Bangkitnya Si Bungsu Leonhart

Bangkitnya Si Bungsu Leonhart
Jo vs Ningsih


__ADS_3

Jo dan semua teman-temannya telah selesai dengan makanan mereka. Setelah itu ke dua puluh tiga Taruna/I Nautika itu berjalan menuju kelas mereka. Karena bosan dengan suasana kantin yang berisik.


"Cabut!!"titah Jo pada teman-temannya.


Semua mata penduduk kantin tertuju pada Jo. Aura kepemimpinan seorang Leonhart muda itu tidak main-main. Para anggota korps pun kagum dengan aura kepemimpinan yang dimiliki seorang Jo.


Jo dan Butet berada paling depan seolah seperti seorang ketua geng dan wakilnya sedang berjalan memimpin para anggotanya. Anehnya Taruna yang lain malah mengekori keduanya dengan setia.


Baru berjalan beberapa langkah Jo kembali didorong oleh Ningsih, kali ini dengan sengaja dan itu dilihat oleh semua penghuni kantin.


"Heh, Lo Junior di sini nggak usah belagu dan nggak ngehargai senior sama sekali."bentak Ningsih pada Jo.


Jo??? Hanya memberi tatapan merendahkan pada Ningsih begitu juga dengan Butet dan Taruna lainnya.


"Itu benar senior, Jo itu suka caper!!"tambah Levia dan diangguki anggota gengnya.


Kini pandangan Jo beralih pada Levia lalu mengeluarkan smirknya.


"Jadi, maumu apa senior??"kata Jo menekan setiap kata yang ia ucapkan tanpa rasa takut.


"Lo nantangin gue, hah??"bentak Ningsih tidak terima merasa ia dipermalukan oleh Jo apalagi ia seorang senior yang juga menjabat sebagai anggota korps.


Anggota korps yang lain mengamati dari jauh pertikaian kedua Taruni beda tingkat itu.


"Dude, wanitamu ditindas seniornya??"ujar Varo pada Xander.


"Kau lihat saja nanti!!"sahut Xander tanpa memutus tatapannya pada kedua Taruni itu.


"Saya tidak menantang Anda, tetapi bertanya Anda mau apa dari saya?? Ucapkan saja akan saya penuhi!!"kata Jo semakin merendahkan Ningsih.


"Wah, cari penyakit tu junior. Kalau senior Ningsih ngajak sparing ntar bisa berabe tuh secara Ningsih pemegang sabuk hitam."kata seorang Taruna dan diiyakan oleh teman-temannya yang lain.


"Gue tantang Lo sparing sekarang di ruang latihan bela diri.!!"tantang Ningsih pada Jo.


"Hancur sudah tu junior!!"ucap seorang senior geleng kepala memikirkan nasib seorang Jo nanti di tangan Ningsih.

__ADS_1


"Deal"jawab Jo tersenyum iblis.


"Jo Lo gila terima tantangan dia, kalau Lo kalah gimana?"tanya Dwi tidak terima dengan semua itu karena di sekolah itu Ningsih terkenal sebagai atlet karate khusus kelas kumitte.


"Tenang aja, percaya ama gue."kata Jo tersenyum.


Ketenangan Jo dalam menerima tantangan Ningsih membuat para anggota korps semakin penasaran dengan seorang Jo.


Satu lagi ya guys di sekolah mereka tidak diperbolehkan membully jika memang merasa tidak senang dengan junior atau senior lain maka mereka boleh menantang lawannya untuk sparing melepaskan semua permasalahan di arena sparing. Tanpa harus membawa orang lain terluka dalam masalah kedua belah pihak. Contohnya masalah antara Jo dan Ningsih tadi.


Semuanya menuju ruang pelatihan karate. Jo dan Ningsih sudah mengganti seragam mereka dengan pakaian karate.


Seorang Senpai pun telah hadir di sana sebagai wasit dalam sparing itu.


Saat ini keduanya telah berdiri di tengah ruangan latihan karate itu. Raut wajah Jo terlihat sangat tenang. Berbeda dengan Ningsih yang menampilkan emosi dan kebringasan di wajahnya seperti singa yang siap menerkam mangsanya.


"Azime!!"ucap Senpai itu pada keduanya sebagai tanda untu memulai sparing.


