
Ini adalah hari kedua Jo mengikuti kegiatan jurit tangkas. Badan Jo terasa lengket semua karena tidak berganti pakaian dari kemarin. Cukup melelahkan kegiatan hari ini. Hingga kegiatan usai pada sore harinya. Mereka sekarang sedang diistirahatkan untuk mengikuti kegiatan jurit malam agar bisa mempersiapkan mental dan fisik mereka secara baik. Sebagian dari mereka ada yang memilih selonjoran sambil berbincang dan ada juga yang membaringkan tubuh mereka di atas hamparan pasir. Karena saat ini mereka semua di kumpulkan di sebuah pantai yang dilingkupi oleh perbukitan indah, yang memiliki suasana nyaman dan tenang. Jo sangat menikmati suasana saat ini untuk merilekskan pikiran dan tubuhnya. Salah seorang senior Taruna mendekati Jo, dan duduk di sampingnya.
"Hii"sapanya pada Jo.
"Oh iya"jawab Jo sekenanya.
"Kamu nggak istirahat Dek??"tanya senior itu pada Jo yang terlihat cuek.
"Nih, lagi istirahat......"ucapan Jo terpotong.
"Panggil saja Bang Xander, kita nggak lagi di jam dinas. Dan nama kamu??"tanya senior itu pada Jo.
"Jo"sahut Jo singkat.
"Hmmmm"gumamnya kemudian keduanya terdiam larut dengan pikiran masing-masing.
Tak lama Jo pun tertidur dalam keadaan duduk bersandar pada sebuah batang kelapa. Xander yang melihat itu tersenyum tipis dan memindahkan kepala Jo dengan hati-hati ke pahanya agar Jo bisa tidur lebih nyaman.
"Do you like her, Dude??"tanya salah satu anggota korps teman Xander.
"Hmmmm"
Suasana senja di pantai mendukung Jo semakin terlelap dengan dunia mimpinya hingga sampai jam makan malam Jo pun dibangunkan oleh Xander.
"Jo wake up!!"ujar Xander menepuk pelan pipi Jo.
Jo masih belum bergeming dan masih setia dengan alam mimpinya.
"Jo,.... wake up!!"ujar Xander kali ini dengan menjepit hidung Jo.
"Ash..... Dad stop that!!"racau Jo yang masih tertidur dan membuat Xander mengangkat sudut bibirnya.
"Menggemaskan"ujarnya.
"Jo, wake up!!"kali ini terpaksa Xander mengguncang bahu Jo dan berhasil Jo terbangun.
Jo kaget karena ia terbangun dengan disuguhi pemandangan seorang laki-laki yang bisa dibilang berparas sangat tampan dan mempesona serta rahang tegasnya yang menambah kesempurnaan wajah miliknya.
Jo langsung terduduk sadar kalau ia baru saja menjadikan paha seniornya itu sebagai bantal untuk tidur.
"Maaf senior!!"ujar Jo.
"That's okay, saatnya kamu kumpul untuk makan malam."katanya berlalu meninggalkan Jo yang masih ling lung.
Tanpa membuang waktu Jo segera bergabung dengan teman-temannya untuk makan malam.
Di mansion Leonhart......
Di meja makan masih terlihat kosong, padahal ini sudah masuk jam makan malam malah sudah sangat terlambat. Aunty Anneth dan Clara masih setia menunggu kedatangan para lelaki Leonhart yang mana satu pun belum menunjukkan batang hidungnya di mansion ini.
"Ke mana mereka kenapa belum ada yang pulang??"kesal Clara yang sudah kelaparan sejak tadi.
"Sabar sayang, kita tunggu sebentar lagi. Mereka pasti akan segera pulang karena ini sudah hampir jam delapan malam."bujuk Aunty Anneth pada Clara.
Tidak lama Daddy Kenneth dan ketiga bujangnya pulang.
