
Episode sebelumnya...
"Porotin? Bukannya itu emang kewajiban kamu?. " Ujar Livia.
###
Happy Reading and Enjoy Guys
"Iya, tapi kan kamu udah hamil gak mesti berlebihan kayak gitu juga kali. " Ujar Radit.
"Berlebihan? Kan kamu sendiri yang ngotot mau tanggung jawab, padahal kamu tau sendiri Deni udah ngelamar aku duluan, perasaan beberapa waktu lalu juga kamu udah setuju!." Sinis Livia.
"Iya tapikan barang-barang kayak gitu bisa aku beliin satu-satu kalau kita udah nikah, Livia. " Balas Deni.
"Ngapain satu-satu kalau bisa semuanya. " Ujar Livia.
"Argghh gara-gara Deni, brengsek itu semua rencanaku jadi gagal, ATM aku di blok sama Papaku, belum lagi semalaman aku kena omel habis-habissan sama mama. " Keluh Radit.
"No komen, itu sih derita lo. " Sinis Livia, berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Deni yang terlihat prustasi.
"Livia, kamu mau kemana aku belum selesai nging yah!. " Ketus Radit.
Livia tidak menghiraukan ucapan Radit.
"Kurang ajar! Awas aja abis nikah nanti, kamu bakalan tunduk sama aku Livia. " Lirih Radit.
Livia yang sudah berada di dalam kamarnya menyapa dirinya di dalam cermin.
"Tiga hari lagi aku bakalan nikah?. " Lirih Livia.
__ADS_1
"Tuhan, semoga ini pilihan yang terbaik buat aku sama bayiku. " Ujar Livia sambil mengelus-elus perutnya yang sudah semakin membesar.
###
Livia berjalan-jalan santai bersama mamanya di sebuah mall, tempatnya dan Deni pertama kali berkencan beberapa bulan yang lalu.
Setelah berdebat dengan Radit semalam, hatinya benar-benar gondok di buat laki-laki pengecut itu. Jadi, untuk mengurangi stresnya Livia mengajak mamanya untuk jalan-jalan dan menikmati makanan favorit Livia.
Livia mengingat kenangan bersama teman-teman gengnya saat bersenda gurau sambil berlari-larian.
Livia merindukan tatapan iri gadis-gadis di sekolahnya.
Livia merindukan tatapan memuja para laki-laki yang mengantri ingin berkencan dengannya.
Livia rindu mengenakan seragam sekolahnya.
Biasanya ada Deni yang selalu datang ketika di panggil, namun saat ini di sisi Livia hanya ada orang tuanya. Namun, jika orang tuanya pergi keluar kota untuk mengurus bisnis mereka, Livia merasa sangat kesepian.
"Nak, katanya mau makan Burger?. " Ujar Mama Livia ketika anaknya itu hanya melamun dan terus berjalan melewati salah satu kafe yang berada di mall yang awalnya menjadi tujuan utama mereka datang ke Mall terasbut.
"Eh iya ma, udah lewat yah? . " Ujar Livia baru menyadari kafe tersebut sudah mereka lewati.
"Iya, ya udah kita balik aja lagi." Ujar Mama Livia.
Livia hanya mengangguk dan pasrah mengikuti mamanya.
"Pesan burger King isian daging sapi 2 sama yang isi daging ayam 1, kentang 2 porsi, terus ice cream coklat toping biah nangka dan yang satunya ice cream coklat tapi gak usah pake toping, air putih 2 dan esteh juga 2 . " Ujar Mama Livia kepada pelayan yang datang untuk menanyakan pesanan mereka.
"Ada lagi?. " Tanya pelayan itu.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa lagi nak?. " Tanya Mama Livia.
"Udah itu aja. " Jawab Livia.
"Kalau begitu pesanannya di tunggu yah, saya permisi. " Ujar Pelayan itu.
Livia dan Mamanya meresponnya dengan mengangguk.
"Kenapa sayang? Dari tadi melamun mulu? Entar kesambet loh. " Ujar Mama Livia penuh perhatian.
"Gapapa kok, Ma. " Jawab Livia.
"Gapapa gimana, dari tadi gak fokus mulu. " Cecar Bu Silvia.
"Aku cuman kepikiran aja, beberapa hari lagi bakalan nikah, padahal umur aku masih muda banget, Livia ngerasa nggak siap ma. " Ujar Livia nada suaranya bergetar.
"Nak, kamu harus kuat, kamu harus bisa demi bayi yang ada di dalam perut kamu itu, setelah semuanya selesai, Mama pastiin kamu bakalan bisa balik ke sekolah lagi. " Bu Livia menenangkan dan menyemangati anaknya.
"Huhhhh." Livia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Ucapan mamanya barusan justru membuatnya semakin gelisah.
Livia tidak tau apakah nantinya ia akan siap pergi ke sekolah lagi, setelah seluruh teman-temannya sedang bergosip tentang kehamilannya. Mengingat itu Livia menjadi semakin prustasi.
Livia memandangi perutnya, ada pergerakan lagi di dalam sana, seolah-olah bayi itu mengerti dengan perasaan mamanya.
"Cuma kamu yang bisa ngertiin Mama. " Batin Livia mengelus lembut perutnya.
Bersambung....
__ADS_1