Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 83. Menunjukan baik-baik saja.


__ADS_3

Dalam waktu bersamaan di tempat yang beda.


Amanda saat ini sedang berbaring di atas ranjang, sedang menerima telepon dari Valentino. Mereka berdua sedang Vidio call.


Wajah Valentino di seberang sana tersenyum sumringah saat melihat wajah istrinya. Melalui sambungan video call itu.


"Apa kamu sudah mau tidur?" Pertanyaan pertama Valentino setelah tadi hanya saling menatap dan melempar senyum.


"Belum, masih nunggu kamu pulang," jawab Amanda apa adanya, belum bisa tidur kalau Valentino belum ada disampingnya, Amanda baru menyadari setelah tadi berusaha mau tidur lebih dulu namun tetap tidak bisa. Dan hatinya senang saat penyebab dirinya susah tidur ternyata menelpon.


"Aku masih lama Sayang."


Entah kenapa mendengar panggilan sayang Valentino, Amanda merasa bahagia. Merasa dicintai pria itu, padahal panggilan sayang itu umum siapa pun bisa dipanggil sayang, setelah menyadari itu Amanda jadi cemberut.


"Kenapa cemberut mukanya?" tanya Valentino yang menangkap wajah Amanda tiba-tiba berubah cemberut.


"Kamu tidak selingkuh kan?"


Entah kenapa malah kalimat pertanyaan itu yang keluar dari bibir Amanda, wanita itu jadi malu ketahuan sudah menaruh cemburu, padahal selama ini berusaha tidak peduli, hanya karena pernah disakiti.


Hahah! Valentino malah tertawa senang mendengar pertanyaan Amanda itu, jelas lah memang yang Valentino inginkan Amanda bisa miliki rasa cemburu, tanpa bertanya pria itu sudah tahu, karena biasanya jika ditanya wanita suka mengelak.


Padahal cemburu tapi jawabnya tidak, dan jawaban tidak itu artinya cemburu, begitulah Valentino mengartikan.


"Iya tidak lah Sayang, kamu tahu di dalam istanaku hanya kau adalah ratuku," ucap Valentino begitu manis.


Amanda menyebikkan bibirnya, Valentino selalu bisa berkata manis, tapi hatinya tidak bisa bohong, mendengar jawaban Valentino, Amanda merasa bahagia.


"Tuan, meetingnya sekarang dimulai." Terdengar suara Sekertaris Son yang masuk ke sambungan telepon.


Amanda hanya melihat Valentino mengangguk untuk menjawab ucapan Sekertaris Son.


"Sayang, aku kerja lagi ya. kamu tidurlah lebih dulu mungkin pukul dua belas malam aku sampai di rumah." Valentino tersenyum.


"Hati-hati ya? Aku tunggu di rumah." Setelah bicara seperti itu mereka sama-sama memajukan bibirnya seolah mau mencium sebelum ahirnya panggilan telepon Amanda matikan.


Amanda memang belum bisa tidur, ahirnya Amanda mutusin untuk turun ke bawah mau membuat mie.


Sampainya di dapur, Amanda mengambil Indomie goreng satu bungkus, Amanda memasaknya dengan menambahkan cabe irisan, bawang merah dan bawang putih irisan, juga tomat.


Semua bahan itu Amanda tumis setelah baunya harum Amanda kasih air secukupnya, kemudian masukkan mie kedalam. Tambahkan saus juga kecap, masukkan dua butir telur.

__ADS_1


Menunggu beberapa saat, mie goreng ala Amanda sudah jadi.


Setelah mie Amanda pindah ke piring, kemudian ia bawa ke meja makan, dan di makan di sana.


Apa bila dimasak seperti ini, kuahnya akan jadi kental seperti mie ayam yang dijual-dijual itu, variasi masak mie goreng supaya tidak bosan dengan tips itu-itu saja.


Setelah mie dalam piring itu habis, Amanda kembali masuk ke dalam kamar, sembari menunggu Valentino pulang, Amanda nonton film barat.


Pukul sebelas malam.


Valentino baru saja selesai meeting, kini bersama sekertaris Son sudah masuk ke dalam mobil yang sedang melaju pulang ke rumah.


