Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 10 : Mual dan Muntah


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Livia memutar bola matanya, merasa kesal melihat Deni yang membuatnya menunggu lama.


"Maaf ya Livia. "


"Ya udah, ayo balik. "


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Pembelajaran di kelas Livia berlangsung dengan sangat tenang, seperti biasa Livia pergi ke sekolah mengikuti pembelajaran, sebelum perutnya benar-benar membesar.


Saat mata pelajaran berlangsung rasa mual tiba-tiba saja merasakan makanan di dalam perutnya berputar-putar dan naik ke kerongkongannya. Makanan yang ia makan tadi pagi siap untuk di muntah kan di dalam kelas jika Livia tidak segera berlari keluar kelas menuju toilet yang ada di sekolahnya tersebut.


"Hueeeekkkkkk." Livia memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutnya.


"Huekkkkk." Rasa mual sekaligus pusing membuat pertahanan tubuhnya lemah, Livia terduduk di lantai toilet.


"Livia? Kamu gapapa kan kak?. " Tanya Guru Bahasa Indonesia yang tadi mengajar di dalam kelas Livia lLu ikut mengejar saat gadis itu berlari keluar kelas .


Tidak ada jawaban.


"Livia?. " Panggil Guru itu lagi merasa khawatir.


Sementara di dalam kamar mandi toilet itu, Livia merasakan kepalanya berkunang-kunang, sehingga tidak sanggup menjawab panggilan Bu Guru tersebut.


"Livia? Nah kamu gak apa-apa kan?. " Teriak Guru itu lagi, namun masih tidak ada jawaban, ia kemudian mencoba menggedor-gedor pintu memastikan apakah Livia pingsan atau masih tersadar.


"Livia? Buka pintunya?. " Teriaknya sekali lagi.


Berkali-kali tidak ada jawaban, Bu Guru itu segera keluar dari toilet dan memanggil orang lain untuk membantu membuka pintu kamar mandi tempat Livia berada.


Tidak lama kemudian Bu Guru tersebut kembali lagi bersama seorang security, sekitar lima menit mereka mencoba mendobrak pintu kamar mandi, hingga akhirnya pintu itu terbuka memperlihatkan Livia yang duduk sambil bersandar di lantai rumah sakit.


Gadis itu terkulai lemas. Dengan panik Guru Bahasa Indonesia itu membopong tubuh Livia, untungnya security tadi dengan sigap membantu dan mengangkat tubuh Livia yang tidak terlalu berat.


Mereka membawa Livia ke UKS, saat menuju ke UKS mereka melewati kelas Deni, Deni yang dari dalam kelas melihat mereka lewat kemudian menyadari bahwa yang di gendong oleh security itu adalah Livia.

__ADS_1


###


Setelah mata pelajaran selesai di pagi hari itu, Deni segera berlari keluar dari kelasnya mencari Livia, dan benar saja gadis yang tadi di bawa oleh security itu adalah Livia.


Deni berlari tergesa-gesa masuk ke dalam UKS, melihat Livia yang tertidur pulas.


Tidak lama kemudian orang tualivia juga datang.


"Ya Tuhan Liviaaaaa. " Teriak Mama Livia.


"Deni? Ada apa dengan Livia?. " Pak Zul menyusul, masuk ke dalam ruangan UKS.


"Tadi katanya dia pingsan om di dalam kamar mandi. " Jawab Deni.


"Oh ya ampun, bagaimana ini Pa?. " MamaLivia nampak sangat takut jika anaknya kenapa-napa.


Sedetik kemudian Guru Bahasa Indonesia yang tadi menemukan Livia dan membawa gadis itu ke UKS ikut masuk.


"Livia tadi pingsan, setelah mengalami muntah-muntah, saya tadi sementara mengajar di dalam kelasnya dan mengikuti anak bapak dan ibu ke toilet karena pada saat pembelajaran saya berlangsung Livia tiba-tiba berlari keluar dari kelas saya tanpa meminta izin, karena khawatir makanya saya mengikuti Livia dan mendapati nya sudah terkulai lemas di dalam kamar mandi. " Tutur Bu Guru Tersebut menjelaskan kronologi yang ia ketahui.


"Ah Terima kasih ya Bu, kalau begitu mungkin kami sudah bisa membawa anak kami ini pulang, untuk beristirahat di rumah saja. " Balas Pak Zul.


