
Episode sebelumnya...
Dari situlah awal Deni dan Livia saling mengenal meskipun butuh hampir dua tahun untuk Deni benar-benar berani mengajak gadis itu berkencan.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Suasana di dalam rumah Livia tampak sangat tenang. Wajar saja karena di rumah itu hanya ada beberapa orang penghuninya.
Tidak ada security di rumah tersebut karena komplek perumahan nya memang sangat jarang terjadi kejahatan bahkan selama Livia hidup belum pernah gadis itu mendengar ada rumah yang di masuki perampok ataupun ada kejadian pembunuhan di salah satu rumah yang berada dalam satu komplek dengan rumah mereka.
Di dalam komplek perumahan itu sudah ada beberapa security yang berjaga, jadi tidak perlu lagi menambah security untuk rumah mereka sendiri. Security komplek perumahan tersebut selalu siaga 24 jam. Setiap dua jam sekali mereka akan bergantian untuk beroatroli di malam hari.
"Livia oelan-pelan dong sayang makannya. " Tegur Pak Zul, melihat Livia yang makan dengan tergesa-gesa dan sangat lahap.
"Hmmmhmmm." Livia menjawab ucapan papanya dengan mulut penuh makanan yang kedengarannya gadis itu seperti hanya sedang bergumam.
"Udah pa, biarin aja, lagian kemarin-kemarinkan Livia jarang banget mau makan. " Mama Livia membela anak gadisnya.
"Iya, tapi nanti kalau ke sedak makanannya sendiri gimana?. " Ujar Pak Zul.
"Ya udah, minum dulu nak, jangan makan terlalu cepat gitu. " Ujar Bu Silvia kepada anak gadisnya.
Livia hanya mengangguk, nafsu makannya semakin hari semakin besar saja. Apalagi melihat menu makanan malam ini, sayur daun singkong yang di tumbuk lalu di masak dengan perasaan santan dan irisan bawang goreng di tambah ikan lele yang di bakar lalu di hidangkan dengan sambal mentah buatan mamanya.
Lezat sekali. Padahal, pada saat Livia belum hamil, gadis itu sangat anti terhadap sayur-sayuran dan hanya makan buah-buahan dan umbi-umbian saja.
Sesekali Livia akan makan berat untuk memberikan reward kepada tubuhnya, namun itu sangat jarang sekali terjadi.
Tidak lama kemudian Pak Zul menghentikan makannya, padahal belum cukup sepuluh menit mereka bertiga berkumpul di meja makan.
"Papa kenapa cepat banget makannya?. " Tanya Bu Silvia, sedikit heran.
"Papa udah kenyang. " Pak Zul kemudian meninggalkan meja makan dan berjalan ke ruang keluarga. Laki-laki paruh baya itu sepertinya sedang banyak pikiran.
"Huhhhh." Bu Silvia menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar lalu melirik ke arah anaknya.
Livia terlihat sedih, melihat Papanya jadi seperti itu.
"Bukan salah kamu kok sayang, papa mungkin lagi banyak pikiran dan bukannya marah sama kamu. " Bu Silvia menenangkan Livia, takut jika Livia menyalahkan dirinya sendiri apalagi baru beberapa menit yang lalu Pak Zul menegurnya karena makan terlalu cepat.
Livia hanya terdiam tidak membalas ucapan mamanya dan terus melanjutkan makannya.
Tok... Tok... Tok...
Tok... Tok.. Tok...
"Permisi... "
__ADS_1
Tidak berselang lama, suara ketukan dari pintu utama terdengar di iringi suara seorang perempuan.
Livia dan Mamanya sontak saling bertatapan.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi... " Teriak suara perempuan itu lagi.
"Siapa itu ma?. " Ujar Livia.
"Mana mama tau, Livia. " Jawab Bu Silvia.
"Panggil papa aja ma, biar aku yang bukain pintunya. " Ujar Livia, sedikit cemas jangan sampai orang yang datang itu mamanya Deni lagi.
"Yaudah kalau gitu Mama panggilin papa kamu dulu. " Balas Bu Silvia beranjak dari tempat duduknya.
Livia menganggukkan kepalanya. Gadis itu lalu melangkah ke arah pintu utama.
Sebelum membuka pintu Livia mengintip sedikit dari balik jendela.
"Bukan Mamanya Deni? Siapa orang -orang itu?. " Lirih Livia, melihat ada dua orang yang berada di depan pintu rumahnya.
Beberapa waktu kemudian, Orang tua Livia juga sudah ada di ruang tamu, Livia segera membukakan pintu, lalu dua orang yang sepertinya adalah pasangan suami istri langsung tersenyum ke arah Livia.
"Cari siapa yah?. " Tanya Livia.
"Ini benar rumahnya Pak Zulkifli?. " Tanya perempuan setengah baya itu.
"Silahkan." Livia mempersilahkan kedua orang itu masuk dan mengarahkannya untuk duduk di sofa. Livia ikut duduk di samping Mamanya.
Orang tua Livia juga tidak kalah bingungnya.
"Mohon maaf sebelumnya, ada apa yah? Kalian ini siapa?. " Ujar Pak Zul.
