
Saat ini bubur yang Amanda buat baru saja matang, seperti apa yang diucapkan Valentino tadi, bahwa pria itu yang akan mencicipinya lebih dulu.
Amanda berdiri di depan Valentino yang sedang duduk di kursi, Amanda menyuapi Valentino.
Setelah bubur masuk ke dalam mulutnya, Valentino kecap-kacap rasanya.
"Bagaimana?" tanya Amanda yang menunggu komentar dari Valentino.
"Manis," jawab Valentino sembari menelan bubur itu.
"Manis," ulang Amanda dengan kening berkerut merasa tidak percaya apa bila bubur yang dibuatnya itu berasa manis, karena seingatnya tidak memberikan gula.
Amanda mencoba mencicipinya sendiri, Amanda menghela nafas panjang, bahwa rasanya sudah pas, tapi entahlah mengapa Valentino berkomentar manis, manis dari mana? pikir Amanda.
"Tapi enak," ucap Valentino lagi sembari tersenyum.
Amanda mengangguk, yang kemudian meletakan bubur yang barusan ia buat ke dalam mangkuk.
Valentino berdiri di belakang Amanda melihat cara Amanda menuang bubur ke dalam mangkuk.
Kenapa? Mau praktek pak? begitulah arti lirikan mata Amanda saat melirik Valentino yang berdiri di belakangnya.
Pelayan yang tadi membantu Amanda membuatkan bubur, bibirnya tersenyum melihat Valentino dan Amanda.
Bila dilihat-lihat pemandangan itu seperti sebuah keluarga pasangan suami istri, apa lagi perut Amanda yang sudah mulai nampak buncit, siapa mengira ternyata mereka hanya temenan.
Saat Amanda mau mengangkat nampan berisikan bubur juga air putih, Valentino merebutnya.
"Biar aku saja yang membawa, kamu duluan lah jalannya," ucap Valentino, kini nampan sudah berpindah ke tangannya.
Amanda berjalan lebih dulu, Valentino mengikuti di belakang Amanda, Valentino tidak mau Amanda keberatan susah payah bawa nampan ke atas dan harus menaiki tangga.
Setelah sampai di depan pintu kamar Mommy Vio, Amanda memutar handel pintu, Amanda meminta Valentino untuk masuk lebih dulu.
Mommy Vio membuka mata saat tadi memejamkan mata hanya merem-merem biasa.
Mommy Vio bahagia dalam hati melihat Valentino yang membawa nampan juga Amanda yang berjalan di sisi Valentino, seperti pemandangan anak dan menantu.
Hah Mommy Vio hanya bisa membatin, ingin rasanya melihat Valentino menikah, tapi mau bagaimana jika putranya belum mau, meski kadang teman sosialitanya suka mau menjodohkan anak gadis mereka dengan Valentino, tapi Mommy Vio tidak pernah mau menerima.
Biarlah masalah hati Valentino yang menentukan, Mommy Vio tidak mau ikut campur masalah asmara putranya.
__ADS_1
Amanda duduk di pinggiran ranjang, Amanda membantu Mommy Vio untuk duduk kemudian meletakkan bantal di punggung Mommy Vio supaya bisa bersandar.
"Ibu ... Amanda suapin yah."
Mommy Vio mengangguk, kemudian menerima suapan pertama dari Amanda.
Seketika Mommy Vio memuji dalam hati, bubur buatan Amanda sangat lezat, apa lagi dimakan saat sedang tidak sakit begini, hanya Mommy Vio dan Valentino yang tahu apa bila Mommy Vio tidak sakit hanya pura-pura.
Semua itu ide Valentino hanya karena tadi bilang ingin mempertemukan Amanda dan Mommy Vio, seharusnya tidak menggunakan cara akting sakit segala, entahlah dapat ide dari mana Valentino.
Setelah suapan demi suapan ahirnya bubur di mangkuk itu habis, Amanda memberikan air minum untuk Mommy Vio.
Setelah Mommy Vio selesai minum, Amanda mengelap bibir Mommy Vio dengan tisu.
Amanda dan Mommy Vio saling mengobrol, Mommy Vio menanyakan tempat tinggal Amanda juga keluarga Amanda.
Saat Amanda mengatakan sudah tidak miliki ayah ibu karena sudah meninggal, tidak hanya Mommy Vio yang terkejut, Valentino juga terkejut, merasa kasihan pada wanita pujaan hatinya.
