
Setelah tertawa Tomi terdiam tangannya terkepal di atas meja dengan tubuh sedikit membungkuk, rahangnya mengeras disertai tatapan tajam.
Tomi ingat sesuatu yang selama ini ia simpan rapat-rapat, Tomi membuka laptopnya dan membuka file yang menyimpan datanya, namun Tomi terkejut saat semua data-data miliknya hilang.
Sial! umpat Tomi setelah tahu semua data berhasil di retas oleh orang lain, Tomi memukul meja sampai menimbulkan bunyi memekik telinga.
"Siapa yang berani melakukan ini sama aku! mereka cari mati bermasalah dengan aku!" Tomi marah setelah melihat semua data penting tentang penjualan aset kekayaan Amanda serta penggelapan uang telah dicuri.
Arghhhh!
"Aku yakin ada orang hebat di belakang Amanda, aku harus cari tahu jangan sampai semua rencana aku semakin gagal!" Tomi menggebrak meja lagi dengan wajah sangat marah.
Setelah tiba sore hari saat jam kantor sudah selesai, Amanda bersama Merry mau pulang ke apartemen. Karyawan yang lainnya juga pada pulang.
Amanda tidak pernah lembur selama ini, karena menjaga kesehatan tubuh tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan bayinya dalam kandungan.
Tomi yang juga mau pulang, saat ini berdiri di pintu keluar melihat ke arah mobil Amanda, Merry sedang membukakan pintu mobil untuk Amanda.
Tomi terus memandangi mobil itu sampai Merry membawa mobil tersebut meninggalkan area perusahaan untuk mengantar Amanda pulang.
Dinda yang sedari tadi sudah menunggu mobil Amanda keluar kantor, saat ini segera menyusul mobil Amanda setelah baru saja melihat mobil Amanda.
Dinda yang berada di dalam mobil tidak jauh dari mobil Amanda yang sedang melaju, matanya terus fokus mengamati mobil Amanda, tidak mau sampai kehilangan jejak.
"Aku sudah tidak sabar untuk berbicara dengan kamu Amanda, kau harus tanggung jawab! karena ulah kamu aku jadi tidak miliki penghasilan!" teriak Dinda di dalam mobil dengan terus mengejar mobil Amanda.
Sementara itu Amanda yang berada di dalam mobil, matanya terpejam namun ia tidak tidur, Amanda tidak mau mampir kemana-mana.
"Merry, langsung antarkan saya ke apartemen."
"Baik Nyonya," jawab Merry yang saat ini sedang mengemudi.
Setelah tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Merry telah sampai di Apartemen Amanda.
__ADS_1
Mobil Dinda juga berhenti di ujung sana, Dinda kini bisa melihat Amanda keluar dari dalam mobil, kemudian Merry membawa mobil itu pergi lagi.
Dinda segera memarkirkan mobilnya yang benar, setelah itu berlari untuk menyusul Amanda di dalam.
Sampainya di dalam Dinda hampir telat, namun masih bisa melihat nomor lantai yang Amanda tuju.
Dinda menggunakan lift yang lainnya dan menekan nomor lantai yang sama dengan Amanda tadi.
Setelah lift terbuka Amanda keluar berjalan menuju ruang apartemennya, hampir bersamaan juga dengan Dinda yang baru keluar.
Setelah Amanda menekan tombol password dan siap mau masuk ke dalam apartemennya tiba-tiba kerah jasnya di tarik oleh seseorang membuat Amanda harus balik badan, dan kini melihat siapa pelakunya.
"Cabut semua berita yang kau sebar itu! karena ulahmu aku tidak bisa bekerja dimana pun!" ucap Dinda yang langsung to the poin dengan suaranya yang terdengar marah.
Amanda tersenyum menyebalkan. "Memang aku peduli," jawab santai Amanda yang langsung semakin membuat Dinda marah.
"Kau!" bentak Dinda sembari mengangkat tangannya siap mau menampar pipi Amanda, namun dengan sigap Amanda menahan tangan Dinda, dan dengan gerakan cepat Amanda pelintir tangan Dinda ke belakang.