__ADS_1
"Kalian sudah pulang, bersihkan badan kalian dulu setelah itu kita makan malam!!"kata Aunty Anneth lembut seperti seorang ibu rumah tangga yang baik.
"Kami sudah makan malam di luar!!"sahut Earth datar dan berlalu ke kamarnya.
Begitu pun dengan ketiga orang lainnya yang melangkah menuju kamar masing-masing. Namun Aunty Anneth mencekal tangan Daddy Kenneth mencegahnya masuk ke kamar dan membujuknya agar mau makan malam. Wajah Daddy Kenneth berubah pias. Dengan kasar ia menghempaskan tangan Aunty Anneth hingga Aunty Anneth terjerembab dan membentur sudut meja makan menyebabkan memar pada dahinya.
"Sssssh"desisnya menahan rasa nyut-nyut di dahinya.
"Mommy......"teriak Clara.
"Uncle kenapa kasar pada Mommy, Mommy kan hanya mengajak Uncle untuk makan malam!!"ujar Clara dengan mata berkaca-kaca.
Daddy Kenneth jongkok dan melihat ke arah Aunty Anneth cukup lama.
Aunty Anneth menyangka drama Clara berhasil, karena Daddy Kenneth yang mendekat padanya dan memegang dahi Aunty Anneth yang memar.
Para bujang Leonhart kesal bukan kepalang melihat tindakan yang dilakukan oleh Daddy Kenneth.
"Dad, what are you doing. Stop that!!"ujar Earth kesal.
Aunty Anneth bersorak penuh kemenangan dalam hati karena perlakuan Daddy Kenneth padanya, merasakan eforia kemenangannya sudah dekat.
Tapi yang terjadi selanjutnya di luar skenario, Daddy Kenneth memegang rahang Aunty Anneth dengan keras hingga menimbulkan rasa sakit yang tidak main-main bagi Aunty Anneth.
"Ken, apa yang kau lakukan?? Ini sangat menyakitkan Ken!!"ujarnya dengan air mata yang mulai mengalir menahan rasa sakit.
"Uncle lepaskan Mommy, ia sudah sangat kesakitan."bujuk Clara mencoba melepaskan tangan Daddy Kenneth dari rahang sang Mommy.
Ketiga bujang Leonhart tersenyum miring melihat adegan itu.
Kembali dengan kasar Aunty Anneth didorong oleh Daddy Kenneth hingga sekarang kepala belakangnya yang membentur dinding.
"Lain kali jaga batasanmu!!"ujar Daddy Kenneth berlalu meninggalkan ruang makan.
"Ha.....ha....ha...ada telor ayam nggak tuh di kepala??"ejek Dazian.
"Aduh...aduh kasian Mak"tambah Fabian tersenyum puas.
"Oi, anak rubah obatin noh Mak Lo, ntar modar lagi nambahin beban kita lagi"kata Dazian.
"Bang Earth tolong bantu Mommy berdiri, Clara nggak sanggup kalau sendirian."ujar Clara memelas.
"Kamu saja, kamu kan anaknya. Saya nggak ada urusan dengan itu saya lelah"jawab Earth meninggalkan ruang makan.
"Selamat berjuang, Sob. Moga nggak nong-nong tu jidat Mak Lo ya. Bye..."ujar Dazian mengejar Earth dan Fabian yang telah lebih dulu melangkah menuju lift.
"Aghhhhhhhh sakit sialan!!"umpat Aunty Anneth.
"Mom, kenapa jadi gini sih??"kesal Clara pada Aunty Anneth.
"Kita akan pikirkan rencana lain untuk mendapatkan perhatian mereka, sekarang bantu Mommy ke kamar dulu!!!"titah Aunty Anneth pada Clara.
Jo saat ini sedang bersiap untuk mengikuti kegiatan jurit malam. Mereka diharuskan mendaki perbukitan yang ada di pantai itu hingga menemukan pos angkatan laut di akhir rutenya. Mereka harus menembus hutan dan tidak diperbolehkan naik bersama-sama. Satu persatu dan di dalam hutan senior mereka telah menunggu untuk menakuti mereka. Sekarang tiba giliran Jo untuk menerobos perbukitan itu. Xander mendekati Jo dan berbisik.
