam pukul enam sore baru tiba di sebuah restoran tempat pertemuan itu diadakan.

__ADS_1


Merry yang duduk di sebelah Amanda, melirik Amanda yang terlihat sangat lelah, hari ini memang banyak sekali pekerjaan, dan hal itu wajar.


Setelah Merry selesai menjelaskan, kesepakatan kerja itu, mulai ada pertanyaan dari pihak Amanda untuk kliennya, apakah setuju atau tidak? Dan ternyata kliennya menyetujui dan kerja sama ini berhasil.


Kemudian Amanda dan pria itu berjabatan tangan, setelah sama-sama bertanda tangan di surat perjanjian.


Setelah pertemuan ini selesai, Amanda juga Merry segera keluar dari tempat tersebut, sekarang sudah pukul tujuh malam. Tiba-tiba Merry mendadak dapat pesan dari temannya yang mengatakan kecelakaan dan sedang berada di rumah sakit sedang butuh bantuan Merry.


Merry bingung bagaimana cara menyampaikannya dengan Amanda. Kasihan apa bila membiarkan Amanda pulang sendiri, tapi temannya saat ini dalam darurat.


Amanda yang tiba-tiba melihat wajah Merry seperti sedang bingung ahirnya milih bertanya, "Kamu kenapa?"


"Em-em Nyonya." Merry gugup suaranya.


"Katakan." Amanda semakin bingung melihat Merry yang malah bicara terbata-bata.


"Saya tidak bisa mengantar Anda Nyonya, baru saja teman saya mengabari sedang membutuhkan saya." Merry menundukkan kepalanya.


"Baiklah jika begitu aku pulang sendiri."


Merry mengangkat kepalanya. "Nyonya tidak apa-apa?"


Merry memberikan kunci mobil itu, Amanda menerimanya kemudian masuk ke dalam mobil dan tidak berselang lama mobil dijalankan.


Setelah Amanda pergi, Merry pun juga pergi dari tempat tersebut untuk menemui temannya yang sedang di rumah sakit.


Amanda menjalankan mobilnya dengan laju biasa tidak begitu cepat, keadaannya saat ini sedang lelah juga mengantuk, memang harusnya Merry yang mengemudikannya tapi Amanda tidak mau melarang Merry setelah tahu alasan gadis itu.


Di saat sedang menyetir berulang kali Amanda menguap, matanya sudah sangat berat namun tetap Amanda paksa untuk melek.


Setelah di jalanan yang sepi kendaraan, masih jalan lalu lintas hanya ada beberapa mobil yang masih melintasi jalan ini, tiba-tiba dari arah belakang ada sebuah mobil yang memotong jalannya mobil Amanda dan seketika tabrakan itu terjadi.


Brukk!


Ahh! Kening Amanda membentur setir mobil sampai mengeluarkan darah segar, Amanda sampai meringis kesakitan.


Mobil Amanda menabrak belakang mobil itu, sampai membuat belakang mobil itu remuk, karena dadakan Amanda tidak bisa mengerem, untung saja tadi Amanda melajukan mobilnya hanya biasa, tidak tahu jadinya apa bila Amanda melajukan dengan cepat.

__ADS_1


Orang yang menyetir mobil di depan Amanda keluar, dari dalam mobil Amanda bisa melihat bahwa orang itu memakai topeng, Amanda langsung ketakutan.


Brakk!


Brakk!


"Keluar!" teriak orang itu sembari menggedor pintu mobil Amanda.


Amanda menutup telinganya tidak mau mendengar suara orang itu, sampai matanya melihat orang itu memecahkan kaca mobilnya.


Pyaarrrrr!


Aahh! Pekik Amanda saat kaca itu pecah sampai mengenai dirinya pecahannya.


Pria itu membuka pintu mobil, kemudian menarik Amanda keluar.


"Ayo cepat keluar! Keluar!" Pria itu menarik Amanda, namun Amanda memberontak tidak mau.


"Lepaskan aku pergi! Pergi!" suara Amanda memaki orang itu, tapi tidak membuat orang itu melepaskan Amanda begitu saja, sampai ahirnya Amanda berhasil di tarik ke luar mobil.


Amanda terus memberontak saat pria itu membawa Amanda berjalan menuju mobil pria itu.


"Masuk!" bentak pria bertopeng itu meminta Amanda masuk ke dalam mobilnya.


"Tidak! Aku tidak mau!" bentak Amanda juga yang terus memberontak.


"Jangan membuat aku kehilangan kesabaran!" bentak pria itu lagi sembari mau mendorong tubuh Amanda untuk masuk ke dalam mobil, namun belum sampai Amanda terdorong masuk ke dalam mobil, pria bertopeng itu merasakan ada yang memukul keras lehernya.


Bugh!


Ah! pekik pria bertopeng itu yang seketika melepas cengkraman tangannya di tangan Amanda.


Valentino, gumam Amanda yang kemudian berlari ke arah Valentino dan sembunyi di belakang punggung pria itu.


Valentino berbalik menatap Amanda, begitu mencemaskan Amanda dan khawatir pada Amanda saat ini, melihat kening Amanda yang terluka hati Valentino tidak terima. Dan situasi ini pria bertopeng itu manfaatkan untuk lari kabur membawa mobilnya.


Saat deru mobil itu terdengar, Valentino menoleh dan menghafal nomor polisi mobil itu.

__ADS_1


Valentino segera mengirim pesan pada anak buahnya dan meminta mencari mobil dengan nomor polisi yang disebutkannya itu.


__ADS_2