
Jo telah sampai di sekolahnya. Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah Jo pun melangkah menuju kelasnya. Tapi baru berjalan beberapa langkah, Jo kaget karena dihadang oleh tubuh tinggi tegap milik Xander.
"Astaga Bang Xander, kenapa doyan banget ngagetin Jo????"ujar Jo menahan geram namun Xander malah semakin terpana melihat wajah Jo yang memerah karena kesal itu.
"Manis"bathin Xander.
"Maaf.....maaf, Abang cuma mau ngasih ini buat kamu!!"kata Xander lalu pergi meninggalkan Jo yang masih kesal akibat ulahnya tadi.
"Kenapa ya tu orang senang banget bikin gue kaget. Gue pitess baru tau rasa."gumam Jo mendumel sendirian.
"Eh tapi ini apa ya??"tanya Jo sambil memeriksa paper bag pemberian Xander tadi.
Isinya sepasang earphone keluaran terbaru dan juga satu kotak nasi goreng udang plus lemon tea hangat kesukaan Jo.
"Kok Bang Xander tau kesukaan gue ya. Ni lagi earphone keluaran terbaru. Wah keren ini mah!!"sorak Jo merasa senang karena mendapat hadiah yang ia suka dari Xander. Xander tersenyum memperhatikan Jo dari lorong kelas.
"Kenapa kamu begitu manis, Jo??"gumam Xander dengan senyum yang semakin lebar melihat ekspresi senang dari wajah Jo.
Jo melangkah ke kelasnya sambil bernyanyi kecil sambil menenteng paper bag pemberian Xander. Xander sampai tertawa melihat tingkah Jo yang seperti anak kecil baru mendapatkan mainan favoritnya.
Saat tiba di kelas Jo diberondong pertanyaan oleh Dwi.
"Jo Lo kemaren live ya??"tanya Dwi yang sekarang menjadi salah satu fan base-nya Jo.
"Nggak kemarin niatnya cuman mau kasih hadiah aja buat Daddy. Nggak taunya banyak juga yang kenal gue di sana!! Jadi ya gitu deh banyak yang live."tukas Jo meletakkan paper bag pemberian Xander tadi di mejanya.
"Eh apaan tuh??"tanya Al mencoba meraih paper bag di atas meja Jo. Dengan sigap Jo menjauhkan tangan Al dari paper bag pemberian Xander tadi.
"Jangan sentuh, milik gue!!"ketus Jo.
"Ha elah gue juga tau kali kalau itu milik Lo Jo, cuman gue penasaran isinya apaan??"tanya Al.
"Nasi goreng!!"jawab Jo.
"Lo bawa bekal Jo? Tumben!!"tanya Butet mendudukkan diri di samping Jo.
"Dikasih Bang Xander tadi!"ujar Jo.
"Cie...cie...cie....enak ya yang punya fans. Dia kenyang makan makanan nah kita kenyang nonton dia kayak orang oon yang nggak pekaan!!"celetuk Hendrik.
"Maksud Lo pada apaan sih. Nggak ngerti gue sumpah!!'ujar Jo.
"Jo Lo paham nggak sih kalau Bang Xander itu suka ama Lo??"tanya Dwi greget.
"Suka gue. Maksudnya??"tanya Jo lagi.
__ADS_1
"Astaga Ndo, jelasin urat sabar gue udah putus!!"ketus Dwi.
"Hmmmmm Bang Xander suka ama Lo Jo. Pengen jadiin Lo pacarnya!!"jelas Nando singkat.
Jo bengong mendengar perkataan Nando tadi.
"Tapi kenapa suka gue coba??"tanya Jo lagi.
"Astaga suka tu nggak bisa kita tentuin ama siapa. Kayak kita nih dekat tapi gue nggak ada perasaan suka ama Lo. Beda ama Bang Xander, walau pun dia nggak berada dekat ama Lo namun dia memiliki perasaan suka ama Lo!!"jelas Nando panjang kali lebar membuat semua teman Jo tepok jidat berjamaah melihat kepolosan akut yang dimiliki teman mereka yang satu itu.
"Terus gue mesti gimana??"tanya Jo dengan polosnya.
"Astaga, Tuhan bisa nggak gue tuker tambah teman??"teriak Nando histeris.
"Jo tersayang, adeknya gue yang paling ca em. Lo ada ngerasain sesuatu nggak sama Bang Xander??"tanya Butet dengan sabar.
