Bangkitnya Si Bungsu Leonhart

Bangkitnya Si Bungsu Leonhart
Firasat Jo


__ADS_3

Jo dan Xander telah sampai di SMK JALA BUANA. Di parkiran terlihat Butet, Andre, Dwi dan Varo yang tengah menanti keduanya.


"Tumben datang bareng?"tanya si biang kepo Varo.


"Sekali-sekali!"sahut Jo yang baru saja turun dari motor.


Ke tiga pasangan bucin akut itu segera melangkah ke kelas Jo untuk mengantar para bidadari mereka terlebih dahulu. Dan jangan lupa ritual yang mereka lakukan setiap pagi, mengumbar kemesraan. Tak lama bel masuk pun berbunyi dan memaksa ke tiga remaja laki-laki itu untuk lekas beranjak ke kelas mereka juga.


Tapi entah kenapa perasaan Jo tidak tenang sedari tadi. Hingga membuatnya tidak fokus menghadapi pelajaran hari itu. Namun Jo berusaha untuk mengendalikan emosinya dan menyugesti dirinya bahwa semuanya baik-baik saja.


Hingga jam istirahat tiba Jo masih juga merasakan kegelisahan di hatinya dan ini semakin menjadi.


"Ini ada apa sih?"gumam Jo seperti orang kebingungan.


Butet memperhatikan Jo sedari tadi dan ia tau jika sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Jo Lo kenapa? Dari tadi gue perhatiin Lo gelisah terus. Apa Lo sakit?"tanya Butet pada Jo.


"Gue nggak tau tapi perasaan gue dari tadi nggak enak, Tet!"jawab Jo.


"Emang ada apa? Lo lagi mikirin apa sebenarnya?"tanya Butet.


"Nggak ada cuman hati gue dari tadi nggak tenang, Tet!"sahut Jo lagi.


Tiba-tiba handphone milik Jo berdering, Jo pun melihat siapa yang meneleponnya di saat jam sekolah begini. Tidak ada tertera nama penelpon. Hanya sebuah nomor pribadi.


Sejenak Jo ragu untuk mengangkatnya. Namun entah kenapa akhirnya Jo mengangkat panggilan itu.


"Hallo."


"............."


"Siapa Lo?"


"............."


"Bangs*t!!"


Tanpa pikir panjang Jo berlari ke parkiran untuk mengambil motornya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Butet yang panik pun bergegas berlari ke kelas Andre untuk memberi tau Xander.


"Honey, ada apa?"tanya Andre pada sang kekasih yang ngos-ngosan sehabis berlari dari kelasnya.


"Ihhtu.... Bahhng Xander...Jo pergi keluar sekolah setelah mendapat telepon dari seseorang."lapor Butet.


Jantung Xander berdegub kencang, entah kenapa tiba-tiba perasaannya jadi tidak enak. Xander, Andre dan Varo berlari ke parkiran mencari Jo namun terlambat Jo sudah menghilang. Xander seketika panik dan langsung menelpon Pak Edward.


"Hallo, Pi!"


".............."


"Jo pergi setelah mendapat telepon dari seseorang Pi, aku harus segera mencarinya tolong beri tau Uncle Ken!"

__ADS_1


"............"


Xander pun menaiki motornya untuk mencari tau posisi Jo saat ini.


Di sisi lain Jo tengah gila-gilaan memacu kecepatan motornya untuk menuju tempat yang tadi dikatakan padanya melalui telepon tadi.


Setelah sampai di sana Jo memindai keadaan sekeliling, ia pun mengeluarkan Desert Eagle yang selalu ia bawa. Perlahan Jo melangkah menelusuri tempat itu.


"Prooook"


"Prooook"


Terdengar bunyi tepukan tangan dari lantai atas gedung kosong itu.


"Ternyata singa kecil ini cukup berani datang sendiri ke mari!"ujar laki-laki itu menuruni tangga.


"Alex, baj*ngan ternyata. Cuma berani main belakang, banci Lo!"ejek Jo.


"Beraninya kau berkata seperti itu jal*ng kecil. Kau lihat saja apa yang akan kulakukan atas perbuatanmu pada Anneth dan juga Rindu!"sarkas Alex.


"Gue masih punya dua lagi buat dijadiin mainan peliharaan gue!"jawab Jo tanpa rasa takut.


