
Keesokan paginya, saat Amanda bangun tidur kepalanya terasa sangat berat.
"Aw! kepala aku berat sekali, tubuhku juga merasa menggigil, sepertinya aku sedang sakit." Amanda bicara sendiri sembari membawa tubuhnya untuk duduk di atas ranjang.
Amanda memegangi kepalanya yang terasa berat seraya tangan satunya meraih hp di atas meja samping ranjang.
Amanda menelpon Merry. Menunggu beberapa saat panggilan diangkat.
"Merry tolong kamu bawa dokter ke apartemen aku, saya lagi sakit," jelas Amanda lewat sambungan telepon.
"Baik Nyonya tunggu sebentar, Merry siap-siap dahulu," jawab Merry di sambungan telepon sebelum ahirnya sambungan dimatikan.
Sembari menunggu Merry datang, Amanda memanggil pelayannya, tidak mungkin akan berteriak, Amanda milih menelpon nomor ponsel pelayannya.
Setelah diangkat oleh pelayannya, Amanda meminta dibuatkan teh hangat.
Dan tidak lama kemudian pelayan masuk ke kamar Amanda membawakan teh hangat. Pelayan itu melihat wajah Amanda yang nampak pucat.
"Nyonya sakit?" tanya pelayan itu sembari memberikan secangkir teh hangat ke tangan Amanda.
Amanda menyeruput teh hangat itu sedikit baru menjawab, "Iya bibi, badan aku menggigil."
"Apa mau saya panggilkan Dokter, Nyonya."
Amanda menggeleng. "Tidak perlu, nanti sekertaris saya akan datang ke sini sudah bersama dokter."
Pelayan tersebut mengangguk mengerti, kemudian pamit keluar masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan.
Amanda membawa tubuhnya kembali tiduran.
Satu jam kemudian, Merry tiba di apartemen Amanda bersama seorang dokter wanita, karena sebelumnya Amanda tertidur lagi, jadi dokter harus menunggu di ruang tamu lebih dahulu.
Beberapa saat kemudian Merry memangilnya karena Amanda sudah siap untuk diperiksa. Dokter tersebut pun masuk ke dalam kamar Amanda, sampai di dalam sana melihat Amanda yang wajahnya tampak pucat sekali.
Dokter tersebut langsung melakukan pemeriksaan terhadap Amanda. Mengecek suhu badan dan tensi darah, serta menanyakan keluhan apa saja yang dirasa Amanda.
__ADS_1
Setelah beberapa saat pemeriksaan pun selesai. Dokter tersebut menyimpan kembali alat-alatnya.
Kemudian memberikan beberapa obat pereda demam, juga vitamin untuk Amanda. "Nyonya tolong usahakan jangan terlalu banyak pikiran, tensi darah Nyonya rumayan tinggi, hingga mengakibatkan kepala Nyonya terasa sangat berat," jelas dokter wanita tersebut sembari meletakan beberapa obat untuk Amanda di meja.
"Obatnya dihabiskan ya Nyonya, jika begitu saya ijin pamit," ucap dokter wanita tersebut sembari menunduk hormat.
"Terimakasih." Amanda tersenyum.
Dokter pun ahirnya keluar dari kamar Amanda, di luar kamar Amanda bertemu Merry, kemudian Merry mengantar dokter tersebut sampai ke pintu keluar apartemen Amanda.
"Terimakasih dokter sudah membantu kami," ucap Merry sebelum ahirnya dokter tersebut berjalan menuju lift.
Merry menutup kembali pintunya, kemudian berjalan ke kamar Amanda.
Sampainya di dalam kamar Amanda, Merry berdiri di samping ranjang sembari menatap Amanda yang sepertinya enggan mau sarapan.
"Nyonya, apa ada yang mau Merry bantu, misal Nyonya mau makan makanan yang lain?" tanya Merry namun segera mendapat gelengan kepala cepat Amanda.
"Kamu tetaplah di sini jangan kembali ke perusahaan dahulu." Amanda memberikan mangkuk berisikan bubur itu ke tangan Merry, Amanda tidak mau makan.
Di dalam kamar Amanda benar-benar merasakan tubuhnya tidak enak, Amanda gelisah berbaring diposisi seperti apa pun tetap tidak nyaman.
Tiba-tiba ponsel Amanda bunyi tanda pesan masuk, Amanda membukanya dan membaca pesan itu dari nomor baru.
