
Sebenarnya bisa saja Livia langsung memblokir kontak Radit, namun karena urusan mereka belum benar-benar selesai jadi Livia memutuskan untuk menunda pemblokiran tersebut.
###
Beberapa hari kemudian, setelah permintaan maaf Radit tidak pernah di respon baik oleh Livia, laki-laki itu tidak pernah muncul lagi.
Orang tua Liviapun kembali melanjutkan pekerjaan mereka seperti biasanya.
Hari-hari yang Livia lalui juga biasa saja, gadis itu jauh lebih tenang apalagi setelah mengetahui perkembangan bayinya yang saat ini sudah masuk bulan ke 6.
Livia merasa hari-harinya jauh lebih damai tanpa kehadiran Radit. Livia pernah berpikir bayinya akan sangat malang jika harus tumbuh tanpa seorang ayah.
Namun, jika dipikir-pikir lagi bayinya itu akan lebih malang lagi jika harus hidup dengan ayah yang brengsek seperti Radit.
Setelah melalui beberapa hari tanpa gangguan dari Radit, kini sepertinya Livia harus kembali menghadapi laki-laki itu yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Argghhhhh sialan!. " Pekik Livia saat memgintip dari jendela dekat pintu utama rumahnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu rumah Livia di ketuk dari luar.
__ADS_1
"Livia, ini aku Radit buka pintunya dong! Aku tau kamu lagi sendirian di rumah! Plis kita harus ngomong. " Pekik Radit.
Livia memastikan pintu rumahnya tersebut sudah terkunci, Livia kemudian beranjak dari jendela yang satu ke jendela yang lain untuk memastikan rumahnya dalam kondisi yang aman.
"Dasar psikopat, ngapain lagi laki-laki itu kesini. " Gumam Livia.
Dor.. Dor.. Dor..
Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu yang di gedor dan ketuk secara berulang-ulang.
"LIVIA.. AKU TAU KAMU ADA DI DALAM KAN? AKU NGELIAT BAYANGAN KAMU, CEPAT BUKA PINTUNYA. " Teriak Radit dari luar rumah.
"Mending kamu pergi aja dari sini, aku nggak sudi ngeliat kamu lagi!. " Balas Livia.
"Liv, kamu tega sama anak kita? Kamu mau dia tumbuh tanpa seorang ayah? Ayolah Livia pikirin anak kita, kasih aku kesempatan satu kali lagi. " Pinta Radit.
"Sialan!. " Umpat Livia, berlari ke lantai dua rumahnya sembari menelpon Deni untuk segera datang membantunya mengusir Radit.
Tidak ada orang lain yang bisa Livia mintai pertolongan selain laki-laki itu saat ini.
__ADS_1
Ingin berteriak minta tolong pun percuma karena meskipun rumah Livia dengan rumah tetangganya berdekatan di dalam satu komplek suaranya tidak akan kedengaran karena terhalang oleh tembok rumahnya yang tinggi.
"Ah harusnya, Papa bikin tembok rumahnya nggak usah tinggi-tinggi, kalau kayak gini kejadiannya kan aku nggak bisa mita tolong. " Pekik Livia sesampainya di lantai dua .
Suara Radit dari bawah juga terus-terussan terdengar sembari menggedor-gedor pintu.
Livia segera menelpon Deni, tidak sampai satu menit panggilan itupun terhubung.
"Halo?, Deni? Tolong cepetan datang ke rumah aku ada Radit di bawah gedor-gedor pintu rumah, aku lagi di lantai atas! Aku takut dan sekarang lagi sendirian, plis cepetan datang sekarang juga. " Perintah Livia.
Tanpa menunggu laki-laki itu mengeluarkan suaranya, Livia langsung memutuskan sambungan teleponnya lalu berlari ke arah teras untuk mengintip Radit yang saat ini persis berada di depan pintu utama rumahnya.
Radit nampak masih berusaha menggedor-gedor pintu rumah LiviaLivia dengan prustasi, hingga pada saat Radit yang sudah putus asa itu memutuskan untuk berhenti melakukan aksinya entah bagaimana laki-laki itu menatap ke teras lantai dua dimana Liviia saat ini sedang berada.
Mata mereka sempat saling bertatapan untuk sesaat.
"Aaah." Livia terpekik histeris menyadari Radit mengetahui keberadaannya saat ini.
"Livia tega banget kau ngeliatin aku dari atas sana sedari tadi. " Pekik Radit nampak emosi.
Livia tetap mencoba bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Mending kamu pulang aja, aku udah telpon orang tuaku mereka dalam perjalanan pulang. " Ancam Livia berbohong, agar Radit mau segera pergi dari rumahnya.
Bersambung...