
Usai makan malam ke lima remaja itu bersiap untuk menghadiri acara pertemuan para petinggi mafia dan organisasi lainnya di hotel ****** ******. Mereka menggunakan setelan semi formal dan Jo sendiri terlihat sangat berwibawa dengan setelan yang ia kenakan. Celana pensil berwarna biru Dongker dengan blazer berwarna senada ditambah kaos dalam berwarna putih membuat Jo terlihat anggun ditambah sneakers putih yang ia kenakan.
Kemudian ke limanya pamit pada Daddy Kenneth.
"Dad, kami pergi dulu!!"kata Earth pamit mewakili ke tiga adiknya.
"Uncle, saya pergi dulu!!"ujar Xander pamit pada Daddy Kenneth.
"Kalian berhati-hatilah, dan jaga Baby dengan baik, Boys!!"pesan Daddy Kenneth.
"Baik Dad/Uncle!!"sahut para remaja lelaki itu serentak.
"Bee, pakai gelang ini!!"kata Xander memasangkan sebuah gelang yang memiliki ukiran rubah pada mainannya.
"Itu gelang apa, Xander??"tanya Daddy Kenneth penasaran karena gelang itu terlihat khusus karena memiliki ukiran rubah.
"Gelang ini sengaja saya buat untuk Jo Uncle, dan gelang ini saya lengkapi dengan GPS. Hanya untuk berjaga saja Uncle!!"jawab Xander.
"Terima kasih Xander, kamu sudah mengambil langkah yang benar untuk keamanan putri Uncle!!"sahut Daddy Kenneth menepuk-nepuk bahu Xander.
Dan sekarang ke tiga Kakak Jo yakin Xander adalah pilihan terbaik untuk sang adik.
Ke limanya melangkah menuju garasi untuk mengambil kendaraan masing-masing.
Jo akan satu mobil dengan Fabian, sedang kan Earth dengan Dazian dan Xander berada di mobilnya sendiri. Xander sengaja mengatur seperti itu agar tidak terlihat mencolok saat tiba di acara pertemuan nanti. Tiga mobil mewah itu membelah jalanan ibu kota yang masih terlihat ramai.
Dan entah kenapa Jo merasa ada yang memata-matainya sejak berangkat dari mansion tadi. Jo berusaha membuang perasaan was-was itu namun entah kenapa bukannya menghilang malah semakin menjadi.
"Jika sudah begini, berarti memang ada yang lagi memata-matai gue!!"bathin Jo.
Tak lama mereka sampai di sebuah hotel mewah tempat pertemuan itu akan berlangsung. Perasaan Jo semakin tidak karuan, namun ia mencoba menetralkan ekspresi wajahnya. Sebelum keluar dari mobil mereka memakai masker agar tidak terlalu mencolok.
Ke limanya melangkah ke ruang pertemuan. Aura ke limanya tidak main-main. Jika dilihat sekilas mereka seperti lima bersaudara yang sedang berjalan beriringan karena tinggi dan postur tubuh mereka yang tidak berbeda jauh.
Ke limanya duduk di meja terpisah, namun tetap berdekatan. Mata elang milik Xander selalu memantau segala pergerakan Jo karena Xander merasa kalau Jo gelisah sejak tadi.
Dua jam pertemuan itu pun usai, ke limanya sengaja hanya meminum air mineral yang disediakan pihak hotel sedangkan tamu lain menikmati apa saja yang ada di hadapan mereka.
Mata Jo melihat sekeliling, tanpa sengaja netranya bertemu dengan netra salah seorang tamu yang rasanya pernah ia lihat namun entah di mana.
Mereka berlima segera meninggalkan ruang pertemuan dan melangkah ke parkiran untuk pulang ke mansion namun tiba-tiba Jo merasa kebelet ingin ke kamar mandi.
"Bang, Jo ke kamar mandi sebentar!!"pamit Jo langsung ngacir.
"Bee....!!"belum sempat Xander berucap Jo sudah hilang dari pandangan.
"Adek kemana Bang??"tanya Dazian.
"Katanya ke kamar mandi!!"ujar Xander.
Ke empatnya menunggu di depan mobil sambil memainkan gadget masing-masing.
"Ahhh leganya!!"ujar Jo keluar dari toilet.
__ADS_1
Baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi, seseorang membekap mulut Jo dari belakang, Jo berontak namun tiba-tiba Jo kehilangan kesadaran.
Dua orang laki-laki itu memapah Jo keluar dari toilet wanita.
Salah seorang tamu yang melihat Jo dipapah bertanya pada kedua orang itu.
""Kenapa, Mas??"tanya wanita itu.
"Teman saya mabuk, Mbak!!"jawab salah satunya kemudian bergegas membawa Jo ke lantai yang telah ditentukan oleh Bos mereka.
"Cepetan Lo mau kita ketahuan!!"kata salah satu dari kedua penculik itu.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sampai di kamar yang telah dipesan oleh sang Bos.
Penculik yang berbadan lebih kecil mengetuk pintu kamar itu. Ternyata sang Bos sudah menunggu mereka di dalam kamar itu.