Setelah satu jam berlalu, Amanda pamit ijin pulang, Valentino mengantar Amanda sampai tiba di apartemen wanita itu. Setelah sampai dari sana, Valentino kembali melajukan mobilnya menuju pulang.
Di rumah Mommy Vio, wanita paruh baya itu saat ini baru saja selesai mandi, mencuci wajahnya karena tadi sehabis dandan pucat, sekarang aktingnya sudah selesai.
"Mom ...."
Hem.
"Kemarilah," pinta Valentino yang duduk di kursi sofa.
Dengan langkah berat Mommy Vio mendekat, sudah menduga dalam hati pasti Valentino ada maunya.
"Mau apa." Mommy Vio duduk di sebelah Valentino, tiba-tiba pria itu meminta Mommy Vio untuk bergeser, kemudian menjatuhkan kepalanya ke paha sang Mommy.
"Mom tolong restui ... Restui Mom."
Mommy Vio menghela nafas panjang. "Valentino ... Meminta restu itu tidak seperti itu, apa bila seperti itu namanya pemaksaan."
"Biarin aku lebih suka yang memaksa-maksa biar cepat."
"Valentino!" Mommy Vio langsung menjewer telinga Valentino.
Aww Mom!
__ADS_1
Valentino merasakan telinganya sakit.
"Dia kan lagi hamil, suaminya pasti ada kan?" tanya Mommy Vio yang penasaran akan hal ini.
"Iya, tapi dari informasi yang aku dapat mereka mau bercerai Mom, itu artinya -."
"Tidak!" sarkas cepat Mommy Vio membuat ucapan Valentino terhenti.
"Mommy suka dengan Amanda, baru melihat saja Mommy tahu dia wanita baik-baik, tapi Mommy tidak mau sampai kau merusak rumah tangga orang lain, hanya karena kamu cinta, kendalikan akal sehat kamu Valentino."
Setelah mendengar ucapan tegas Mommy Vio, Valentino tidak bisa melawan lagi, hanya bisa diam dan mengangguk kecil.
Merasa tidak ada lagi yang mau Valentino bahas, ahirnya pamit ijin pergi.
"Mom, aku mau pergi." Valentino bangkit dari tiduran di pangkuan Mommy Vio.
"Iya, hati-hati jangan ugal-ugalan bawa kendaraannya." Pesan Mommy Vio sebelum Valentino melangkah pergi dari kamarnya.
Biasanya apa bila ahir pekan Valentino akan berolahraga di markasnya, bersama bawahannya, mengajari bawahannya latihan ilmu bela diri. Namun Mommy Vio tidak tahu masalah ini. Valentino merahasiakannya.
Saat Valentino sudah keluar dari dalam rumah, mau berjalan menuju mobilnya, saat mau membuka pintu mobil tiba-tiba tangan Valentino ada yang memegangi.
Saat melihat jemari lentik yang memegang lengannya, Valentino seperti paham akan siapa orangnya, Valentino segera menoleh dan benar saja Valentino mengenali orang tersebut.
"Sayang, aku merindukanmu," ucap manja wanita itu sembari ingin bergelayut manja namun belum sampai terjadi Valentino menjauhkan tangan wanita itu dengan kasar.
"Ervina! Kita sudah putus!" bentak Valentino dengan mata menatap nyalang.
Valentino mau masuk kembali ke dalam mobil namun lagi-lagi dihalangi oleh Ervina.
"Tidak kita belum putus, hanya kau yang berkata putus dan aku tidak!"
"Bodoh!" Valentino langsung memaki Ervina yang seketika langsung membuat gadis itu ketakutan dan melepas tangannya yang memegang lengan Valentino.
Ervina ingin kembali membujuk Valentino tapi tidak berani saat melihat tatapan tajam Valentino yang menusuk.
Setelah Valentino menjalankan mobilnya dengan cepat keluar gerbang, Ervina hanya bisa menatap nanar sembari meremat ujung bajunya.
Pertanyaannya kenapa Ervina bisa masuk padahal penjagaan di gerbang utama ketat? karena Ervina gadis yang sering Valentino ajak pulng ke rumah, mereka semua sudah pada kenal sampai para pelayan juga sekuriti.
Namun semenjak ada masalah antara keduanya sudah tidak pernah datang lagi, bahkan sudah satu bulan tidak pernah komunikasi.
__ADS_1