Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 61. Fitting baju pengantin.


__ADS_3

Hari demi hari terus berganti, kini pernikahan Amanda dengan Valentino semakin dekat, yang saat ini semua persiapan pernikahan sudah 99% yang artinya sudah beres di urus oleh Sekertaris Son dari gedung tempat resepsi pernikahan sampai rumah utama yang sudah di hias indah. Pernikahan akan dilangsungkan besok pagi.


Dan hari ini Amanda ditemani Mommy Vio sedang melakukan fitting baju pengantin yang terakhir.


Kenapa bisa sampai yang terakhir karena kemarin-kemarin saat mencoba baju pengantin, Leonardo yang paling ribet mengatakan kurang cocok untuk Amanda.


Ahirnya gagal dan hari ini mencoba lagi baju pengantin yang pengeluaran terbaru.


Amanda di dalam sana sedang di bantu pelayan butik untuk memakai baju pengantin.


Mommy Vio menunggu di luar sendiri, Valentino juga belum datang, baru saja memberi kabar masih di jalan.


Hah semoga anak itu tidak bikin ulah lagi sampai mengatakan tidak cocok untuk Amanda, pernikahan tinggal esok pagi kalau sampai hari ini tidak mendapatkan baju pengantin lalu Amanda harus memakai baju apa? Batin Mommy Vio yang merasa pusing dengan tingkah Valentino.


"Mom."


Suara Valentino telah datang.


Nah yang baru di batin sudah sampai, awas saja sampai membuat ribet, Mommy Vio sudah mengancam dalam hati.


"Mom, Amanda sudah di dalam?" tanya Valentino sembari duduk di sebelah Mommy Vio.


Hem. Mommy Vio hanya menjawab singkat.


Valentino tidak bertanya lagi, memainkan hp sembari menunggu Amanda, duduk santai dengan satu kakinya bertumpu pada kaki satunya.


Menemani Amanda melakukan fitting baju pengantin, membuat Mommy Vio teringat dengan mendiang suaminya, dulu suaminya persis seperti Valentino dalam memperlakukannya, jadi saat Valentino usil sama Amanda, Mommy Vio jadi ingat dahulu suaminya juga usil sama Mommy Vio, saat fitting baju pengantin dulu juga dikerjain sama suaminya.


Hah Dad, Mommy kangen, batin Mommy Vio dengan segera menyeka bulir bening di sudut matanya sebelum Valentino melihat.


Bersamaan itu pintu ruang ganti dibuka, seketika perhatian Mommy Vio dan Valentino berganti melihat seseorang yang menyembul keluar dari dalam ruang ganti.


Amanda sangat cantik mengunakan gaun pengantin yang kali ini, sangat pas di tubuh idealnya, bagian dada yang tertutup menjadi nilai bagus di mata Valentino, pria itu sampai tidak berkedip memandangnya. Valentino terpana.

__ADS_1


"Bagaimana Tuan?" tanya salah satu pelayan butik yang membantu Amanda, karena kemarin Valentino selalu mengatakan jelek dan hari ini harus bertanya lagi siapa tahu pria tampan yang di lihatnya itu tidak setuju lagi, masih ada sisa satu yang belum dicoba pikir pelayan itu.


"Em-."


"Bagus," sela cepat Mommy Vio, yang seketika dipukul lengannya oleh Valentino.


"Mom, aku yang harus memberikan komentar. Bukan Mommy," protes Valentino yang tidak terima Mommy Vio main asal bilang bagus.


Mommy Vio berdecak. "Valentino, itu gaun sudah bagus! Amanda sangat cantik memakai gaun itu, lihatlah." Mommy Vio menghadapkan wajah Valentino untuk melihat Amanda.


"Mom, aku tidak bilang jelek, aku baru mau mengatakan tadi tapi Mommy sudah menyela cepat," ucap Valentino yang tidak mau disalahkan.


Amanda dan dua pelayan jadi pusing melihat anak dan ibunya yang malah eyel-eyelan.


"Mommy, Valentino ... Apa bila belum cocok sama aku, aku tidak apa-apa ganti gaun lagi," ucap Amanda mengalah dari pada melihat Valentino dan Mommy Vio ribut.