"Ah Terima kasih banyak sekali lagi ya Bu, untuk kepala sekolah mungkin biar saya saja yang berbicara langsung dengannya. " Ujar Pak Zul.


"Oh kalau begitu, saya tidak ada masalah Pak, silahkan saja. " Balas Bu Guru itu lagi.


"Baiklah kalau begitu kami permisi, sekali lagi terimakasih ya Bu. " Kali ini Mama Livia yang berbicara.


"Iya sama-sama. "


Pak Zul segera mengangkat Livia keluar dari ruangan UKS di ikuti oleh Mama Livia dan Deni yang hanya diam sedari tadi, ia merasa tidak berguna karena tidak bisa menjaga Livia dengan baik.


Sesampainya di mobil Livia segera di masukkan ke dalam, sedangkan Papa Livia bergerak menuju ke kantor kepala sekolah, Deni sendiri terlihat sangat khawatir namun tidak dapat berbuat banyak hal.


"Deni?. " Panggil Mama Livia.


"Iya Tante?. " Jawab Deni, cepat.


"Kamu gak usah terlalu khawatir ini hal biasa untuk orang yang baru hamil di trimester awal, tante harap kamu akan selalu ada dan bisa nemenin Livia, mungkin ke depannya Livia bakalan sekolah dari rumah aja. " Tutur Mama Livia kepad Deni.

__ADS_1


Deni menganggukkan kepalanya pertanda ia mengerti.


"Saya pasti akan selalu ada untuk Livia tante. " Jawab Deni, penuh tanggung jawab.


"Terima kasih ya nak Deni. " Mama Livia menatap wajah Deni, tulus.


Tidak lama kemudian, Pak Zul kembali ke mobilnya karena ternyata kepala sekolah tidak berada di dalam kantornya.


Orang tua Livia segera membawa gadis itu pulang, sementara Deni masih tidak ggak di sekolah untuk mengkuti pelajaran selanjutnya.


###


Hari-hari Livia berikutnya saja saja, setiap hari merasakan mual dan pusing bahkan untuk bergerak dari atas kasurnya saja gadis itu merasa sangat berat. Karena baru saja akan berdiri penglihatannya akan terasa berputar-putar.


"Huuhhh, ya ampun. " Keluh Livia.


Gadis tu menatapi foto-foto dirinya yang tertempel di setiap sudut kamarnya. Ceria, cantik dan modis. Dalam foto-foto itu Livia nampak tidak memiliki beban apapun.


Menjadi salah satu gadis yang populer di sekolah, siapa yang menyangkan Livia akan mengalami nasib buruk seperti ini? Hami diluar nikah, di perkosa oleh mantan kekasihnya sendiri dan yang lebih buruk lagi laki-laki itu sana sekali belum datang ke rumahnya untuk sekedar meminta maaf.


Tanpa sadar Livia mengeluarkan air mata namun segera ia hapus dengan kasar.


"Ah apa-apaan sih gitu aja nangis. " Gumam Livia kepada dirinya sendiri.


Sejak mengetahui kehamilannya, Livia memang jadi semakin sensitif dan sangat gampang emosinya. Livia kadang terbangun di malam hari karena merasakan ada sesuatu yang bergerak di dalam perutnya, biasanya hal itu akan membuatnya menangis tampa sebab.


Sudah satu minggu sudah Livia tidak mengikuti pembelajaran lagi di kelasnya. Untungnya orang tua Livia selalu siaga dan selalu ada untuknya. Jika tidak mungkin Livia sudah lama berpikir untuk menghabisi hidupnya saja.


Sebuah ide kemudian terlintas dalam pikiran Livia untuk mengakhiri penderitaannya ini.


Gadis itu segera meraih ponselnya dan membuka internet untuk mencari cara melakukan aborsi.


"Aborsi yang tidak menyakitkan.... " Gumam Livia sambil mengetikkan ucapannya itu ke dalam mesin pencarian.


Setelah hampir satu jam mencari-cari di internet Livia kemudian menemukan satu tempat aborsi yang cukup terkenal dan dalam keterangannya, pasien tidak akan merasakan sakit apapun, namun biayanya lumayan.


"Ah soal biaya, aku akan meminta Deni untuk membayarnya. " Lirih Livia, tersenyum kecil memikirkan sebentar lagi ia akan bebas kembali.


Bersambung...

__ADS_1


klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian...... terimakasih.


__ADS_2