"Bos!!"kata keduanya bersamaan.
"Baringkan dia di sana!!"titah laki-laki itu pada kedua penculik tadi.
"Keluar!!"ucapnya setelah itu.
Kedua penculik itu pun bergegas meninggalkan kamar itu.
"Ternyata tidak begitu sulit menaklukkan kamu, Jonathan!!"ujar laki-laki itu duduk di samping Jo.
Sementara itu Xander sudah mulai gelisah karena Jo belum juga terlihat.
"Earth, Abang akan melihat Jo ke toilet, ini sudah terlalu lama!!"kata Xander langsung berlari ke arah toilet wanita.
"Gimana Bang??"tanya Earth mulai panik.
"Dia nggak ada di dalam, tapi kata wanita itu ia melihat seseorang dipapah keluar toilet oleh dua orang laki-laki!!"ujar Xander.
"Bangs*t!!"umpat Dazian memukul dinding toilet itu.
"Sial kita kecolongan!!"maki Fabian.
"Kalian tenang dulu, kita akan lacak keberadaan Jo."kata Xander berusaha menenangkan si kembar sedangkan Earth berusaha mengatur emosinya saat ini.
"Jo masih di hotel ini!!"kata Xander melihat titik merah di ponselnya.
Ke tiga kakak Jo menghela nafas lega setelah mengetahui jika sang adik masih berada di hotel itu. Mereka berempat mengikuti titik merah yang saat ini semakin terlihat jelas di ponsel Xander.
"Jo di kamar ini!!"kata Xander menunjuk salah satu kamar di lantai empat.
Tanpa ba bi bu ba, si kembar segera mendobrak pintu kamar itu.
"Gubraaaaaaaak"
Jo terlonjak kaget mendengar suara pintu yang didobrak oleh kedua Abang kembarnya.
"Bee/Adek!!"ke empat laki-laki itu berlari ke arah Jo dan memeluknya.
__ADS_1
Jo yang dipeluk ke empat Titan itu tentu saja merasa sesak.
"Ehhhh lepas dulu, Jo nggak bisa nafas.......!!"kata Jo berusaha melepas pelukan ke empat Titan itu.
"Bee, kamu nggak apa-apa??"tanya Xander memperhatikan tubuh Jo.
"Jo nggak apa-apa Bang!!"katanya tersenyum.
"Syukurlah!!"ujar keempatnya serentak.
"Bee, itu siapa??"kata Xander menatap horor ke arah Jo.
"Tikus yang ingin bermain dengan Jo, ternyata suara aja gede. Tenaga minus!!"kata Jo
flash back
"Ternyata tidak begitu sulit menaklukkan kamu, Jonathan!!"ujar laki-laki itu duduk di samping Jo.
Laki-laki menatap penuh nafsu ke arah Jo.
Tiba-tiba saja mata Jo terbuka dan laki-laki kaget.
"Hmmmm jadi ulah Lo??"kata Jo bangkit dari ranjang.
"Bagaimana bisa??"kata laki-laki itu gugup.
"Lo pikir bius murahan itu mempan ama gue?? Dan Lo pikir gue siapa, hingga di undang di acara itu??"kata Jo bersidekap tangan.
"Apa maksudmu??"tanya laki-laki itu lagi.
"Lo cuma putra manja dari ketua klan Ocelot, sedangkan gue ketua BLUE BLOOD. Jadi Lo bukan apa-apa di mata gue, paham!!"kata Jo menunjuk wajah laki-laki itu.
Laki-laki itu langsung menyerang Jo, namun tetap saja Jo bukanlah tandingannya walaupun Jo seorang perempuan.
Pada akhirnya laki-laki itu pun terkapar tak berdaya.
"Sultan.... Sultan....kayak ini doang ternyata kemampuan anak ketua Ocelot!!"ejek Jo menepuk-nepuk pipi Sultan yang sudah pingsan itu.
Selanjutnya Jo duduk santai di sofa menunggu kedatangan kekasih dan ke tiga Kakaknya. Karena Jo yakin mereka akan menemukannya di kamar ini.
Flash back off
Ke empat laki-laki itu get bukan main, Xander menelpon bawahannya untuk meringkus Sultan dan membawanya ke markas Red Fox.
"Ayo pulang!!"kata Xander kepada ke empat bersaudara itu. Mereka pun mengangguk lalu berjalan mengikuti Xander menuju parkiran.
Tapi saat sebuah kamar dengan pintu yang sedikit terbuka Jo melihat seseorang yang ia kenal berada di kamar itu. Jo segera menelpon Lucas.
"Bang, tolong ke kamar 801. Gue mau semua kegiatan di kamar itu Lo dapetin!!"titah Jo.
"Bee, siapa yang kamu telepon??"tanya Xander.
"Bang Lucas, meminta membereskan kekacauan di kamar tadi!"elak Jo.
__ADS_1
Tapi Xander tau kalau Jo sedang berbohong, namun ya sudahlah nanti lebah kecil itu akan jujur sendiri, pikir Xander.