
"Apa!" suara seseorang yang terkejut setelah mendengar informasi dari orang suruhannya.
Brakk!! Sialan!
Orang itu menggebrak meja ruang kerjanya serta memaki umpatan. Sorot matanya menjadi tajam serta rahangnya mengeras.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Amanda tidak boleh menikah dengan pria lain! Dia harus kembali padaku bagaimana pun caranya, aku yang sudah meneror Amanda supaya dia takut dan meminta bantuan aku, Tapi apa ini? kenapa Amanda malah mau menikah dengan Valentino. Aku tidak rela!"
Arghhhh!
Ya, pria itu adalah Tomi, yang ternyata selama ini diam-diam mengawasi Amanda melalui orang suruhannya, guna mengetahui keseharian yang Amanda lakukan.
Bahkan seseorang yang selama ini meneror Amanda itu juga Tomi, dengan tujuan Amanda takut dan meminta bantuannya, tapi siapa sangka malah dimanfaatkan Valentino.
"Besok pagi mereka akan menikah, aku harus menggagalkan pernikahan itu, ya harus." Tomi menatap tajam lurus ke depan, tangannya mengepal, Tomi benar-benar marah juga campur kesal.
Di tempat lain, Amanda saat ini sedang di tempat SPA. Untuk perawatan kulit tubuhnya. Di tempat ini Amanda akan dipijit serta ber lulur, untuk menyegarkan kulitnya serta mencerahkan.
Di tempat ini Amanda datang bersama Jihan, gadis itu juga melakukan hal sama seperti Amanda.
Tidak mau kalah dengan Amanda, juga harus tampil cantik. Itu lah Jihan si sahabat paling reseh, dan pastinya yang disuruh bayar Amanda, benar-benar tidak mau rugi.
Mereka saat ini berbaring di ranjang tempat SPA itu dilakukan, ranjang mereka sebelahan, yang melakukan SPA dua orang, mereka berdua bisa saling mengobrol.
"Amanda," sapa Jihan pada Amanda yang terlihat menikmati pijitan itu.
Hem. Jawab Amanda singkat.
"Aku tidak menyangka kamu akan menikah dengan Valentino, padahal kemarin-kemarin kamu tidak suka."
__ADS_1
"Aku iri sama kamu, kamu cepat banget dapat jodoh, lah aku kenapa masih jomblo aja, kenapa coba Amanda?" Jihan bicara tapi juga bertanya sama Amanda yang langsung membuat Amanda menghela nafas panjang.
"Memang aku tahu, tanya lah sama dirimu sendiri, atau jangan-jangan dulu kamu pernah tuh nyakitin laki-laki jadi sekarang kena karma," ucap Amanda tapi asal bicara, Amanda juga tahu ya mungkin karena belum bertemu jodoh, tapi Amanda bicara seperti itu ingin menakuti-nakuti Jihan.
Tapi ternyata respon Jihan malah membuat Amanda terkejut.
"Iya sih dulu pernah, habisnya aku tidak cinta sama dia, dan dia mengejar-ngejar aku mulu kan aku jadi kesal." Bibir Jihan mengerucut tajam.
"Kamu lakukan apa sama dia?" Amanda jadi penasaran, sekalian kepo dikit.
"Aku pukul kepala dia pakai buku juga tas di depan teman mahasiswa, dan setelah itu dia tidak pernah lagi muncul di hadapan aku, dan aku dengar dia langsung pindah kampus," terang Jihan yang membuat Amanda tidak menyangka bahwa Jihan akan memperlakukan laki-laki seperti itu.
Memukulnya di depan para mahasiswa, kemudian laki-laki itu pindah kampus, jelas saja pasti laki-laki itu malu banget pikir Amanda.
Jihan memang orangnya pemberani juga bar-bar, mungkin saat itu tidak berpikir bahwa akan menyakiti perasaan laki-laki itu. Kan bicara baik-baik bisa tanpa harus mempermalukan seperti itu.
"Berarti kamu jomblo sejak jaman kuliah dulu dong," timpal Amanda ingin memastikan siapa tahu Jihan pernah pacaran setelah lulus kuliah.
