
Karena kondisinya yang baru saja pulih, Jo tidak diinginkan oleh Daddy Kenneth dan juga Xander untuk mengikuti kegiatan kelas tambahan.
Bel pulang telah berbunyi, Jo melangkah keluar kelas bersama dengan Butet dan juga Dwi. Sekilas saat melewati ruangan Pak Edward, Jo melihat siluet sang Daddy di sana.
Karena penasaran Jo mengintip sebentar ke ruangan itu, kehadiran Xander yang tiba-tiba membuat Jo terlonjak kaget dan hampir saja memukul Xander.
"Abang....Ais untung saja tidak Jo hantam!"katta Jo mendengus kesal.
"Maaf Bee, Abang cuma penasaran kamu ngapain ngintip-ngintip di sini?"tanya Xander.
"Tadi Jo kayak liat Daddy di dalam!"kata Jo pada Xander.
"Ya langsung lihat saja, kenapa harus mengintip segala kayak maling!"kata Xander merangkul bahu Jo lalu membawanya masuk ke ruangan Pak Edward.
"Nah benarkan Daddy!"teriak Jo hingga membuat ke tiga laki-laki di ruangan itu menutup telinga.
"Baby, kamu kenapa harus teriak-teriak begitu?"omel Daddy Kenneth kaget.
"Maaf habis Jo penasaran ngapain Daddy jam segini di ruangan Pak Edward?"tanya Jo.
"Daddy ingin mengajakmu makan siang!"sahut Daddy Kenneth.
"Dalam rangka apa?"tanya Jo curiga.
"Dalam rangka....tidak ada hanya ingin saja!"sahut Daddy Kenneth lalu membawa Jo ke dalam pelukannya lalu mencium gemas pipi tembem Jo.
Jo menatap curiga ke arah sang Daddy, dia yakin pasti ada sesuatu yang sedang Daddy Kenneth rahasiakan.
"Tapi Abang gimana, nanti dia jemput Jo ke sini!"kata Jo lagi.
"Kita makan siang bersama, juga dengan Xander dan Papi mertuamu!"kata Daddy Kenneth yang membuat wajah Jo memerah.
"Baby, kau baik-baik saja?"goda Daddy Kenneth pada sang putri.
"Ah iya....ya Jo baik. Ayo Bang eh Pi ehh Dad."ujar Jo gagap lalu menarik tangan Daddy Kenneth.
Ke tiga laki-laki itu hanya terkekeh melihat Jo yang salting di depan mereka.
Jo dan Daddy Kenneth berada dalam satu mobil begitu pun dengan Xander dan Pak Edward.
Sedangkan tiga singa lainnya akan bergabung dengan mereka di restoran nanti.
Setiba di restoran mereka menuju ke meja yang dipilih oleh Jo, dekat dengan jendela. Jo melihat sekelilingnya cukup nyaman. Mereka mengambil kursi masingmasing lalu duduk sembari menunggu kedatangannya Earth dan si kembar.
Suara handphone Daddy Kenneth membuat perhatian mereka fokus pada Daddy Kenneth.
Setelah membaca pesan yang baru saja ia terima Daddy Kenneth tertawa pelan sambil membalas pesan itu.
"Dad, are you okay?"tanya Jo penasaran.
"I'm okay, ini pesan dari Jack. Dia bilang kalau Opa dan Unclemu sedang ada di perusahaan sekarang menunggu kedatangan Daddy!"kata Daddy Kenneth pada Jo.
"Ck, benar-benar nggak tau diri!"omel Jo memainkan buku menu di tangannya.
"Sepertinya mereka sangat kalang kabut sekarang Baby!"ujar Daddy Kenneth pada Jo.
"Biar saja itu balasannya jika mereka berani mengganggu keluarga kita lagi, Dad!"jawab Jo.
"Kau sangat sadis Baby!"kata Daddy Kenneth.
"Itu belum sadis, Jo bahkan belum membuat mereka terlempar ke jalanan seperti yang mereka lakukan pada Daddy dulu!"kata Jo lagi.
Daddy Kenneth menghembuskan nafas panjang, Jo betul-betul mirip dengan Sarah, mendiang istrinya jika sayang ia siap pasang badan untuk orang yang ia sayangi jika benci maka tidak satu pun orang yang bisa menghentikan kegilaannya.
__ADS_1
Saat mereka bercerita ngelantur sana sini, tiba-tiba seseorang memanggil Pak Edward.
"Selamat siang, Pak!"terdengar suara seorang gadis menyapa Pak Edward.
"Siang, kamu....!"tanya Pak Edward sedikit lupa dengan gadis remaja itu.
"Saya Levia, Pak. Kekasihnya Bang Xander!"ujar Levia dengan wajah diimut-imutkan.
Pak Edward menatap tajam ke arah Levia namun lekas diredakan oleh Xande, sebab ia tau lebah kecilnya akan segera beraksi.
"Dia kekasih Abang?"tanya Jo dengan wajah datar.
"Bukan!"jawab Xander dengan wajah tak kalah datar.
"Lalu kenapa dia bilang kalau dia kekasih Abang?"tanya Jo lagi.
"Biar saja, yang penting kamu tunangan saya!"sahut Xander.
Hal itu membuat Levia marah besar, lalu dengan sengaja Levia menjatuhkan diri dari kursi rodanya di dekat Jo.
Dengan niat mencari simpati dari para tamu restoran yang tengah menyantap makanan mereka.
Jo sendiri acuh karena malas melayani drama murahan itu.
"Kok kamu dorong aku sih, Jo?"kata Levia dengan tampang tertindas.
Sontak semua mata melihat ke arah Levia yang saat ini tengah membuat drama. Sebagian pengunjung mulai berbisik-bisik tentang mereka yang ada di meja Jo yang satu pun tidak berniat untuk menolong Levia.
