
Kegiatan mereka di markas FIRE DRACO telah selesai, sekarang ke lima orang itu beranjak menuju mansion Daddy Kenneth. Setibanya di mansion Jo bergegas turun ia jadi teringat dengan mainannya alias Aunty Anneth. Tanpa sepatah kata pun Jo pergi meninggalkan ke empat laki-laki itu di garasi dan bergegas ke kamar Aunty Anneth. Sedangkan ke empat laki-laki beda usia itu menatap heran Jo yang ngacir begitu saja.
"Gimana keadaannya sekarang, Uncle??"tanya Jo pada pengawal yang berjaga di depan pintu kamar Aunty Anneth.
"Sepertinya dia mulai mengalami depresi, Jo dan halusinasinya juga semakin menjadi."jelas pengawal itu pada Jo. Jo tersenyum mendengar penuturan pengawalnya.
"Ceklek"
Jo membuka pintu kamar Aunty Anneth. Terlihat keadaan wanita itu yang sangat memprihatinkan. Kedua tangan yang masih terikat dan juga memerah karena diikat dengan begitu kuat. Mata yang memerah dan juga sayu serta racauan yang tidak jelas keluar dari mulutnya. Tatapannya kosong menerawang ke depan. Jo mencengkram kuat rahang Aunty Anneth.
"Keeenn......!!"terdengar Aunty Anneth memanggil nama Daddy Kenneth lalu menoleh ke arah Jo dan hal itu sangat tidak disukai oleh Jo.
"plaaaaak"
"Dasar j*l*ng dalam keadaan mengerikan gini Lo cuma ingat Daddy gue. Gila ya ambisi Lo."ujar Jo geleng-geleng kepala. Jo keluar dari kamar Aunty Anneth.
"Kasih dia obat itu tiga kali lagi, lalu lepas ikatannya!!"titah Jo pada para pengawal yang berjaga di depan kamar Aunty Anneth.
"Baik, Jo!!"jawab keduanya serentak.
Sekarang Jo beralih ke kamar Clara.
"ceklek"
Clara terkejut dia menyangka sang Mommy lah yang membuka pintu kamarnya ternyata bukan, itu adalah Jo.
"Apa yang Lo lakuin di sini sialan!!"bentak Clara sambil mencoba bangkit dari ranjang seraya menahan sakit di punggungnya yang terkena cambukan dari Jo.
"Jangan lupa Nona Clara yang terhormat ini rumah gue, jadi gue bebas mau ke mana saja. Gimana Lo mau nambah hukuman Lo??"tanya Jo lagi.
Clara mendengus kasar, ingin sekali rasanya Clara mencakar wajah Jo yang terlihat angkuh itu.
"Keluar.....!!"bentak Clara pada Jo.
Jo mendekat ke arah Clara, lalu menarik kasar rambutnya hingga wajah Clara mendongak.
__ADS_1
"Dengerin gue, ini baru permulaan atas semua yang kalian telah lakuin pada gue dan juga keluarga gue. Hingga nafas terakhir kalian, gue nggak akan berhenti buat nyiksa Lo berdua. Tenang aja gue bakal lakuin secara perlahan agar Lo bisa selalu mengingatnya bahkan ketika Lo diambang maut!!"ujar Jo lalu menghempas kasar kepala Clara hingga membentur meja nakas.
"Aghhhhhhhhh"
Clara memegangi jidatnya yang mendarat sempurna di sudut meja nakas itu sepertinya terluka lagi, pikir Clara.
Jo keluar dari kamar Clara dengan senyuman devilnya. Kemudian Jo bergegas ke kamarnya untuk bersih-bersih, karena sebentar lagi makan malam.
Jo sampai di kamarnya, tanpa sadar pandangannya tertuju pada potret sang Mommy yang tengah menggendongnya diapit oleh para singa lainnya.
"Mom, Jo rindu Mommy. Jo nggak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini. Jo akan membalas mereka yang telah menyakiti keluarga kita Mom, termasuk Opa Steven dan anak-anaknya yang telah menyakiti Daddy. Jo nggak akan memberi ampun pada mereka, Mom. Sekarang Jo tidak menyalahi Daddy sepenuhnya atas apa yang Daddy lakukan di kehidupan Jo sebelumnya. Daddy juga mengalami sakit yang sama seperti yang Jo rasakan dulu. Sampai sekarang mereka masih merongrongi Daddy, Mom. Berusaha mengambil apa yang Daddy dan Mommy telah bangun secara susah payah dari nol. Tapi sekarang Daddy telah berubah Mom, begitu juga dengan Abang. Mereka sepertinya udah bisa nerima kehadiran Jo di dalam kehidupan mereka. Jo akan menjaga mereka dengan baik, Mom. Love you My Angel!!"ujar Jo seraya mencium potret sang Mommy yang tengah tersenyum itu.
"Maafkan Daddy, nak!!"bathin Daddy Kenneth yang tidak sengaja mendengar curahan hati sang putri lalu berbalik ke kamarnya.