Seharian ini banyak sekali pekerjaan Valentino, sampai malam hari bahkan, rasa ingin segera bertemu bidadari dunianya sudah tidak sabar lagi.


"Son, tambah kecepatan mobilnya tidak apa-apa," perintah Valentino yang saat ini duduk di kursi belakang.


Dan saat itu juga sekertaris Son menambah laju cepat mobilnya sesuai perintah sang Tuan.


Malam hari jalanan sepi, kendaraan yang lalu lalang hanya sedikit.


Sejauh ini masih aman belum ada tanda-tanda akan tiba masalah, namun siapa sangka tidak lama kemudian ada dua mobil yang menghimpit mobil Valentino kanan dan kiri, dan langsung melayangkan tembakan.


Dor.


Sekertaris Son semakin menambah kecepatan mobilnya, wuussss seperti pembalap.


Malam ini di atas jalan aspal itu terjadi aksi kejar-kejaran.


Mobil yang mengejar mobil Valentino terus mengarahkan tembak ke mobil Valentino, tapi tidak ada satu pun peluru yang berhasil menembus kaca mobil itu.


Dor. Dor.


"Son! sampai di depan sana, mundur dengan kecepatan penuh!" perintah tegas Valentino yang saat ini sudah menegang pestol siap untuk membalas, tapi sebelum itu akan membuat kecurangan.


Dan benar saja, saat mobil musuh mulai mendekati mobil Valentino, sekertaris Son memundurkan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Ciiiiittttttt.


Mobil mudur dengan cepat hingga beberapa meter, Sekertaris Son langsung melesat pergi lagi.


Ah sial! Umpat para musuh yang saat ini jadi tertinggal jauh mobil Valentino.

__ADS_1


Mereka balik arah, dan kembali mengejar mobil Valentino.


Sudah berada di jalan yang sedikit aman, namun tiba-tiba merasakan mobilnya tidak enak untuk digunakan.


"Tuan, kita harus keluar dari dalam mobil sekarang, sebelum mereka mendekat, sepertinya ban mobilnya bocor," saran Sekertaris Son.


Tidak ada pilihan lain, mereka berdua memang harus segera keluar dari dalam mobil, Sekertaris Son membawa mobilnya berhenti, dan mereka segera keluar dari dalam sana.


berlari cepat untuk menyelamatkan diri sebelum musuh berhasil mendekat, mereka berdua sudah sama-sama memegang pestol untuk berjaga-jaga.


Berlari bukan karena takut, hanya saja mereka cuma berdua dan tanpa senjata lengkap, tentu bisa kalah.


Namun siapa sangka saat mereka tadi keluar dari dalam mobil, lampu mobil musuh sudah menyorot ke arah mereka, dan cukup sekali gas, mobil musuh sudah dekat dengan mereka. Terjadi aksi tembakan lagi.


Dor. Dor.


Suara tembak musuh yang mengarah ke arah semak-semak dimana Valentino dan sekertaris Son berlari ke sana.


Valentino membidik tepat ke arah kepala musuh yang saat ini keluar dari dalam mobil.


Dor.


Pria itu langsung jatuh ke aspal tertembak tepat kepalanya.


Yang lain tidak tinggal diam, kembali memberikan serangan tembakan bertubi-tubi.


Sampai ahirnya entah ke tembakan yang ke berapa, peluru itu berhasil mengenai punggung Valentino saat sedang berlari.


Valentino dan sekertaris Son terus berlari, seolah rasa sakit di punggung Valentino tidak lagi pria itu rasakan.


Dan ahirnya mereka berhasil aman, mendapat tempat persembunyian.


Musuh terus mencari, karena masih yakin Valentino masih sembunyi di area sini, mereka harus berhasil melumpuhkan Valentino, sesuai perintah sang Bos.


Tapi ternyata sudah tiga puluh menit pencarian, Valentino juga tidak ditemukan, ahirnya mereka pergi dari sana, tanpa membawa jasad temannya yang mati tertembak.


Ya, begitulah kejamnya mereka tidak peduli lagi sama teman apa bila sudah mati.


"Tuan, Anda tertembak," ucap Sekertaris Son yang melihat punggung Valentino mengeluarkan darah segar.


Valentino hanya tersenyum menunjukan ia baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2