
"PERGI." Bentak Radit.
###
"Nggak, aku nggak mau pergi, aku pengen tetap disini. " Bantah Sinta, tidak mau mengalah.
Livia yang mendengar itu mengernyitkan wajahnya dan menatap Sinta dengan tatapan tajam, seandainya Radit dalam kondisi sehat, mungkin Livia sudah menjambak rambut gadis itu.
"Kalau Sinta nggak mau pergi aku yang bakalan pergi dari Apartement ini. " Ancam Livia.
Radit sontak merasa cemas.
"Kamu harus pergi Sinta, kamu udah keterlaluan. " Timpal Radit.
"Aku bilang nggak mau yah nggak mau Radit! Baguslah kalau kamu yang pergi aku bisa leluasa ngurusin Radit disini, kamu pergi aja sejauh mungkin dan jangan pernah balik lagi. " Pekik Sinta, tidak tau malu.
"Ya udah kamu disini aja, capek aku lama-lama liat tingkahmu. " Sentak Livia, berbalik pergi meninggalkan kamarnya.
"Livia.. Tunggu.. " Pekik Radit, mencoba bangkit dari tempat tidurnya namun Sinta segera menahannya.
"Kamu tunggu aja disini Dit, biar aku yang susulin Livia. " Timpal Sinta.
"Ini semua gara-gara kamu tau nggak!. " Pekik Radit.
__ADS_1
Sinta tidak menghiraukan ucapan Radit barusan yang terpenting saat ini Sinta ingin memastikan Livia benar-benar pergi meninggalkan Apartement tersebut.
Livia yang sudah hampir sampai di pintu utama Apartement langsung di cegat oleh Sinta.
"Heh, kalau kamu mau pergi jangan setengah-setengah dong bawa juga semua barang-barangmu dari sini, pergi yang jauh dari hidup Radit! Biar aku yang gantiin posisi kamu disini. " Tutur Sinta, ekspresi wajahnya menunjukkan kemenangan.
Livia benar-benar kehabisan akal untuk membuat gadis pengganggu itu pergi dari kehidupan tenangnya bersama Radit, baru saja keduanya akan memperbaiki kehidupan rumah tangga mereka, Lagi-lagi gadis jahat bernama Sinta itu datang merusak segalanya.
Entah dosa apa yang sudah Livia lakukan di masa lalu, kenapa jalan hidupnya saat ini terasa sangat berat dengan berbagai macam masalah.
"Kamu mungkin bisa sama Radit, tapi kamu harus ingat karma itu ada dan nyata, hari ini mungkin kamu ngerasa menang tapi besok-besok nggak ada yang tau jalan hidup manusia, sadar Sinta!. " Ujar Livia, memberikan peringatan kepada gadis pengganggu itu.
Sinta terkekeh pelan.
"Karma? Aku nggak peduli, yang penting buat aku saat ini adalah bisa milikin Radit seutuhnya itu udah lebih dari cukup! Bodo amat sama karma-karma itu! Aku nggak peduli tau. " Balas Sinta, dengan nada mengejek.
"Heh, ngomong apa barusan? Coba ulangin lagi? ******? Jahat? Mau aku kasih liat yang lebih jahat dari ini?. " Tantang Sinta.
"Maksud kamu?. "
"Mau aku bunuh kamu sama bayi yang ada di dalam perut kamu ini, kamu bilang aku jahat kan?. " Sentak Sinta, menunjuk-nunjuk perut besar Livia.
Mata Sinta menatap perut Livia dengan tatapan tajam, seolah-olah ingin menusuk perut yang berisi jabang bayi itu.
__ADS_1
"Heh udah gila kamu yah?. " Pekik Livia segera menutupi perutnya dengan kedua tangannya, ada perasaan gugup di dalam hatinya saat melihat ekspresi Sinta yang berubah jadi beringas.
Sinta sepertinya tidak peduli dengan apapun saat ini, kecuali memiliki Radit seutuhnya. dengan cepat Sinta mendorong-dorong tubuh Livia sekuat tenaganya.
"Heh Sinta, berhenti nggak!. " Bentak Livia mencoba melawan.
"Hahahaha rasain, biar sekalian anak kamu itu mati! Aku nggak bakalan berhenti. " Ujar Sinta seperti orang yang kesetanan terus mendorong tubuh Livia hingga mendekati meja makan.
Aksi saling dorong tidak dapat di hindarkan, kedua gadis itu bertengkar, namun karena tubuh Livia yang lemah dan perutnya yang buncit membuatnya tidak dapat melakukan perlawanan yang berarti.
Brak
Bruk
"Ah..... " Desah Livia saat tubuhnya menghantam meja dapur, ia mencoba menghindari sudut meja yang hampir mengenai perutnya namun hantaman lain tidak bisa dirinya hindari.
Livia terjatuh ke lantai dengan posisi pinggulnya menabrak vas bunga dengan cukup keras yang berada tepat di belakangnya, lalu sesaat kemudian tubuhnya menghantam lantai yang juga keras.
Sedetik kemudian rasa sakit yang luar biasa di area pinggul hingga perut bawahnya mulai terasa.
"Ah sakit, tolong... " Pekik Livia mencoba meminta tolong kepada Sinta yang saat ini sudah berdiri di atasnya.
"Rasain kamu, hahahah... " Ujar gadis itu memperlihatkan senyum jahatnya. Sinta sama sekali tidak peduli.
__ADS_1
Livia merasakan genangan darah yang keluar dari sela-sela selangkangannya, lalu kemudian dirinya tidak sadarkan diri.
Bersambung...