"Tidak usah itu saja sudah bagus, tolong bungkus yang itu saja."


Bukan Mommy Vio yang bicara tapi Valentino, pria itu langsung memerintah pelayan untuk membungkus gaun pengantin itu.


Mommy Vio menghela nafas panjang kemudian kembali duduk lagi, sementara Valentino berjalan menjauh ada yang nelpon dirinya barusan.


Entah apa yang Valentino bicarakan dengan orang yang menelponnya itu, saat kembali meminta ijin sama Mommy Vio untuk pergi lebih dulu.


Mommy Vio tidak bisa mencegah dilihat dari raut wajah Valentino seperti ada hal penting yang harus Valentino segera selesaikan, Mommy Vio mengijinkan Valentino pergi lebih dulu.


Bertepatan Valentino baru saja pergi, Amanda keluar dari ruang ganti, Amanda melihat hanya ada Mommy Vio, tidak melihat lagi keberadaan Valentino.


"Mom, Valentino dimana?" tanya Amanda sembari mendekati Mommy Vio.


Mommy Vio berdiri tersenyum manis. "Valentino sudah pergi lebih dulu, ada hal penting yang harus anak itu selesaikan," terang Mommy Vio yang langsung dijawab anggukan kepala Amanda.


"Ayo." Mommy Vio mengandeng tangan Amanda untuk diajak jalan keluar.

__ADS_1


Di halaman butik ada sopir yang sudah menunggu Amanda juga Mommy Vio, untung saja sopir belum disuruh pulang saat Valentino datang, jadi masih bisa pulang bersama sopir.


Mereka segera masuk ke dalam mobil setelah pintu dibuka oleh sopir tersebut, tidak lama kemudian mobil dijalankan oleh sopir.


"Pak, kita mampir ke restoran dulu ya makan siang," ucap Mommy Vio yang duduk di kursi belakang bersama Amanda, karena saat ini sudah masuk waktunya makan siang.


Lima belas menit, ada sebuah restoran terdekat, mobil berhenti di sana. Mommy Vio dan Amanda berjalan masuk ke dalam.


Amanda dan Mommy Vio sudah ambil posisi duduk di kursi, Mommy Vio memanggil pelayan restoran.


"Mbak!" teriak Mommy Vio, dan pelayan itu seketika mendekat saat dipanggil.


"Ada yang bisa saya bantu Nyo-." ucapan pelayan itu terhenti saat melihat Amanda, yang kebetulan Amanda tiba-tiba melihat wajahnya.


Amanda, batin Dinda.


Ya, pelayan itu adalah Dinda yang saat ini bekerja jadi pelayan restoran, sungguh turun derajat dia.


Amanda tersenyum kecil melihat Dinda, senyum yang dilihat Dinda seperti mengejek.


"Mbak, saya mau pesan ini."


Ucapan Mommy Vio menyadarkan lamunan Dinda, setelah tahu pesanan yang diminta pelanggan restoran, Dinda pergi dari sana untuk menyiapkan pesanan tersebut.


"Kamu mengenalnya?" tanya Mommy Vio karena penasaran saat melihat Amanda dan pelayan tadi saling tatap.


"Mantan karyawan aku."


"Lalu kenapa dia keluar? sudah bagus dong dia kerja di perusahaan kamu," ucap Mommy Vio, jiwa kepo emak-emak yang ingin tahu beraksi.


"Karena dia orang ketiga di rumah tangga aku," ucap Amanda yang mengatakan apa adanya, tidak perlu ada yang ditutup-tutupi, biarlah Mommy Vio tahu masa lalunya.


Mommy Vio sampai terkejut, bahwa pelayan tadi adalah pelakor, Mommy Vio ingin melihat lagi wajah pelayan itu. Tapi saat pesanan sudah jadi yang mengantar lain pelayan bukan pelayan yang pelakor tadi pikir Mommy Vio.

__ADS_1


Hah padahal aku ingin menyindirnya apa bila dia yang mengantar pesanan makanan, batin Mommy Vio sembari menggeser piring berisi makanannya lebih dekat dengannya.


Mommy Vio dan Amanda makan siang dengan tenang.


__ADS_2