Bangkitnya Si Bungsu Leonhart

Bangkitnya Si Bungsu Leonhart
Pesan Pak Edward dan Daddy Kenneth


__ADS_3

Pagi ini Xander bangun dengan wajah penuh binar, bagaimana tidak sang kekasih hati telah resmi menjadi tunangannya. Hanya menunggu waktu yang tepat ia akan segera menikahi lebah kecilnya itu.


"Kau bersemangat sekali, Boy?"kata Pak Edward melihat sang putra yang terlihat berbeda dari biasanya.


"Biasa aja, perasaan Papi aja kali!"elaknya.


"Kau ingin restumu Papi cabut?"ancam Pak Edward pada Xander.


"Pi, kau terlihat seperti tidak pernah muda saja!"ketus Xander kesal.


"Utu....utu....anak Papi sudah dewasa, malah tidak terasa kau telah memiliki tunangan, Nak!"ujar Pak Edward mengenang masa-masa kecil Xander dengan mata berkaca-kaca.


Xander memeluk sang Papi dengan begitu erat.


"Terima kasih Pi, untuk semua kasih sayang yang telah Papi berikan selama ini. Dan telah mendidikku dengan baik!"kata Xander.


"Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, Nak. Jaga perasaan pasanganmu, jangan pernah mengkhianati Jo. Dia anak yang baik. Hanya itu yang Papi minta darimu Nak."kata Pak Edward menasihati Xander.


"Xander akan ingat semua pesan Papi, Xander akan menjaga Jo dengan baik. Dia adalah pelabuhan pertama dan terakhirku, Pi!"kata Xander mantap.


"Papi pegang janjimu!"ujar Pak Edward lalu mengurai pelukan itu dan menyuruh sang anak untuk sarapan agar tidak terlambat ke sekolah.


Sedangkan Jo.........


"Baby, ayo bangun!"kata Daddy Kenneth membangunkan sang putri.


"Sebentar lagi, Dad!!"ujar Jo kembali menarik selimutnya.


"Come on Baby Girl, sampai kapan kau akan manja begini. Ingat semalam kau sudah bertunangan sayang."kata Daddy Kenneth gemas.


Jo mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut lalu menatap sang Daddy begitu lama.


"Jo akan menghabiskan waktu seperti ini hingga akhir hayat Daddy, Daddy cinta pertama Jo. Jo sudah kehilangan kasih sayang Mommy, biarkan Jo tetap seperti ini hingga akhir hayat Daddy. Biarkan Jo tetap menjadi Putri kecil Daddy. Jauh dari Daddy adalah hal yang paling Jo takutkan. Mau sudah bertunangan atau tidak, Jo akan tetap seperti ini. Biar saja orang mengatakan kalau Jo egois. Jo ingin laki-laki seperti Daddy yang setia dan membuat kami tidak merasakan kekurangan kasih sayang Mommy. Laki- laki yang bisa menjadi teman kami, ayah kami dan juga guru bagi kami. Jo tidak ingin kehilangan momen saat Daddy menggendong Jo, menyuapi Jo, mengusap kepala Jo, membangunkan Jo setiap pagi, menghukum Jo dan saat Daddy mendengarkan segala cerita dan keluh kesah Jo. Tidak Dad, Jo tidak ingin kehilangan semua itu."kata Jo dengan air mata yang mengalir deras.


Tanpa keduanya sadari Xander dan ke tiga Kakak Jo berdiri di depan pintu kamar Jo, mendengar semua yang Jo katakan. Air mata mereka pun mengalir begitu saja apalagi Dazian. Ia tak menyangka sebegitu bergantungnya sang adik pada Daddy mereka.


Xander sendiri merasa tidak karu-karuan sekarang. Tapi gadisnya memang masih terlalu kecil, semoga saja masanya bermanja-manja dengan sang Daddy masih panjang. Ia tidak ingin melihat gadisnya menangis lagi.

__ADS_1


Air mata Daddy Kenneth turun begitu saja. Ia tak menyangka Jo akan mengatakan semua itu, selama ini Jo terlihat seperti Kakak-kakaknya seolah cuek dengan sekitar. Namun mendengar perkataannya barusan membuat hati Daddy Kenneth begitu hangat. Cinta pertama sang putri untuk dirinya, miliknya. Ia merasa sangat bahagia dan bangga mendengar semua itu.


"I love you more, my Little Princess!"kata Daddy Kenneth memeluk Jo dan mengusap punggung sang putri.


"Love you too, Dad!"kata Jo.


"Sudah sekarang cepat mandi, nanti kamu terlambat ke sekolah, Baby!"kata Daddy Kenneth melihat jam di pergelangan tangan kirinya.


Jo pun menurut dan langsung berhamburan ke kamar mandi, Daddy Kenneth hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putri kesayangannya itu. Daddy Kenneth melangkah keluar meninggalkan kamar Jo. Ia kaget karena kehadiran empat remaja laki-laki di sana yang terlihat seperti baru saja menangis.


"Apa yang kalian lakukan di sini?"tanya Daddy Kenneth pada ke empatnya.