Apa kamu sudah baikan? By Valentino.
Amanda tersenyum membaca pesan masuk yang ternyata dari Valentino, Amanda kemudian membalas pesannya dengan mengatakan sedang sakit, seketika mendapat balasan pesan cepat dari Valentino lagi.
Apa aku diperbolehkan menjenguk mu, emm bukankah menjenguk orang sakit adalah hal yang baik, apa aku boleh?
Amanda berpikir sesaat, kemudian membalas pesan masuk itu dengan menjawab memperbolehkan Valentino untuk menjenguknya, kemudian Amanda mengirim alamat apartemennya serta lantai kamarnya berada.
Valentino yang saat ini mendapat pesan balasan dari Amanda yang memperbolehkan dirinya datang, langsung jingkrak-jingkrak kegirangan seperti anak kecil.
Sekertarisnya sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah bosnya yang satu ini.
__ADS_1
Valentino kemudian berjalan menuju cermin besar yang sudah di sediakan di ruangan kerja Valentino.
Di sana Valentino membenahi penampilannya supaya tetap terlihat keren, menggerakkan dagunya ke kiri ke kanan. "Son, apa aku sudah terlihat keren, jas yang aku pakai masih licin atau sudah kusut, ayo katakan berikan komentar kamu," ucapnya tanpa melihat lawan bicara masih fokus melihat penampilannya di depan cermin.
Hah bos bos, mau berpenampilan seperti apa pun Anda tetap keren tidak akan yang berubah dari Anda, batin sekertaris Son yang merasa malas harus memberikan pendapat setia kali Valentino ingin tampil keren.
Sekertaris Son bangkit dari duduknya berjalan mendekati Valentino, merangkul pundak Valentino.
Pertanyaannya mengapa sekertaris Son berani merangkul pundak Valentino, karena mereka berdua adalah sahabat dari kecil.
"Sangat tampan," ucap sekertaris Son sembari melihat ke cermin tapi yang dilihat penampilannya sendiri.
Valentino yang mendengar pujian dari sekertaris Son langsung senang, sudah yakin bahwa penampilannya ok.
"Son, aku pergi jaga perusahaan baik-baik." Valentino menepuk pundak Sekertaris Son sebelum ahirnya melangkah pergi keluar dari ruangan tersebut.
Valentino tidak pernah lupa selalu memakai kaca mata hitam, dan penampilannya itu selalu berhasil membuat para karyawan wanita kesem-sem padanya.
Seperti saat ini, di saat Valentino baru keluar dari dalam lift berjalan di lobby menuju pintu keluar perusahaan, para karyawan wanita meneriaki dalam hati. Apa lagi saat menangkap bibir tipis Valentino yang sedikit tersenyum, terlihat semakin tampan. Senyum yang jarang sekali mereka lihat bahkan malah tidak pernah.
Setelah berada di dalam mobil Valentino segera membawa mobilnya melesat pergi dari perusahaan, sebuah mobil sport warna hitam yang sangat cocok dikendarainya.
Tiga puluh menit, Valentino sudah sampai di apartemen Amanda, namun Valentino mendekati sekuriti lebih dulu, entah apa yang mereka bicarakan, tiba-tiba enam sekuriti mengikuti Valentino, membawakan hadiah yang ingin Valentino berikan untuk Amanda.
Setelah sampai di lantai tempat ruang apartemen Amanda berada, Valentino menelpon Amanda, tidak lama kemudian Amanda bersama Merry membuka pintu ruang apartemennya.
Setelah pintu terbuka, Amanda langsung terkejut saat melihat Valentino datang dengan para sekuriti yang berdiri di belakang pria itu.
Sekuriti tersebut ada yang membawa tiga buah mika besar berisi buah-buahan, ada yang membawa tiga mika besar berisi kue.
Mengapa Tuan ini datang kemari seperti orang mau lamaran saja pake bawa rombongan sekuriti, batin Merry yang ingin tertawa.
"Aku membawakan hadiah untukmu, semoga lekas sembuh," ucap Valentino sembari menunjukan hadiah yang sedang di pegang para sekuriti.
"Terimakasih, seharusnya tidak perlu," ucap Amanda yang merasa tidak enak hati.
__ADS_1
Kemudian Amanda mengajak Valentino masuk ke dalam, sementara Merry menerima hadiah-hadiah itu dan membawanya masuk ke dalam.