Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 46 : Berebut Kursi


__ADS_3

"Yes, akhirnya aku bisa kabur. " Pekik Deni.


###


Deni menggunakan taxi online agar bisa sampai ke rumah Livia, mobilnya tidak bisa ia gunakan karena hal tersebut akan langsung ketahuan oleh mamanya.


Meskipun Bu Widia sedang tidak berada di rumah, namun penjaga rumah Deni pasti akan langsung melaporkannya jika mengetahui Deni keluar dari rumah menggunakan mobil pribadinya tersebut.


"Demi bisa ketemu Livia, apapun bakalan aku lakuin. " Batin Deni yang saat ini sudah berada persis di depan rumah gadis itu.


Pintu rumahnya nampak terbuka, Radit juga pasti sedang berada di rumah tersebut karena mengingat bari ini adalah hari minggu.


Deni tidak peduli, dengan percaya diri melangkah masuk ke dalam halaman rumah Livia.


Baru saja Deni akan sampai di depan pintu, Radit keluar dari rumah bersama Livia dengan pakaian yang rapih seperti sedang akan bepergian.


"Eh Deni? Ngapain kamu kesini. " Tegur Radit terkejut melihat Deni.


"Deni?. " Timpal Livia.


"Hai Livia. " Balas Deni, hanya menyapa Livia tidak menghiraukan Radit yang lebih dulu menegurnya.


"Kamu ngapain kesini? . " Tanya Livia kemudian.


"Aku mau liat keadaan kamu, Livia. " Ujar Deni.


"Nggak usah, aku baik-baik aja! Mending kamu pulang aja, aku sama Radit mau keluar. " Tutur Livia mengusir Deni.


"Kalian mau kemana? Aku ikut boleh nggak?. " Tanya Deni.


"Heh, enak aja! Apaan sih di kasih hati nih orang malahinta jantung, udah sana pulang aja. " Pekik Livia.

__ADS_1


Deni yang mendapati sikap Livia berubah 360 derajat dari beberapa jari sebelumnya pun merasa sedikit kecewa. Tadinya Deni pikir, gadis itu tidak akan memperlakukannya dengan kasar lagi.


"Udah biarin aja sayang, kalau dia mau ikut. " Timpal Radit, melihat celah untuk membuat Deni cemburu, Radit memanfaatkan moment tersebut dengan menyetujui permintaan Deni untuk ikut dengan mereka.


"Apa-apa kan sih, udah kita perginya berdua aja, ngapain ajak-ajak orang lain. " Balas Livia.


"Aku mau ikut, Radit nge bolehin kok. " Ujar Deni tidak pantang menyerah.


"Iya biarin aja sayang, kasian tau nanti kalau dia nangis gimana. " Sindir Radit.


Radit kemudian memeluk pinggang Livia.


"Terserah deh. " Ujar Livia pasrah.


"Kami mau ke rumah sakit buat check up kandungan Livia, mumpung ada kamu disini dan mau ikut sekalian aja kamu yang nyupir yah Den. " Ujar Radit mengambil kesempatan tersebut untuk memanfaatkan Deni.


"Aduh udah, mending kamu pulang deh Den!." Usir Livia lagi, gadis itu terlihat sangat badmood hari ini.


"Hahh? Terserah deh. " Ujar Livia berjalan ke arah mobil di ikuti Radit dan Deni yang berjalan di belakangnya.


Radit dan Deni kemudian berebutan membukakan pintu mobil untuk Livia.


"Livia mending kamu duduk di depan aja sama aku. " Ujar Deni.


Radit tidak mau kalah.


"Enak aja, Livia istriku jadi dia harus duduk di belakang sama aku! Tugas kamu cuman nyupirin kita yah jangan ngelunjak Den. " Pekik Radit.


"Nggak, Livia bakalan lebih nyaman kalau duduk di depan. " Ujar Deni.


"Nyaman pala lo pe'a! Di belakang justru bakalan lebih nyaman buat ibu hamil. " Balas Radit.

__ADS_1


"Udah dong, kalian ini pada kenapa sih kayak anak kecil lagi rebutan permen aja, kalau kayak gini terus mending aku pergi sendiri aja! Kalian berdua emang nggak ada yah yang bisa diandelin. " Omel Livia meraih kunci mobil dari tangan Radit lalu masuk ke mobil.


Melihativia yang sudah duduk di kursi pengemudi,Kedua laki-laki itu kembali berebut untuk duduk di kursi depan.


"Awas, minggir kami duduk di belakang aja. " Ujar Radit menarik kerah bau Deni agar laki-laki itu segera mundur.


"Eh nggak bisa gitu dong, aku udah duluan disini. " Balas Deni segera masuk ke dalam mobil dan menepis tangan Radit.


Radit masih berusaha untuk menarik Deni keluar dari dalam mobil, tetapi sepertinya tenaga Deni jauh lebih besar.


Piiiippppp


Bunyi klakson mobil menghentikan perdebatan kedua laki-laki tersebut.


"Kalian ini apa-apaan sih!. " Pekik Livia.


Deni dan Radit sontak terdiam.


"Radit duduk di belakang sana!." Perintah Livia. Radit dengan patuh mengikuti perintah tersebut.


"Rasain!. " Ejek Deni sambil tertawa mengejek.


"Kamu juga! Duduk di belakang sana!. " Perintah Livia kepada Deni.


"Aku juga?. " Tanya Deni.


"IYA, CEPETAN!. " pekik Livia.


Deni yang tadinya merasa di atas awan merasa dirinya seakan-akan langsung di hemoaskan ke bumi. Namun dengan pasrah dirinya mengikuti perintah Livia dan duduk di belakang bersama Radit.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2