
Tomi ahirnya pergi dari tempat tersebut dengan perasaan kecewa. Tapi dalam hati akan berusaha terus sampai mendapat maaf dari Amanda.
Sementara itu Amanda yang baru saja masuk ke dalam Apartemennya kini duduk di sofa ruang tengah.
Amanda menghela nafas panjang sembari melihat atap-atap rumah, Amanda diam bukan karena mikirin Tomi, tapi mikirin gimana caranya Tomi tidak mengganggunya lagi.
Tiba-tiba ponsel Amanda berdering, Amanda mengambil hp nya saat dilihat layar hp nya ternyata nama Jihan yang tertera di sana.
"Hai Manda, kamu bisa keluar tidak malam ini?" tanya Jihan di sambungan telepon setelah Amanda angkat.
"Bisa."
"Baiklah aku tunggu, akan aku kirim alamatnya, ya." Setelah berbicara itu Jihan memutus sambungan telepon.
Amanda segera bersiap, mandi lebih dulu cukup lima belas menit sudah selesai, Amanda menggunakan pakaian yang biasa saja tidak yang terlalu glamor, setelah make up tipis-tipis, Amanda meraih tas yang selalu ia bawa kemudian keluar dari apartemen menyusul para teman-temannya.
Empat puluh menit, taksi yang Amanda tumpangi sudah sampai di sebuah klub malam, Amanda masuk ke dalam dengan tujuan langsung mencari temannya Jihan dan Rita.
Namun saat Amanda berjalan cepat tanpa sengaja menabrak seorang pria berjas hitam.
Brukk.
Ponsel pria itu jatuh.
"Ah maaf aku tidak sengaja," ucap Amanda sadar bahwa dirinya yang salah. Amanda menatap pria itu sekilas kemudian mencoba membantu mengambilkan hp pria itu yang jatuh.
Namun bersamaan Amanda tangan berhasil memegang hp itu dalam waktu bersamaan tangan pria itu juga mau mengambil hp nya, alhasil punggung tangan Amanda di pegang tangan pria itu.
"Ah maaf," ucap pria itu sembari menjauhkan tangannya.
Amanda hanya mengangguk kemudian menyerahkan hp itu pada pria itu. Setelah hp berpindah tangan, Amanda bergegas pergi dari hadapan pria itu, baru saja Amanda melihat keberadaan dua temannya.
"Tuan Jordan."
Pria itu menoleh saat ada wanita cantik nan seksi memanggil namanya.
Amanda sudah tidak mendengar saat ada wanita yang memanggil nama pria itu, selain suara musik di klub yang begitu keras, Amanda juga sudah berjalan jauh yang kini sudah duduk bersama Jihan dan Rita di salah satu ruang eklusif.
Di ruangan ini tidak ada siapa pun selain mereka bertiga, apa bila mengajak Amanda di klub malam mereka selalu memesan ruang eklusif, karena tidak mau sampai ada yang mengganggu Amanda.
"Bagaimana liburan kamu di Paris?" tanya Rita pada Amanda sembari meneguk wine.
"Jangan banyak-banyak." Amanda menasehati Rita saat melihat temannya meminum alkohol.
"Tidak, hanya sedikit." Rita menaruh lagi gelas itu di atas meja.
__ADS_1
"Liburan aku di sana rumayan menyenangkan."
"Hanya rumayan." Jihan menyahut cepat dengan mulut penuh cemilan.
Amanda mengangguk.
Jihan menatap Rita sembari memutar bola mata tidak percaya, sekarang giliran Rita yang bertanya lagi.
"Kamu berlibur dengan Valentino, kan? Masa iya sih cuma rumayan tidak ada kesan yang gimana gitu?" Rita menatap lekat wajah Amanda.
Amanda terkekeh pertanyaan Rita terdengar lucu baginya. "Kesan apa sih? Kita kan cuma teman tidak lebih."
Jihan dan Rita langsung menghela nafas panjang bersamaan, sembari saling pandang. Amanda tidak peka dengan perhatian Valentino, begitulah ucapan dari saling pandang mata mereka berdua.
Rita dan Jihan berhenti bertanya, menurutnya sudah cukup informasi yang diketahui, memaklumi juga perasaan Amanda yang mungkin bukan tidak peka hanya saja tidak mau tahu karena pernah miliki pengalaman yang buruk dalam asmara.
