
Episode sebelumnya...
Livia yang mendengar itu benar-benar tidak menyangka Radit akan sepengecut ini.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
"Bodo amat sama kamu Dit, baguslah kalau ternyata Deni udah usaha buat ngabarin keluarga kamu, di banding sama kamu yang pengecut!. " Bentak Livia, gadis itu langsung mematikan teleponnya.
Rasa kantuknya langsung hilang karena terlalu jengkel dengan sikap Radit yang hanya besar di omongan saja.
"Kalau bukan karena bayi ini, aku nggak bakalan pernah sudi nikah sama kamu, aku juga nggak pengen punya bayi ini. " Lirih Livia.
Livia merasakan pergerakan di dalam perutnya seolah-olah janin yang ada di dalam kandungannya mengerti dengan perasaan Livia saat iniini.
Seketika Livia merasa bersalah karena sudah mengucapkan kata-kata yang kurang pantas barusan.
"Maafin mama yah sayang, mama tadi emosi sama papa kamu yang pengecut itu, mama janji gak bakalan ngomong kayak tadi lagi, kamu berharga banget buat mama, maafin mulut mama ini yah sayang. " Ujar Livia sambil mengelus-elus perutnya.
__ADS_1
###
Di tempat lain Deni sedang sibuk membantu menyusun berkas-berkas mamanya yang berserakan di atas meja.
Deni memang selalu di arahkan dan di ajarkan untuk membantu mengelola bisnis Travel mamanya.
Apalagi sejak Papanya meninggal, Mama Deni semakin gila kerja, hingga sangat jarang berada di rumah. Makanya Deni selalu pergi ke kantor mamanya setelah pulang sekolah untuk sekedar membantu menyusun kertas-kertas yang berserakan ataupun menunggu mamanya memerintahkan sesuatu kepadanya.
Karena Deni mendapatkan skorsing, otomatis waktunya lebih banyak di habiskan membantu pekerjaan mamanya di kantor.
"Mama gak ngerti sama kamu Den, udah di bodoh-bodohin masih mau aja bantuin keluarganya Livia itu. " Ujar Bu Tania.
"Tapi Mama kan juga selalu bilang, jangan berlebihan biar kamu gak di manfaatin sama orang-orang jahat itu. " Balas Bu Tania.
"Mama! mereka gak jahat kok, itu permintaan Deni buat ceritain kronolgis versi Deni biar mama setuju buat lamar Livia, udah dong ma, lagian Denikan udah ngaku salah dan dapat hukuman. " Ujar Deni.
Bu Tania hanya dapat menghela nafasnya. Deni sudah berjanji kepadanya bahwa bantuan itu akan menjadi bantuan terakhirnya untuk Livia.
"Semoga Livia dan bayinya selalu sehat. " Batin Deni, jauh di dalam lubuk hatinya laki-laki itu sangat merindukan Livia.
__ADS_1
Setidaknya, jika Deni tidak bisa bertanggung jawab untuk anak yang di kandung oleh gadis yang sangat di cintainya itu, Deni berharap Radit sebagai papa kandung dari bayi tersebut akan segera menikahi Livia.
Deni memang sangat tersiksa atas penolakan Livia kepada dirinya, namun laki-laki itu akan merasa lebih tersiksa lagi jika Livia tidak segera mendapatkan solusi untuk masalahnya.
Deni sadar betul, selama ini Livia hanya pura-pura kuat, kenyataannya gadis itu sebenarnya sangat rapuh.
Bayangan tentang kejadian satu tahun lalu kembali melintas di dalam pikiran Deni.
(Flash back On)
Sau bulan setelah kejadian Deni tidak sengaja melihat Livia dan Andra yang sedang berduaan di belakang perpustakaan. SMA 3 DIRGANTARA menjadi sangat heboh saat Andra menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak sama sekali.
Sejak itu Deni semakin menaruh perhatian lebih kepada Livia, meskipun tanpa gadis itu sadari.
Bahkan jika gadis itu pulang sekolah sendirian dan menunggu jemputan di Halte depan sekolah Deni akan dengan setia menemani Livia menunggu, meskipun gadis itu sama sekali tidak melirik ataupun memperhatikannya.
Kontak Whatsapp yang Livia berikanpun tidak pernah Deni hubungi karena merasa Livia sangat sulit untuk ia gapai.
Bersambung...
__ADS_1