Di saat bersamaan tiga singa lainnya datang dan berjalan ke arah meja Jo.
Jo tersenyum melihat ke arah ke tiga Kakaknya. Dan semua mata kaum hawa pun memberikan tatapan lapar ke arah tiga singa muda itu.
Satu persatu mereka mengecup puncak kepala sang adik dan duduk di sebelahnya.
"Dek, ini suster ngesot dari mana?"tanya Dazian si mulut bon cabe.
"Ooo jangan bilang ini si fans gila Bang Xander di sekolah!"ejek Dazian.
"Siapa lagi, Bang!"ujar Jo.
"Kamu kok ngomong gitu, Jo. Aku benar kekasih Bang Xander ada bahkan aku kenal dekat dengan kedua orang tuanya!"sahut Levia.
"Benarkah? Berarti Lo kenal tau dong siapa bokap Bang Xander?"tanya Jo.
"Tentu aku tau!"sahut Levia yakin.
"Siapa coba?"tanya Jo.
"Dia teman satu perusahaan Papaku!"sahut Levia.
"Iya kah, Pi Bang Xander bukan anak kandung Papi ya?"tanya Jo.
"Mantu durhaka, Bang Xandermu itu produk satu-satunya Papi tau!"kesal Pak Edward.
Levia terkejut mendengar hal itu, ia tidak tau sama sekali jika Xander adalah putra Pak Edward, guru di sekolahnya.
"Jadi yang bohong siapa, nih?"tanya Jo.
"Aku nggak bohong!"elak Levia.
"Tu kan Pi, Papi bohongin Jo!"kata Jo dengan menaik turunkan alisnya hingga membuat Xander dan yang lain terkekeh.
"Mau saya bawakan akte kelahiran Xander kamu, mantu durhaka?"kata Pak Edward lagi gemas.
__ADS_1
"Bukan buat Jo Pi, tapi buat orang yang ngaku-ngaku jadi pacar anak semata wayang Papi!"kata Jo.
Levia semakin kelabakan mana semua orang menatap sinis ke arahnya lagi.
Jo mulai jengah dengan bisik-bisik para costumer lain, Jo berniat memberi pelajaran pada Levia biar dia kapok. Jo memanggil salah seorang writers restoran itu.
"Mba..!"panggil Jo.
"Ya Dek, ada yang bisa saya bantu?"tanya writers itu.
"Saya boleh minta izin ke ruang cctv untuk melihat rekaman lima belas menit yang lalu?"tanya Jo.
"Tapi...!"writers itu melihat ke arah Pak Edward.
"Baiklah, silakan ikut saya!"kata writers itu.
"Tunggu, ngapain liat cctv segala?"tanya Levia terlihat cemas.
"Biarkan aja, biar kita tau kebenarannya!"sahut salah seorang customer yang sedang makan bersama teman-temannya.
"Nggak...nggak usah!"kata Levia menahan Jo dan writers itu.
"Ada yang nggak beres ini!"customer lain yang kebetulan duduk di dekat meja Jo.
"Jangan-jangan playing victim doang nih!"sorak yang lain.
Wajah Levia memerah karena menahan malu, dan tiba-tiba beberapa orang datang menghampiri Levia.
"Levia ngapain kamu di sini? Dicariin dari tadi juga!"ketus seorang remaja laki-laki seusia Xander.
"Levia lagi ketemu sama pacar Levia Bang!"ujar Levia.
"Siapa?"tanya laki-laki itu.
"Dia!"tunjuk Levia pada Xander.
"Benar kamu pacar adik saya?"tanya laki-laki itu.
"Bukan, saya sudah punya calon istri!"sahut Xander.
"Tuan Kenneth!"sapa laki-laki yang baru saja bergabung dengan kelompok Levia.
"Hmmm!"jawab Daddy Kenneth dengan wajah datar ala mafianya.
"Kebetulan kita bertemu di sini, Jo!"lagi laki-laki itu membungkuk hormat pada Jo.
"Jangan seperti itu Uncle, kita nggak lagi di kantor!"sahut Jo tersenyum.
"Maaf jika anak saya mengganggu kenyamanan Anda sekeluarga Tuan Kenneth!"kata laki-laki itu yang langsung paham kalau putrinya pasti berulah lagi.
"Tidak apa Uncle, Jo dan Levia teman satu sekolah. Jo maklum dengan tingkah dan sifatnya!"jawab Jo menatap remeh ke arah Levia.
"Kami permisi dulu Tuan Kenneth, sekali lagi maaf atas ketidaknyamanannya!"tutur laki-laki itu.
"Papa, kenapa minta maaf sama jal*ng itu sih, dia udah ngerebut kekasih aku Pa!"kata Levia dengan emosi.
"Jaga ucapanmu, Levia. Jo adalah pimpinan utama di tempat Papa bekerja. Apa kamu ingin Papa dipecat karena kebodohan kamu ini, hah? Lagi pula yang mana kekasih kamu?"bentak laki-laki itu.
"Bang Xander!"jawab Levia dengan dada turun naik.
"Astaga kamu cari mati apa? Dia tunangan Jo, semua orang tau itu. Sudahlah, Kevin bawa adikmu!"kata laki-laki itu melangkah lebar meninggalkan restoran itu sambil menahan malu karena ulah putrinya.
"Levia, besok gue cari tau bokap Bang Xander yang kerja di perusahaan gue ya?? Kalau nggak ntar gue tanya bokap Lo besok!"kata Jo.
__ADS_1
Levia melayangkan tatapan tajam ke arah Jo sedangkan Jo hanya manggut-manggut melihat itu.
"Ayo kita pesan makanannya!"ujar pak Edward pada mereka semua.