Sebenarnya Daddy Kenneth ingin memberikan gelang milik mendiang sang istri pada Jo. Melihat pintu kamar Jo yang tidak tertutup rapat Daddy Kenneth berinisiatif untuk langsung masuk. Namun sebelum masuk ia malah mendengarkan curahan hati sang putri yang menusuk tepat di jantungnya. Apalagi mendengar ucapan sang putri yang tidak sepenuhnya menyalahkan tindakannya dulu dan juga bagian perkataan Jo yang merasa masih ragu kalau mereka sudah menerima Jo dengan sepenuh hati. Sungguh rasanya dia adalah orang tua yang buruk untuk anak-anaknya.
Jo meletakkan kembali foto sang Mommy, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setengah jam setelahnya Jo merasa lebih fresh kemudian turun ke bawah untuk makan malam.
Dapat Jo lihat ke empat singa lainnya telah berkumpul di meja makan. Dan juga Clara yang memaksakan diri untuk ikut makan malam berniat mencari perhatian ke tiga kakak Jo dan juga Daddy Kenneth dengan kondisinya yang .....sedikit ia buat kacau.
"Baby, how your day??"tanya Daddy Kenneth yang mendapat laporan kalau ada yang berniat membully sang putri.
"Not good to be good!!"jawab Jo asal.
"Memangnya ada apa, Dad??"tanya Fabian.
"Tadi ada yang berniat membully adikmu di sekolah dan ternyata malah jadi korban bully!!"ujar Daddy Kenneth.
"Adek nggak apa-apa??"tanya Dazian membolak-balik tubuh Jo.
"Bang, Jo bukan anak kecil lagi, Jo bisa jaga diri sendiri."kata Jo jengah dengan perlakuan sang Kakak.
"Sebesar apa pun kamu tetap adik Abang, bontotnya Voultury Anderson!!"tegas Dazian dan diangguki oleh Earth dan juga Fabian.
Daddy Kenneth terkekeh dengan reaksi putri kecilnya yang kesal karena tindakan Dazian.
__ADS_1
"Apa pokok permasalahannya, Dek??"tanya Earth.
"Bang Xander!!"jawab Jo singkat.
"Kenapa semua orang begitu menginginkan apa yang dimiliki adikku ini??"tukas Dazian tidak suka.
"Karena Adek kita sempurna makanya semua iri dengan apa yang ia miliki. Adek mampu berdiri dengan kemampuan sendiri makanya ia bisa meraih dan memiliki semuanya. Bukan cuma hasrat dan nafsu belaka tapi usaha nggak ada!!"ujar Fabian.
"Tentu saja Adek berjalan dengan cara yang elegan dan terencana dengan baik, jadi kemungkinannya untuk jatuh sangat kecil. Dan yang pasti Adek bukan tipe pecinta milik orang. Nggak murahan!!"kata Earth dengan menekan kata murahan.
"Jadi anak itu menginginkan Xander juga??"tanya Daddy Kenneth.
"Tidak cuma Bang Xander, seluruh teman Jo juga. Padahal Jo udah nyuruh dia buat larang Bang Xander deketin Jo dan kalau berhasil bakal Jo traktir eh dianya malah kabur, aneh kan Dad. Jo juga nyuruh dia buat ngelabrak Bang Xander biar ngejauhin Jo, Jo kan bosan Dad kalau tiap hari si Levia itu bikin ulah terus ama Jo??"ujar Jo polos.
"Astaga punya anak prawan satu gini amat ya.....semoga Xander betah sama sikapmu, Baby??"bathin Daddy Kenneth meringis mendengar pernyataan sang putri.
"Adek gue, gini amat ya polos banget. Harus dijaga ekstra ketat ini mah!!"bathin ke tiga Kakak Jo mengusap-usap pelipis mereka.
Jo heran memperhatikan reaksi Daddy dan ke tiga kakaknya.
"Dad, Abang ada apa? Ucapan Jo salah ya??"tanya Jo polos.
"Nggak Baby/Dek."sahut ke empatnya kompak.
"Lalu apa yang terjadi dengan temanmu itu, Baby??"tanya Daddy Kenneth penasaran.
"Dia mengadu ke Bang Xander yang kebetulan lewat bilang kalau Jo membully mereka. Padahal nggak Jo bully, mereka menarik paksa tangan Jo lalu Jo sentak ya udah jatuh merekanya. Lalu ngadu kalau Jo membully mereka. Ya Jo bilang sama Bang Xander kalau dituduh sembarangan gini mending tadi Jo patahin tangan atau kepalanya sekalian toh hukumannya bakal sama. Lantas Bang Xander bilang ya udah patahin aja!! Gitu Dad!!"ujar Jo menjelaskan secara singkat.
"Astaga si Xander ini!!"bathin Daddy Kenneth heran kekasih sang anak malah mendukung anaknya melakukan hal itu.
"Ya ampun!!"bathin ke tiga kakak Jo kaget dengan tindakan Xander.
"Jadi kamu suka membully orang Jo, pantas saja kamu jahat sama aku dan juga Mommy!!"ujar Clara dengan tatapan dibuat sendu.
"Khusus Lo sama nyokap Lo emang bakal gue bully tiap. Ingat itu tiaaaap haaari!!"kata Jo menoyor kepala Clara hingga terhuyung ke belakang.
__ADS_1
"Baiklah, kita makan!!"titah Daddy Kenneth dia tidak ingin semakin pusing memikirkan kelakuan polos putrinya.