Satu jam kemudian mereka bertiga sudah pergi dari tempat klub malam, Jihan mengantar Amanda pulang lebih dulu.
Setelah sampai di apartemen, Amanda keluar dari dalam mobil, sebelum Jihan menjalankan mobilnya lagi melambaikan tangan pada Amanda.
Setelah mobil Jihan pergi Amanda masuk ke dalam gedung apartemen, sampainya di lantai tempat kamarnya berada, saat Amanda mau menekan password, tiba-tiba matanya melihat sebuah bok kecil di bawah pintu.
Amanda mengurungkan niatnya yang mau membuka pintu, Amanda mengambil bok itu dan membukanya.
Ternyata di dalam bok itu adalah sebuah surat, Amanda mulai membacanya, dan alangkah terkejutnya Amanda setelah membaca surat itu.
Amanda meremat surat tersebut menjadi bola dan langsung Amanda buang ke tong sampah.
Amanda segera masuk ke dalam apartemennya, dan mengunci pintunya. Amanda berjalan menuju dapur di sana Amanda mengambil minum air putih.
Tangan Amanda bergetar saat memegang gelas, dan saat pelayan tiba-tiba muncul dari belakang, gelas yang Amanda pegang langsung jatuh kelantai.
Pyaarrrrr!
Ahh! Teriak Amanda terkejut melihat gelasnya jatuh.
"Nyonya, ini saya," ucap pelayan itu sembari mendekati Amanda.
Hah Amanda langsung menghela nafas lega, ternyata tadi hanya halusinasinya, Amanda kira orang jahat yang menyusup masuk ke dalam Apartemennya.
"Nyonya tidak apa-apa?" tanya pelayan itu lagi saat melihat wajah Amanda yang panik.
Amanda menggeleng, kemudian berjalan menuju dalam kamarnya. Di sana Amanda langsung berbaring di atas ranjang.
Amanda menenangkan diri, berkali-kali Amanda mengatur nafasnya supaya tenang. Semua terjadi begitu cepat.
__ADS_1
Siapa orang yang memusuhiku? Siapa? batin Amanda bertanya-tanya. Hah Amanda ahirnya pusing memikirkan semuanya, tidak berselang lama Amanda ahirnya tertidur.
.
.
.
.
Keesokan harinya.
Saat ini Amanda bersama Merry baru saja selesai meeting bersama klien, Amanda sedang mau makan siang di restoran.
Siang ini panas terasa begitu terik, sampai membuat tenggorokan terasa haus, sembari menunggu pesanan makannya Amanda bermain ponselnya.
Amanda memberi like di foto unggahan terbaru milik Valentino, foto yang gayanya mau keluar dari dalam mobil memakai kaca mata hitam serta setelan jas warna biru.
Tampan, batin Amanda tersenyum.
Bersamaan itu Pelayan restoran datang mengantar pesanan makanan, setelah makanan juga minuman diletakkan di atas meja, pelayan itu bergegas pergi.
Namun baru beberapa langkah langsung terhenti saat mendengar suara teriakan pelanggannya.
Ahh! Jerit Amanda saat melihat di makanannya ada tiga kecoak.
"Nyonya ada apa?" tanya Merry yang panik melihat Amanda tiba-tiba menjerit.
Amanda tidak menjawab karena merasakan ada pesan masuk di hp nya, Amanda membaca pesan itu dan kembali terkejut.
Dimana Anda berada aku akan selalu menghantuimu! Hahaha.
"Nyonya ada apa?" Merry kembali bertanya saat melihat wajah kecemasan Amanda saat membaca pesan masuk.
Amanda segera memblokir nomor baru itu, dan kembali menyimpan hp nya di saku jas nya.
Merry marah saat melihat di makanan Amanda ada tiga kecoak.
"Bagaimana kerja kalian sampai di makanan pengunjung restoran ada binatang seperti ini, Hah!"
Brakk!
Dua pelayan itu langsung ketakutan mendengar bentakan Merry dan suara gebrakan meja yang keras itu.
"Jawab!" bentak Merry lagi.
__ADS_1
"Ma-maaf ... Maaf kan kami, maaf kan kelalaian kami." Pelayan itu menunduk dalam.
Amanda langsung menarik tangan Merry milih pergi dari tempat tersebut, hatinya juga marah, bagaimana bisa restoran sebesar ini sampai bisa kecolongan pelaku jahat.