Ningsih memberikan serangan secara brutal pada Jo. Namun dapat ditangkis dengan mudah dan tenang oleh Jo. Ketika ada kesempatan Jo pun membalas serangan yang dilancarkan oleh Ningsih tapi tidak bisa dihindari atau pun ditangkis oleh Ningsih. Semua yang menyaksikan pun menahan nafas. Ada rasa takut jika Jo terluka ada juga rasa bangga karena Jo mampu mengimbangi serangan Ningsih terkadang Jo malah mendominasi serangan itu.


Keadaan Jo baik-baik saja, nyaris tanpa lebam berbeda dengan Ningsih yang mendapat cukup banyak lebam di wajahnya. Senpai itu mengumumkan Jo sebagai pemenang dari sparing itu.


Ningsih tidak terima karena selama ini ia tidak pernah terkalahkan dalam sparing walaupun yang menjadi lawan adalah senior Taruna. Ningsih melayangkan serangan mendadak pada Jo. Hal itu tentu saja terbaca oleh Jo, karena Jo sudah dilatih sejak umur tujuh tahun sebagai pemimpin mafia. Dengan dengan sebuah Mae Geri (tendangan ke arah depan) Jo berhasil membuat serangan Ningsih lumpuh.


"Bermainlah yang jujur, Senior!!"kata Jo berkata mengejek pada Ningsih.


Tepuk tangan dan sorak sorai dari Taruna seangkatan Jo menggema di ruangan itu.


Xander tersenyum tipis melihat Jo dikerubungi oleh teman-temannya.


Dengan langkah santai Xander berjalan ke arah Jo, memasuki kerumunan juniornya itu lalu menarik Jo begitu saja meninggalkan mereka.


Jo yang ditarik memiringkan kepalanya heran dengan perlakuan seniornya itu.


"Bang Xander kenapa menarik Jo??"tanya Jo polos.

__ADS_1


"Lukamu."hanya itu jawaban yang keluar dari mulut seksi seorang Xander.


Jo yang belum juga connect dengan maksud perkataan Xander tadi hanya menuruti langkah kaki panjang milik Xander menuju ruang pribadinya. Sedang di ruang latihan karate para junior dan senior menatap ke arah kedua senior junior itu dengan kepala dipenuhi banyak pertanyaan. Apa hubungan seorang Jo dengan Xander, si batu karang anti wanita.


"Sepertinya karang itu telah menemukan lautan tempatnya untuk tinggal!!"celetuk Varo dan diangguki anggota korps lainnya kecuali beberapa orang yang mengepalkan tangan karena jeolus dan cemburu pastinya.


Setiba di ruangan Xander, Jo disuruh duduk oleh Xander, kemudian ia mengambil kota p3k untuk mengobati luka di tangan Jo dan lebam samar di wajahnya.


"Kayaknya nggak perlu diobati deh Bang. Nggak sakit lagian."tolak Jo menyentak tangannya dari pegangan Xander.


Xander tidak menyerah dan kembali mengambil tangan Jo.


"Nurut dan diam!!"perintah Xander pada Jo.


Jo kicep dengan deep voice milik Xander, dia pun diam tanpa bicara lagi.


"Jantung kok jedag jedug gini ya...., kalau sakit jantung gawat ini. Kasihan Daddy sama Abang ntar malah jadi repot!!"bathin Jo merasakan detak jantungnya yang bertambah cepat.


"Done!!"ujar Xander merapikan kotak P3K yang tadi ia pakai.


Jo tidak mendengar sama sekali perkataan Xander karena sibuk memikirkan detak jantungnya yang semakin cepat.


"Jo......"panggil Xander pada Jo namun tidak juga digubris.


"Baby......"lagi Xander memanggil Jo membuat Jo terkesiap dan seketika memanggil Daddy.


"Daddy......"ucap Jo tanpa sengaja karena yang biasanya memanggil seperti itu adalah Daddy Kenneth.


Xander terkekeh mengelus sayang pucuk kepala Jo.


"Maaf Bang, Jo kira tadi Daddy yang manggil Jo. Karena cuma Daddy yang boleh manggil Jo seperti itu!!"ujar Jo kesal pada Xander.


"Maafkan Abang, habisnya kamu diam ketika Abang panggil kamu tadi.!!"kata Xander.


"Oh iya, udah selesai ya Bang Jo ke kelas dulu. Makasi."ujar Jo langsung kabur keluar dari ruangan pribadi milik Xander.

__ADS_1


Xander bersandar di pintu sambil bersidekap dada melihat Jo lari terbirit-birit.


__ADS_2