Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 83 : Aku Mencintai Istriku


__ADS_3

Sinta sama sekali tidak merasa menyesal sudah membunuh bayi Livia dan Radit yang tidak berdoa itu.


###


Livia akhirnya sadar setelah hampir setengah hari dalam kondisi tidak sadarkan diri, efek dari obat bius.


Livia memperhatikan sekitarnya yang nampak sepi, hanya ada Radit yang berbaring di bangsal di samping tempat tidurnya.


Saat akan menggerakann tubuhnya untuk menyamping, barulah Livia merasakan ada yang berbeda.


"Kenapa tubuhku rasanya ringan sekali?. " Gumam Livia, merasa aneh seketika memegangi perutnya yang sudah rata.


"Bayiku, dimana bayiku?. " Pekik Livia langsung histeris menyadari bayinya sudah tidak ada di dalam perutnya.


Radit yang mendengar pekikan Livia seketika terbangun.


"Livia... " Panggilnya.


"Radit, mana bayi kita? Kenapa perut aku rata?. " Tanya Livia histeris, kebingungan.


Radit menggelengkan kepalanya pelan, tidak berani mengatakannya langsung pada Livia.


"Radit, kenapa kamu diam aja? Bayi kita mana? Dia selamatkan? Bayinya prematur?. " cecar Livia.


Radit kembali menggeleng.

__ADS_1


"Bayi kita udah nggak ada Livia... " Ujar Radit kemudian.


"Nggak ada? Maksud kamu bayi kita nggak selamat?. " Tanya Livia histeris.


Radit hanya bisa menganggukkan kepalanya, benar-benar tidak berani mengucapkan kalimat jika bayi mereka sudah meninggal.


Livia menangis sejadi-jadinya, hatinya seketika hancur berkeping-keping. Bayi yang selama ini di jaga dan di rawat nya dengan baik di dalam perutnya kini sudah meninggalkannya.


Bayi itu adalah satu-satunya yang menemani Livia dalam kesendiriannya selama beberapa bukan terakhir. Livia benar-benar kehilangan tujuan hidupnya saat ini.


"Lebih baik aku mati aja Dit, aku udah nggak sanggup hidup di dunia ini lagi, anak aku udah meninggal, aku juga nggak berhak hidup di dunia ini lagi...... " Histeris Livia.


"Udah dong Liv, jangan ngomong kayak gitu, aku juga nggak bisa hidup tanpa kamu. " Timpal Radit.


Livia menggeleng-gelengkan kepalanya, hatinya benar-benar sakit.


"Tapi kita nggak tau kemana perginya Sinta, dia langsung pergi waktu aku ngeliat kamu terkapar. " Ujar Radit.


"Pokoknya aku nggak mau tau, dia harus di hukum... "


Radit tidak membalas ucapan Livia, Laki-laki itu hanya bisa membantu menenangkan perasaan Livia yang sedang kalut.


"Heh, enak aja mau main hukum-hukum aja. " Sentak suara Sinta yang tiba-tiba saja muncul di pintu ruang perawatan Livia.


Radit dan Livia sontak menatap tajam ke arah Sinta yang tidak merasa bersalah sama sekali.

__ADS_1


"Bukan aku yang ngebunuh bayi kamu, kamu sendiri yang bunuh dia. " Tutur Sinta melongos masuk ke dalam ruangan lalu dengan santainya duduk di atas sofa dan menyilangkan kakinya.


Livia benar-benar ingin menjambak rambut gadis itu hingga rontok, bahkan ingin menghantam wajah Sinta dengan benda keras.


Agar Sinta juga bisa merasakan apa yang Livia rasakan saat ini, namun karena kondisinya tidak memungkinkan Livia hanya bisa menangis histeris.


"Sinta, apa-apaan kamu. " Tegur Radit.


"Ada apa sih Dit, harusnya kamu senang dong bayinya udah nggak ada jadi sekarang kita bisa sama-sama lagi kayak dulu. " Oceh Sinta, tanpa rasa malu masih menggoda Radit.


Radit nampak sangat tidak suka dengan kelakuan Sinta yang tidak masuk akal.


"Aku mencintai istriku, aku tidak akan meninggalkan dia hanya untuk bersama gadis gila sepertimu!. " Pekik Radit.


Sinta menghela nafasnya.


"Kamu nggak cinta sama Livia, kamu cintanya sama aku, kamu lupa ingatan Dit, beberapa minggu sebelum kamu di bawa kesini kita masih sempat tidur bersama dan kamu janji bakalan tinggalin Livia dan balik ke aku, tapi karna kamu lupa ingatan kamu nggak ingat sama janji-janji kita. " Oceh Sinta panjang lebar.


Radit yang mendengar itu sontak terperanjat.


"Aku memang lupa ingatan, tapi bukan berarti aku lupa semuanya, aku masih ingat kami dan aku nggak pernah janjiin apapun sama kamu... " Bantah Radit.


Sinta nampak terkekekh pelan.


"Tanyain aja sama istri kamu yang lemah itu, aku yakin dia tau semuanya tapi dia takut ngasih tau ke kamu kejadian yang sebenarnya kayak gimana. " Balas Sinta dengan santainya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2