"Sudah pernah tapi sama laki-laki suami orang, aku benar-benar tidak tahu kalau dia sudah menikah karena saat itu dia usianya baru 27 tahun seorang CEO tampan sekali sampai sekarang aku belum bisa move on, tapi aku juga benci tiap kali ingat dia." Jihan bicara menggebu.
Sumpah kali ini Amanda tidak bisa menahan tawa.
Hahaha.
"Hei jangan tertawa, dosa loh tertawain orang yang lagi dilema." Jihan tidak terima.
"Ya karena kamu lucu sekali, kamu bilang belum bisa move on tapi setiap kali ingat dia kamu benci. Ayo lah gimana ini ceritanya? Kalau sudah benci ya jangan diingat," nasehat Amanda masih ada tawa kecil.
"Iya juga sih, makanya itu aku sering berpikir apes banget gitu jadi aku," ucap Jihan dengan nada sendu, jelas Jihan jadi sedih.
__ADS_1
"Sudah tidak usah sedih pasti akan segera bertemu jodoh. Ayo mana nih Jihan yang ceria kok jadi sedih gitu wajahnya," ledek Amanda supaya Jihan tertawa lagi.
Apa bila mereka berdua lagi sedang menikmati perawatan di SPA, berbeda dengan Valentino juga Mommy Vio yang saat ini sedang berkunjung ke makam ayah Valentino.
Setelah keluar dari dalam mobil, Valentino menggenggam tangan Mommy Vio, tiap kali datang ke makam, Mommy Vio pasti merasa tubuhnya lemas, perginya suaminya untuk selama-lamanya membuat hidup Mommy Vio seketika hancur.
Kini mereka sudah sampai di dekat pusara ayah Valentino, Mommy Vio juga Valentino berjongkok, mereka membersihkan makam, daun kamboja yang jatuh diatas pusara, Valentino ambil kemudian ia singkirkan.
Mommy Vio sudah menangis saat menaburkan bunga juga parfum wewangian, setelah selesai tangan Mommy Vio di letakkan di pusara suaminya.
"Dad, Mom datang. Kami rindu sama Daddy ingin sekali bertemu Daddy, hadirlah dalam mimpi Mommy sekali saja, Mom ingin bertemu Daddy." hiks hiks. Mommy Vio menangis.
Valentino mengusap punggung tangan Mommy Vio untuk menenangkan wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Dad, putra kita akan segera menikah ... Dulu Daddy pernah berkata akan menyaksikan pernikahan putra kita bersama-sama ... Tapi sekarang Daddy sudah pergi, Mom hanya bisa memberitahu Dad." Tangis Mommy Vio kali ini makin pilu, kenangan indah bersama suaminya seketika melintas di pelupuk matanya. Semakin terpejam semakin kelihatan.
Valentino bangkit pindah posisi di samping Mommy Vio, Valentino mengusap lengan Mommy Vio.
Setelah tangisnya mulai reda, Mommy Vio kembali bicara, "Kami merindukan kamu Dad, yang tenang di sana."
Sekarang gantian Valentino yang bicara, pria arogan itu juga tidak kalah rapuh seperti Mommy nya, Daddy baginya adalah segalanya dan perginya yang begitu cepat menyisakan luka yang sampai sekarang masih membuat hati Valentino sakit apa bila mengingatnya.
"Dad, Valentino mau menikah dengan wanita sangat cantik dan baik, andaikan Daddy masih ada pasti akan menyukainya, dia wanita satu-satunya yang bisa membuat Valentino jatuh cinta setelah Mommy." Valentino tersenyum tapi sudut matanya meneteskan air mata.
Seorang anak pasti akan bahagia apa bila di hari pernikahannya itu dihadiri dua orang tuanya, begitulah yang dirasakan Valentino ingin sekali Dad dan Mom nya datang, namun apa lah daya Daddy nya sudah kembali ke sang pencipta.
Bertumpah air mata keduanya di atas pusara pria yang begitu dicintai dan dirindukan selama ini.
"Kami pamit pulang, Dad." Valentino membantu Mommy Vio untuk berdiri, merangkul pundak Mommy Vio untuk berjalan bersama.
__ADS_1
Pahit manis kehidupan setelah ditinggal pria yang berjasa, sudah mereka berdua lewati bersama.