"Hati-hati dengan langkahmu di dalam sana!!"kata Xander memperingati Jo.
__ADS_1
"Hmmmm"sahut Jo.
Jo pergi ke meja pembina untuk menerima pesan yang yang harus ia sampaikan ke pos terakhir.
"Baik siapa nama kamu, Catir??"tanya guru laki-laki itu.
"Jonathan Aurelia Leonhart, Pak!!"jawab Jo.
Kemudian Jo diberikan sebuah kertas dan Jo harus menghafal isi pesan yang harus ia bawa ke pos akhir.
Jo mulai mendaki perbukitan itu, agak sedikit licin disebabkan lumut dan juga karena baru saja turun hujan. Jo terus menerobos kegelapan perbukitan tanpa ada sedikitpun penerangan. Hingga langkah Jo terhenti pada sebuah batang besar yang telah tumbang dan melintang di depan langkahnya. Jo memperhatikan sekeliling samar-samar ia melihat ada sebuah gubuk.
"Apa ini pos akhir ya, tapi tadi katanya pos akhir berada di dekat jalan raya. Kayaknya bukan ini deh, tidak ada bunyi kendaraan atau penerangan jalan yang terlihat. Gue harus jalan lagi!!"gumam Jo.
Saat Jo memanjat sebuah batu Jo dikagetkan dengan sebuah tangan yang memegang pergelangan kakinya dengan kuat, refleks Jo menarik tangan itu dan memelintirnya.
"Aghhhhhhhh"teriak suara orang yang tangan terkena pelintiran Jo.
"Shiiiiit!!"umpat Jo menyadari itu adalah senior yang menyamar dan segera membantunya.
"Maaf, senior terluka tidak??"tanya Jo khawatir.
"Bawa saya ke pos akhir, sepertinya tangan saya terkilir!!"kata senior bername tag Nofia Sandra itu.
"Baik senior"sahut Jo.
"Nambah penderitaan gue aja ni orang"bathin Jo.
Sekitar lima belas menit kemudian Jo sampai di pos terakhir terlihat sebagian teman-temannya sudah beristirahat.
"Loh ini kenapa??"tanya Serda Iwan pada Jo.
"Anak ini memelintir tangan saya, instruktur!!"adu senior itu pada Serda Iwan.
"Senior lemah!!"ujar Serda Iwan mengambil alih senior yang terluka tadi. Kemudian Jo disuruh melapor ke pos akhir. Di sana Sertu Chairil sudah duduk menunggu pesan yang dibawa tiap calon Taruna/I.
"Apa pesannya??"tanya Sertu Chairil to the point.
"TELAH DITEMUKAN SESOSOK MAYAT PEREMPUAN DALAM KEADAAN MATA MELOTOT DAN LIDAH TERJULUR. SEGERA KIRIMKAN SATGAS."jawab Jo.
"Bagus, bergabunglah dengan teman-temanmu!!"titah Sertu Chairil.
Jo mendudukan diri di samping salah seorang calon taruna bernama Andre dan meluruskan kakinya. Tiba-tiba Jo kaget karena rasa dingin di pipinya. Ternyata Xander yang memberikan minuman untuk Jo kemudian ia segera pergi ke pos kesehatan.
"Eh Lo kenal Ama tu senior??"tanya taruna di sampingnya.
"Nggak!"sahut Jo.
"Kok dia kasih Lo minum??"tanya Andre lagi.
"Nggak tau"sahut Jo lagi.
Karena memang haus Jo pun meminum minuman pemberian Xander. Xander yang melihat dari jauh hanya mengangkat sudut bibirnya memandang ke arah Jo.
Setelah semuanya lengkap, mereka diintruksikan untuk tidur karena saat subuh mereka akan memulai Long March menuju sekolah.
__ADS_1