
"Kita sudah sampai. " Ujar Livia sembari membuka pintu kamar 501, tempatnya akan tinggal bersama Radit, sampai laki-laki itu pulih dari sakitnya.
###
Pak Max membantu Livia membopong tubuh Radit ke atas kasur. Sebenarnya Radit masih bisa berjalan sedikit-sedikit namun dokter menyarankan untuk menghemat tenaganya dan menyarankan agar untuk saat ini Radit menggunakan kursi roda.
Semua itu agar kesembuhan Radit bisa lebih cepat.
"Makasih pa. " Ujar Livia kepada papa mertuanya
"Kamu juga lebih baik istirahat dulu, kasian bayi mu, nanti sisanya biar papa yang urus yah. " Ujar Pak Max.
Livia mengangguk.
"Iya Pa, terimakasih. " Balas Livia.
"Ucapan mamamu yang tidak enak, tidak usah terlalu di ambil hati, papa mengerti dengan apa yang kamu alami dan kamu rasakan, papa juga mau minta maaf karena kesalahan Radit, terimakasih karena kamu masih mau menerima anak papa itu. " Ujar Pak Max lagi.
Laki-laki paruh baya itu memperlakukan Livia dengan baik, seperti anaknya sendiri. Meskipun kesalahan Livia sangat fatal dan hampir merenggut nyawa anaknya.
Pak Max bijaksana dalam menanggapi kesalahan Livia.
Livia menghela nafasnya sembari tersenyum canggung, tidak tau apa yang harus dikatakannya. Tubuhnya juga sudah sangat lemah saat ini.
Pak Max kemudian keluar dari kamar Livia dan Radit.
"Ya udah pala keluar yah, kalian istirahat, nanti papa akan pesan kan makanan. " ujar Pak Max sekali lagi.
__ADS_1
Livia hanya mengangguk.
Pak Max kemudian keluar dari kamar Livia dan Radit.
Livia berbalik masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Radit sepertinya langsung tertidur saat tubuhnya di baringkan ke atas ranjang, Livia kemudian ikut membaringkan tubuhnya di samping suaminya itu.
"Ah lelah sekali. " Gumam Livia. Merasakan kenyamanan kasur Apartement yang halus dan lembut, tanpa sadar gadis itu sudah terlelap dalam mimpi indahnya.
###
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan dari luar pintu seketika membuat Livia terbangun, ia memperhatikan sekelilingnya yang ternyata hari sudah mulai gelap, nampak jelas dari jendela kaca dengan gorden transparan yang menutupi kaca tersebut.
Tok.. Tok.. Tok..
Tok.. Tok..
Suara ketukan kembali terdengar, kali ini ketukannua bertubu-tubi.
"Livia.. "
"Livia... Buka pintunya, ini mama bawain kalian makan malam. " Ujar Bu Ariana dari luar pintu.
"Ah iya ma, tunggu. " Balas Livia sembari turun dari kasur dengan perlahan karena tubuhnya juga sudah tidak bisa bergerak terlalu cepat, perutnya sudah semakin besar.
Beberapa bulan lagi, bayinya akan lahir.
__ADS_1
Livia berjalan ke arah pintu utama dimana Mana Radit saat ini sedang mengetuk pintunya dari luar.
"Kamu lama banget sih buka pintunya, Radit masih tidur?. " Cecar Bu Ariana setelah Livia membukakan pintu.
"Iya masih tidur ma. " Balas Livia, dirinya sebenarnya juga tidak memiliki tenaga untuk membalas ucapan mertuanya itu, namun selain dirinya tidak mungkin Radit yang akan membukakan pintu kamar untuk mertuanya tersebut.
"Nih mama udah pesan ini makanan buat kalian, nanti kalau Radit udah bangun langsung di kasih makan aja, mama sama papa mau ke rumah sakit dulu temuin dokternya, biar besok pagi Radit bisa langsung di periksa juga. " Jelas Bu Ariana sembari memberikan dua paper bag berisi makanan.
Livia mengangguk pertanda ia mengerti sembari menerima paper bag tersebut lalu menaruhnya di atas meja ruang tamu.
Bu Ariana kemudian meninggalkan Livia.
"Livia, papa sama mama pergi sebentar ke rumah sakit yah. " Ujar Pak Max yang ternyata sedari tadi juga sudah berdiri di depan pintu, namun Livia tidak terlalu memperhatikannya.
"Eh, iya pa, Hati-hati di jalan. " Balas Livia, kemudian menutup pintu kamar Apartementnya.
Suasana di dalam Apartement tersebut terasa sangat sepi dan asing untuk Livia, Radit belum bangun mungkin karena merasa jetlag selama di penerbangan.
Livia yang baru beberapa jam berada di dalam ruangan itu merasa rindu dengan suasana kamarnya sendiri, gadis itu merindukan rumahnya, merindukan orang tuanya.
"Ah mama? Papa? Aku belum nelpon mereka, kalau aku udah sampai disini! Ya ampun kok aku bisa lupa gini sih. " Ujar Livia panik, baru ingat jika dirinya belum memberikan kabar kepada orang tuanya.
Padahal dirinya sudah berjanji akan langsung menelpon mereka, jika sudah sampai di Apartement.
Dengan cepat, Livia mencari keberadaan ponselnya lalu menghubungi kontak telepon mamanya. Tidak lama kemudian panggilan telepon terhubung.
"Halo mama, Livia sudah sampai. " Ujar gadis itu.
__ADS_1
Bersambung...