
"Kamu...!. " Radit mengangkat satu tangannya ingin memukul Livia.
###
"Pukul aja pukul!. " Tantang Livia.
"Arrgghhhh, kasih aku uang satu juta aku mau makan di luar. " Ujar Radit setelah bisa mengontrol sedikit emosinya.
"Aku nggak ada uang!. " Balas Livia.
"Bohong, kamu baru habis belanja, pasti masih ada sisanya dari ATM, siniin uangnya. " Ujar Radit sambil menarik tas Livia dengan sedikit kasar.
"Udah nggak ada Radit!. " Pekik Livia tidak Terima Radit memperlakukannya seperti itu.
Radit mengeluarkan semua isi tas Livia dan memeriksa dompet gadis itu. Namun Radit hanya menemukan tiga lembar uang seratus ribuan dan beberapa uang recehan.
"Aku ambil ini aja. " Ujar Radit berlalu pergi setelah melemparkan dompet Livia ke arah gadis itu.
Livia terduduk lesu merasakan sakit pada perutnya.
"Aw ah, Radit siapkan!. "Umpat Livia.
Suara mesin mobil Radit terdengar meninggalkan halaman rumah Livia. Livia yang merasa kesakitan pada perutnya mencoba meraih laci tempat obat-obatannya di simpan.
Beruntung Livia bisa segera meminum obat pereda nyeri yang memang sudah di resepkan untuknya, jika tidak Livia bisa saja mengalami pingsan.
Livia tanpa sadar menangis sambil tersedu-sedu, ia tidak menyangka nasibnya akan menjadi seburuk ini.
Saat ini tidak ada yang bisa membantunya, Livia benar-benar seorang diri.
###
__ADS_1
"Livia aku minta maaf, aku janji bakalan berubah dan bersikap lebih baik sama kamu. " Ujar Radit setelah laki-laki itu pulang entah dari mana.
"Udahlah, santai aja. " Balas Livia tidak ingin ambil pusing, baginya yang terpenting saat ini bayinya sehat. Livia tidak ingin stres dan membuat kandungannya dalam masalah.
"Livia, lihat aku dong. " Ujar Radit lagi.
"Hmm apaan?. " Balas Livia memandang wajah laki-laki yang kini sedang memeluk kakinya.
Livia sendiri tidak mengerti, laki-laki itu pulang tanpa menjelaskan apa-apa dan langsung berlutut di kakinya.
"Maafin aku Livia, aku nggak bakalan ngelakuin hal kasar kayak tadi siang lagi, aku janji bakalan berubah dan jagain kamu. " Ujar Radit.
"Oh iya, nggak apa-apa kok. " Balas Livia.
Melihat reaksi Livia yang biasa saja, justru membuat Radit semakin ketar ketir, apalagi tadi orang tua Livia menelponnya dan menanyakan keadaan gadis itu.
Radit takut akan di hajar dan di tendang keluar dari rumah ini, maka tidak ada lagi harapan untuk Radit, orang tuanya juga pasti akan langsung menyuruhnya berhenti bersekolah.
"Kamu beneran nggak marah sama aku?. " Tanya Rasit memastikan.
"Nggak, ngapain aku marah-marah sama kamu, nggak penting banget!. " Balas Rania ketus.
"Ya udah karena kamu nggak marah, aku pijitin yah, pasti kamu capek abis belanja tadi siang? Kamu pasti pegel-oegel karena harus jalan kaki. " Ujar Radit penuh perhatian memijit-mijit telapak kaki Livia.
Livia yang saat ini memang merasa sedikit pegal, membiarkan Radit menyentuh telapak kakinya.
Beberapa waktu kemudian tidak ada percakapan di antara mereka, di rumah itupun hanya mereka berdua, karena pembantu rumah tangga Livia sedang izin untuk mengunjungi rumah keluarganya sejak pagi tadi.
Livia yang biasanya hidup dengan berpangku tangan, kini sudah harus terbiasa menyiapkan makananya sendiri. Meskipun sulit namun setidaknya makanan yang di buatnya tadi layak untuk di konsumsi.
"Livia... " Panggil Radit memecah keheningan.
__ADS_1
"Kenapa Dit?. " Tanya Livia.
"Boleh nggak besok aku minta duit?. " Ujar Radit kemudian.
"Buat apaan?. " Tanya Livia mengernyit heran.
"Ya buat makanlah di sekolah, aku bisa kelaparan kalau nggak megang duit buat jajan. " Ujar Radit.
"Lah duit yang tadi udah habis? Itu banyak loh Radit!. " Ketus Livia.
"Tiga ratus ribu banyak? Udah habis buat traktiein teman-teman yang lain tadi. " Jelas Radit.
"Emangnya kamu dari mana aja? Sok banget traktirin orang lain. " Omel Livia.
"Habisnya kamu sih nggak nyiapin makan siang buat aku. " Balas Radit.
"Kenapa nggak masak sendiri aja di dapur, aku nggak mau tau yah dan aku nggak bakalan kasih kamu uang untuk jajan besok, uang tiga ratus ribu itu banyak loh dan lebih dari cukup buat jakannkamu dia hari. " Oceh Livia.
"Tapi, di rumahkan nggak ada bibi, emangnya kamu tega biarin aku kelaparan? Ya udah sekalian aja kamu bunuh aku, nggak usah di kasih makan sampai orang tuamu datang, saat itu aku udah jadi tulang belulang, terus kamu bakalan jadi istri durhaka dan jadi tersangka. " Oceh Radit.
"Aku yang bakalan masak. " Ujar Livia kemudian.
"Hah? Kamu?. " Ujar Radit kaget, meragukan kemampuan Livia.
"Iya, aku juga bakalan buatin kamu bekal biar kamu nggak jajan di luar lagi, kita mesti hemat buat persalinan aku, ingat yah Radit kamu belum kerja dan kita mesti HEMAT! . " Tegas Livia.
"Tapi Liv... "
"Nggak ada tapi-tapian, kalau kamu nggak setuju, ya udah aku bakalan telpon orang tuan kamu dan ngabari ke mereka soal kelakuan kamu tadi siang. " Ancam Livia.
Bersambung.
__ADS_1