"Hmmmmm kalau dia dekat gue jantung gue detaknya jadi cepat. Kemarin gue tanya ama Daddy katanya itu bukan penyakit jantung tapi debaran. Gituh!!"jawab Jo jujur.
"Astaga ni bocah ampe segala bilang ama bokapnya!!!!!!"geram Butet.
"Jadi udah paham debaran yang dimaksud ama bokap Lo??"tanya Butet lagi.
"Nggak!!"jawab Jo singkat dengan wajah tanpa dosa.
"Gue nyerah, kamera mana??"jawab Butet melambaikan tangannya.
Hingga akhirnya bel masuk pun berbunyi dan mereka melaksanakan apel pagi lalu masuk kek kelas masing-masing dengan tertib.
Saat istirahat tiba Jo Empire memasuki kantin sekolah. Mereka duduk seperti biasa.
"Jo Lo mau pesan apa??"tanya Ryu pada Jo.
"Nggak, gue ada bekal!!"kata Jo yang sedang memasang earphone baru pemberian Xander.
Lalu Jo menyantap nasi goreng pemberian Xander tadi.
"Enak nih Jo, bagi Napa??"goda Al.
"Mau gue kerok wajah Lo ama ni garpu??"tanya Jo.
"Nggak....nggak.... peace Little Sis!!"cengir Al.
Xander yang baru saja memasuki kantin melihat ke arah Jo yang sedang menyantap nasi goreng pemberiannya matanya pun tertuju pada telinga Jo yang sedang menggunakan earphone pemberiannya tadi. Suasana hati Xander saat ini?? Jangan ditanya pemirsah..... kupu-kupu beterbangan di sekitarnya.
Baru saja selesai menyantap makanannya, handphone milik Jo berdering.
__ADS_1
"Hallo...."
"..........."
"Shiiiiit awasi terus gue ke sana sekarang!!"
Jo menghubungi sang kakak Earth setelah mendapat telpon dari bawahannya yang ditugaskan mengawasi Daddy Kenneth.
"Bang, temui Jo sekarang di restoran *******!!"
"............"
Jo mematikan sambungan teleponnya dan segera berlari keluar kantin.
"Guys gue cabut dulu, ada keadaan urgent!!'kata Jo berlari.
"Lo mau ke mana Jo??"teriak Al namun tidak digubris oleh Jo yang terus berlari menuju ruangan Pak Edward untuk minta izin.
Xander yang memperhatikan Jo sedari tadi dibuat bertanya-tanya. Telpon dari siapa yang membuat Jo langsung meninggalkan kantin begitu tergesa-gesa.
Jo pergi ke ruang Pak Edward untuk meminta izin keluar dari sekolah.
"Tok....tok.....tok...."
"Masuk"
"Permisi Pak, Jo mau minta izin mau keluar Pak!!"kata Jo meminta izin pada Pak Edward.
"Ada perlu apa Jo sampai kamu harus meninggalkan sekolah??"tanya Pak Edward dengan alis menekuk.
"Maaf Pak, ada bahaya yang saat ini tengah mengintai Daddy saya. Saya harus segera menemuinya!!"ujar Jo.
Wajah Pak Edward seketika berubah, apa yang sedang dihadapi adik angkatnya itu. Dan Pak Edward rasanya tidak tega jika harus membiarkan Jo menangani ini sendirian.
"Ok, saya akan ikut dengan kamu!!"ujar Pak Edward.
"Nggak usah Pak, tadi Jo udah ngasih tau Bang Earth juga!!'tolak Jo.
"Lebih baik saya ikut, mungkin nanti kalian akan butuh bantuan saya!!"ujar Pak Edward bersikeras.
"Tapi Pak........"Jo mencoba mencegah agar Pak Edward tidak ikut dengannya.
"Cepat, kamu membuang waktu Jo!!"tukas Pak Edward menarik tangan Jo.
Xander melihat semua itu. Sekarang pikirannya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang ia sendiri tidak tau cara mendapatkan jawabannya.
__ADS_1
Akhirnya dengan terpaksa Jo menerima paksaan Pak Edward untuk ikut bersamanya ke kafe tujuannya tadi. Jo menyetir dengan kecepatan maksimum namun tidak terlihat raut ketakutan ataupun kekhawatiran di wajahnya. Air mukanya terlihat tetap tenang.