Namun bukannya menjawab pertanyaan sang Daddy ke tiga remaja laki-laki itu malah menghambur ke pelukan sang Daddy. Dengan air mata yang kembali menetes.


"Hei....hei ....ada apa ini?"tanya Daddy Kenneth melihat tingkah aneh ke empat anaknya pagi ini.


Mereka masih belum menjawab, namun Daddy Kenneth sepertinya paham dengan situasi yang sedang terjadi saat ini begitu pun dengan Xander karena ia juga baru mengalaminya dengan sang Papi, Pak Edward.


"Kalian terlihat lucu jika seperti ini."goda Daddy Kenneth pada ke tiga putranya.


"Kau menyebalkan, Dad!"kata Fabian semakin mempererat pelukannya.


Daddy Kenneth speechless mendengar penuturan seorang Dazian yang note banenya selama ini selalu cari ribut dengan sang Daddy.


"Terima kasih untuk semuanya, Dad."tambah Earth.


Namun adegan itu tidak berlangsung lama karena si bungsu Jo, yang terburu-buru menabrak ke empatnya.


"Aduhhhhhh ini kenapa pada rame-rame di depan kamar Jo???? Nggak ada pembagian sembako di sini!"gerutu Jo memegang dahinya.


"Adek!"teriak ke tiga Kakaknya.


"Eit Bang Dazian nangis? Ini pasti mimpi."kata Jo mencubit lengannya sendiri.


"Eh sakit!"teriaknya sendiri.


"Bee......!"kata Xander.

__ADS_1


"Eh Abang juga di sini!"kata Jo kaget.


"Ayo!"kata Dazian menggotong tubuh Jo seperti karung besar.


"Aaaaa Bang turunin kepala Jo pusing. Turunin singa jelek!"kata Jo berontak di panggulan sang Kakak.


"Berani mengatai Abang jelek, hmmmm."kata Dazian mulai menggelitik Jo.


"Ampun.... Abang ......ampun geli.... ampun Dad tolong!"teriak Jo tanpa bisa melawan karena Dazian mengunci semua pergerakan Jo.


"Daz, sudah Lo pengen dimusuhin seharian sama Adek."kata Fabian menarik kerah adik kembarnya yang kelewat nakal itu jika bersama si bungsu.


"Makasi Abang, dan buat Bang Daz kita kemusuhan."ujar Jo kabur meninggalkan Dazian.


"Kapan mereka akan dewasa?"gumam Daddy Kenneth yang terdengar oleh Xander.


"Biarkan saja tetap seperti itu Uncle, karena masa seperti ini belum tentu akan datang di masa depan."kata Xander.


"Kau benar, sebentar lagi mereka akan sibuk dengan urusan masing-masing."kata Daddy Kenneth menghela nafas panjang.


"Tapi saya yakin mereka tidak akan pernah meninggalkan Uncle sendiri. Karena selama ini saya lihat mereka selalu menomor satukan Uncle dalam keadaan apapun terutama Jo!"kata Xander dengan tatapan tidak beralih dari Jo yang sedang kejar-kejaran dengan Dazian.


"Waktu cepat sekali berlalu, baru kemarin rasanya mereka masih mengenakan seragam SD, dan tak lama lagi mereka akan masuk perguruan tinggi dan mengurus urusan klan masing-masing. Begitu pun denganmu Xander."kata Daddy Kenneth.


"Benar Uncle, Papi pun bicara seperti itu!"kata Xander.


"Xander Uncle hanya minta satu hal, Jo satu-satunya putri Uncle nyawa Uncle. Jika suatu saat kamu sudah tidak mencintainya atau pun kau sudah menemukan tambatan hati lain jangan pernah menyakitinya dengan mengkhianatinya, tapi kembalikan saja Jo pada kami. Empat laki-laki ini akan selalu menerimanya dengan baik kembali. Karena jika kamu menyakiti Jo itu sudah sama dengan kamu menyakiti kami berempat. Selama ini kami selalu berusaha agar Jo selalu tersenyum dan tidak terluka."pinta Daddy Kenneth pada Xander.


"Saya tidak akan berjanji Uncle, tapi saya akan buktikan jika saya akan selalu membuat Jo tersenyum dan bahagia. Saya ingin Jo jadi pelabuhan pertama dan terakhir dalam hidup saya. Saya tidak ingin menjadi seorang bajingan hingga mengecewakan kedua orang tua saya, Uncle!"jawab Xander yakin.


"Uncle pegang janjimu, Xander!"kata Daddy Kenneth.


"Guys, ayo sarapan apa kalian ingin terlambat ke sekolah?"kata Daddy Kenneth pada ke empat singa muda itu.


"Ah.... Dad..hah...suruhhhhh dua singa jelek itu. ...berhhhenti mengejar Jo."kata Jo menunjuk pada si kembar.


"Twins, stop it nanti kalian terlambat ke sekolah!"peringat Daddy Kenneth.

__ADS_1


Earth memanggul Jo ke meja makan karena tidak terlihat ada keinginan berhenti dari ke tiga singa itu untuk bermain. Ke tiganya selalu seperti itu selalu lupa waktu jika sudah bertiga.


__ADS_2