Alex memberi tanda pada bawahannya untuk membawa keluar kedua Abang kembar Jo yang dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Lo lihat di tubuh kedua Abang Lo!"tunjuk Alex pada tubuh Fabian dan Dazian yang dipasangi bom.


Jo sedikit terkejut melihat semua itu namun ia dengan cepat menormalkan kembali ekspresi wajahnya.


"Lo nantangin gue,hah?"bentak Alex pada Jo.


Jo mengotak atik handphonenya lalu mengirimkan dua buah video pada kontak Alex.


Begitu pesan itu masuk Alex segera membacanya. Matanya membola karena ibunya dan juga Clara juga telah dipasangi bom oleh Jo.


"Gimana?"tantang Jo balik.


"Lepasin mereka, jal*ng!!"bentak Alex.


"Lo lepasin Abang gue terlebih dahulu!"kata Jo.


Tapi sepertinya Alex tidak bergeming, ia tetap diam.


Tanpa aba-aba Jo langsung menembak tangan Alex yang memegang detonator itu.


"Sial!"umpat Alex memegangi tangannya yang terluka.


"Habisi dia!!"titah Alex pada anggota-anggotanya.


Jo menghajar anak buah Alex secara membabi buta, seluruh emosi dan dendam yang ia pendam selama ini ia lepaskan melalui pukulan pada mereka.


Alex mengeluarkan sebuah pisau dari sakunya dan mulai menyerang Jo. Jo menghadapinya dengan tenang. Ia tidak ingin gegabah salah-salah bisa-bisa ia yang terluka terkena pisau itu.

__ADS_1


Jo memukul kuat tangan Alex yang memegang pisau lalu menendang pisau itu sejauh mungkin.


Jo menginjak dada Alex dengan sangat kuat hingga terdengar seperti ada tulang Alex yang patah.


Di saat bersamaan, si kembar tersadar dan berteriak memanggil Jo.


"Adek.....!"panggil keduanya serentak.


Jo sontak menoleh pada kedua Abang kembarnya, Alex tidak menyia-nyiakan kesempatan itu ia pun menggapai pisau yang tadi Jo tendang.


Dalam sekejap mata Alex menusukkan pisau itu ke perut Jo secara brutal.


"Adek......!"teriak si kembar bersamaan.


Jo kembali menoleh ke arah Alex.


"Good bye, bit*h."kata Alex dengan senyum penuh kemenangan.


"Kalau gue harus mati, maka Lo juga harus ikut gue!"ujar Jo menembak dada Alex dari jarak dekat dan dapat dipastikan empat peluru itu bersarang di jantung Alex. Alex ambruk bersamaan dengan Jo yang limbung...kesadarannya pun mulai berkurang.


"Adek,.....bangun Dek.!"panggil si kembar mulai menangis namun tidak bisa melakukan apa-apa karena tubuh mereka terima dan dipasangi bom.


"Baaang.....!"panggil Jo lirih tersenyum ke arah si kembar.


"Baby...........!"terdengar suara seorang laki-laki terdengar panik memanggil Jo dari jauh.


"Dad.......kami di sini.!"teriak Dazian berharap sang Daddy mendengar teriakannya.


"Bee........kau di mana?"kali ini suara Xander yang terdengar menggema di sekitar bangunan kosong itu.


"Bang Xander.......kita di sini!"teriak Fabian.


Akhirnya Xander menemukan posisi ke tiga orang itu.


"Astaga... Bee bangun!"ujar Xander panik melihat Jo sudah tidak sadarkan diri.


Tangis Xander pecah mencoba membangunkan Jo.


"Bang cepat bawa ke rumah sakit!"ujar Dazian yang menyadarkan Xander dari tangisannya.


"Baby/Adek!"teriak Daddy Kenneth dan Earth secara bersamaan.


"Ayo Bang kita bawa ke rumah sakit!"kata Earth berlari mengambil mobil.


"Dad, bantu mereka aku dan Bang Xander akan membawa Adek ke rumah sakit!"titah Earth sambil terus berlari.


Begitu pun dengan Xander yang sudah lemas melihat Jo tidak sadarkan diri.


"Bee bertahanlah Abang mohon!"Isak Xander.


Earth sendiri panik bukan main melihat keadaan adik kesayangannya itu namun ia mencoba untuk mengendalikan diri.

__ADS_1


__ADS_2