Amanda tidak pedulikan teriakan Dinda, hatinya lebih kesal dan marah setiap kali melihat wajah Dinda, teman yang tidak tahu terimakasih, teman yang sudah tega menusuk temannya sendiri. Amanda tidak kasih ampun sampai terdengar bunyi kretek berasal dari tulang Dinda.
Aaaaaa! jerit Dinda yang merasakan sakit luar biasa, Amanda kemudian mendorong tubuh Dinda ke depan.
Brukk.
Suara Dinda jatuh ke lantai, matanya sudah menangis sungguh sakit lengannya saat ini.
Amanda mendekati Dinda berjongkok di depan Dinda sembari memegang dagu Dinda untuk melihatnya. "Tanganmu belum aku patahkan, pikirkan lagi sebelum kau bertindak." Amanda berbisik ke telinga Dinda, "Amanda yang kau lihat sekarang bukan Amanda yang dulu." Amanda kembali menatap wajah Dinda. "Kau bisa kan jualan rempeyek? cocok dengan wajahmu." Amanda menepuk pundak Dinda sebelum ahirnya berdiri mau masuk ke apartemennya.
Namun dari pintu lift yang baru terbuka ada Jihan juga Rita yang keluar dari sana, mereka berdua langsung berjalan cepat mendekati Amanda.
"Manda!" panggil Jihan dengan suara tinggi.
Amanda menoleh kini melihat Jihan dan Rita sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Setelah sampai di dekat Amanda, Jihan menatap sinis ke arah Dinda yang masih di lantai. "Mau apa lagi wanita jahat itu kesini!" ucap Jihan dengan emosi.
"Heh Dinda elo gax punya malu ya masih menampakkan wajah di depan Amanda!" Rita ikutan menimpali dengan membentak.
"Tadi dia kesini meminta aku untuk cabut semua berita tentang dia, karena dia tidak bisa kerja lagi di perusahaan mana pun." Jelas Amanda memberitahu kronologinya.
"Bagus dong," ucap Rita melihat Amanda, kemudian beralih melihat Dinda. "Biarkan saja dia jadi gembel."
Hahah. Jihan tertawa.
"Tapi aku suruh dia untuk jualan rempeyek, kan rumayan buat nyambung hidup," ucap Amanda yang langsung disusul tawa oleh kedua temannya itu.
Amanda masuk ke dalam lebih dulu, Jihan dan Rita saling pandang, rasanya belum puas jika belum memberi pelajaran Dinda sekalian.
Jihan dan Rita mendekati Dinda, kemudian bersama-sama mereka berdua menguleni rambut Dinda sampai menjadi berantakan, setelah puas Jihan dan Rita tertawa senang kemudian meninggalkan Dinda yang berantakan di luar sendirian.
Sakit rasanya saat Dinda melihat pintu apartemen Amanda ditutup, apa lagi orang didalam sana baru saja memperlakukannya tidak manusiawi.
Arghhhh!
"Aku benci kalian ..." teriak Dinda dengan menangis, sakit hati dengan sikap mereka, juga merasakan sakit di lengannya.
Dinda berusaha berdiri perlahan-lahan, setelah berdiri tegap Dinda mau berusaha merapihkan lagi rambutnya namun lengannya sakit digerakkan, ahirnya Dinda pasrah keluar dari apartemen dengan rambut acak-acakan seperti orang gila.
Sampainya Dinda di lobby banyaknya orang di sana pada tertawa melihat penampilan Dinda, tiba-tiba ada sekuriti mendekat mau menarik tangan Dinda.
"Saya tidak gila!" bentak Dinda sembari tangannya menepis tangan sekuriti tersebut.
Sekuriti langsung menyingkir dalam hatinya tertawa keras karena sudah menganggap Dinda wanita gila.
Setelah Dinda keluar dari gedung apartemen, sekuriti tersebut masih melihat ke arah Dinda. "Habis penampilannya seperti itu, apa dia mau konser ya?"
"Bukan konser, tapi habis berantem biasalah wanita," timpal temannya yang sama-sama sekuriti juga.
__ADS_1