
"Liv.. A..ku udah ng..ak kuathh lagihhh. " Di sela-sela nafasnya yang mulai terputus-putus itu Radit masih berusaha berbicara.
###
"Jangan ngomong kayak gitu Dit, kamu harus kuat, kita bakalan hidup sama-sama sampai tua, aku nggak bakalan permasalahin kesalahan kamu di masa lalu... " Ujar Livia.
Nafas Radit sudah terdengar tidak karuan, Livia tahu laki-laki itu sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan hidup, namun Livia lebih tiak sanggup lagi jika harus mendengar kalimat-kalimat perpisahan yang keluar dari mulut suaminya itu.
"Liv, maafin aku. " Satu kata terakhir yang keluar dari mulut Radit dengan lancar diiringi suara mesin yang berbunyi nyaring.
Tiiiiit...
Radit menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kalinya.
"RADITTTTT JANGAN TINGGALIN AKU PLIS. " Teriak Livia sekencang-kencangnya membuat Sinta yang datang bersama seorang dokter ikut panik.
Dokter itu segera memeriksa denyut nadi Radit dan sesaat kemudian dokter itu menatap kedua gadis yang saat ini sedang sama-sama dalam situasi panik.
"Kenapa dok? Ada apa?. " Cecar Sinta, tidak sabar.
Dokter itu menggelengkan keoalanya pertanda Radit audah benar-benar meninggalkan mereka.
Livia menangis sejadi-jadinya, sedangkan Sinta langsung terduduk lemas tubuhnya bergetar hebat.
__ADS_1
Dokter itupun berlalu untuk memanggik beberapa perawat yang akan mengurus Jenazah Radit.
"Ini nggak mungkin terjadi, aku nggak percaya kalau Radit bakalan ninggalin aku secepat ini, ini semua bohong!. " Sentak Sinta kembali berdiri dan langsung menerjanh tubuh Raidt yang sudah dalam keadaan kaku dan dingin.
Sinta meneouk-nepuk pipi Radit, berharap cara itu membuat Radit akan kembali sadar.
"Radit, bangun Dit! Jangan lemah kayak gini dong, kamu becanda kan RADIT. " Sinta seperti orang gila yang kesetanan, mengguncang-guncang tubuh Radit yang sudah tidak memberikan reaksi apapun.
Livia yang melihat itu menjadi sangat marah dan langsung mendoring timbul sinta sekuat tenaga.
"Kamu gila yah? Radit udah ngak ada, kamu nyakitin tubuhnya dengan berbuat kayak gitu tau nggak!. " Bentak Livia.
Sinta kembali terduduk di lantai dengan lemas, gadis yang sedari tadi mencoba menahan air matanya itu kini menangis sekencang mungkin.
"Aku nggak bisa hidup tanpa Radit, aku harus gimana setelah ini... " Pekik Sinta histeris.
Livia hanya bisa memalingkan wajahnya dan mental wajah Radit yang kini nampak sangat tenang, bibirnya tersenyum damai.
"Tidurlah yang tenang, sakitmu sudah sembuh. " Batin Livia.
"Dia sudah pergi menyusul anaknya, aku yakin mereka saat ini sudah bertemu di atas sana. " Gumam Livia, lirih.
Sinta menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tetap tidak bisa menerima kenyataan pahit itu.
__ADS_1
"Tapi aku juga mau bersamanya. "
Livia memandang wajah Sinta yang basah dan kuyu karena air mata.
"Aku juga. " Batin Livia.
###
Livia dan Sinta membawa jenazah Radit pulang kmebali ke Indonesia hari itu juga setelah menghubungi orang tua Radit dan orang tua Livia.
Awalnya orang tua Radit, terutama mamanya sangat histeris dan kembali mencoba menyalahkan Livia atas inseiden yang membuat Radit kehilangan nyawanya.
Namun, perlahan-lahan perempuan setengah baya itu menyadari kesalahan tidak sepenuhnya ada pada Libia6, gadis itu hanya mencoba menjauhkan dirinya dari Radit yang saat itu menggila.
Livia dan Sinta kini duduk berdua di atas pesawat yang membawa mereka pulang. Tidak ada satupun di antara keduanya yang memulai pembicaraan.
Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Mama akan kembali menjemputmu nak, tunggu mama. " Batin Livia, gadis itu memandangi langit biru padahal jendela pesawat membayangkan saat ini Radit dan putri mereka pasti sudah bertemu di atas sana.
Saat ini Livia hanya bisa membawa pulang jenazah Radit, sementara jenazah outir mereka akan di urus belakangan.
Bersambung..
__ADS_1