"Ah, harusnya kami yang meminta maaf kepada Pak Zul dan keluarga karena kami terlambat merespon email dan surat-surat yang bapak kirimkan kepada kami. " Balas Perempuan itu.
"Kami ini orang tuanya Radit Pak, Bu. " Unar Laki-laki paruh baya itu.
"Saya Ariana, Mamanya Radit dan di sebelah saya ini adalah Max, Papanya Radit. " Jelas perempuan itu.
Ternyata mereka berdua adalah orang tua Radit yang selama berminggu-minggu ini keluarga Livia tunggu kabarnya.
Akhirnya Pak Zul dan Bu Silvia bisa sedikit bernafas lega, karena orang tua dari Radit sudah datang mengunjungi mereka.
"Aah, jadi kalian orang tua Radit? Anak kurang ajar itu!. " Ujar Pak Zul sedikit sinis.
Mama Livia segera menyikut suaminya, agar tidak berbicara sembarangan setidaknya orang tua Radit sudah datang dan sepertinya mereka memiliki niat baik.
"Maafkan kesalahan anak saya Pak, Bu, saya yang lalai dalam mendidiknya, maka dari itu kami datang kesini utnuk memohon maaf yang sebesar-besaenya sekaligus kami meminta kepada bapak dan ibu, jika berkenan izinkanlah kami untuk bertanggung jawab kepada anak gadis kalian yang sudah.... " Bu Ariana menghentikan ucapannya, memikirkan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perlakuan buruk Radit kepada Livia yang membuat gadis itu hamil.
__ADS_1
"Maksud kami datang kesini, kami ingin Livia segera dinikahkan saja dengan Radit. " Ujar Pak Max melanjutkan ucapan Bu Ariana.
"Baguslah kalau begitu, Livia kamu masuk ke dalam kamar biar ini jadi pembicaraan antara orang tua saja dulu ya nak. " timpal Bu Silvia.
"Iya Ma, kalau begitu saya permisi tante, om. " Ujar Livia memperlihatkan keramahannya kepada orang tua Radit.
Livia kemudian beranjak dan masuk ke dalam kamar tidurnya. Pandangan orang tua Radit juga langsung tertuju kepada gadis itu, perutnya sudah semakin kentara, berat badan Livia juga sepertinya sudah naik beberapa kilo, nampak jelas pada bagian dada, lengan dan betis Livia.
"Apakah gadis itu yang bernama Livia?. " Tanya Bu Ariana yang di balas anggukan oleh orang tua Livia.
Kedua keluarga itupun berbincang-bincang hingga tengah malam, sampai mereka kemudian membuat kesepakatan untuk kaegera menikahkan Livia dan Radit.
Di tempat lain, Livia yang baru saja akan memejamkan matanya sedikit terkejut karena getaran ponselnya yang berada tepat di bawah bantalnya.
"Sialan, aduh siapa sih ini yang nelpon tengah malam. " Keluh Livia.
Gadis itu kemudian mengambil ponselnya dan menekan dengan sembarangan tanpa melihat siapa nama kontak yang sedang menelponnya.
"Halo, Siapa sih? Gangguin orang mau tidur aja. " Sinis Livia.
"Livia, ini aku Radit, kamu gak save kontak aku?. " Balas Radit orang yang ternyata menelpn Livia.
"Nggak!. " Jawab Livia malas.
"Orang tuaku masih ada di rumah kamu?. " Tanya Radit lagi.
"Iya."
"Sialan, ini semua gara-gara Deni tau nggak!. " Umpat Radit.
Mendengar itu Livia sedikit bingung.
"Maksud kamu apaan?. " Tanya Livia.
"Ternyata si Deni nyuruh mamanya buat nelpon papaku di luar negeri biar cepet-cepet datang kesini dan Deni ngasih tau semua keadaan kamu. " Jelas Radit.
Livia semakin tidak mengerti.
"Maksud kamu apaan sih gak jelas banget, bukannya kamu yang nyuruh orang tua kamu buat datang kesini biar kita bisa segera nikah?. " Ujar Livia.
"Bukan, ini semua gara-gara Deni, bentar lagi aku pasti juga bakalan kena semprot sama orang tuaku! Mamanya Radit ternyata teman bisnis papaku, si Deni culun itu minta mamanya buat nelpon ke papaku, kurang ajar!. " Umpat Radit
"Hah? Jadi maksudnya kamu belum ada sama sekali ngabarin orang tua kamu tentang keadaan aku? Kalau bukan karena Deni yang ngasih tau, mereka gak bakalan pernah datang kesini gitu? Gila kamu yah emang mau mati yah kamu!. " Bentak Livia merasa jengkel dengan kelakuan Radit yang pengecut.
"Bukan gitu Livia, aku cuman mau cari waktu yang tepat buat ngasih tau ke mereka pelan-pelan, biar orang tua aku juga gak kaget. " Jelas Radit.
"Pelan-pelan? Kamu mau nungguin perut aku segede apa emangnya? Emang tukang bohong yah kamu Radit! Nggak bisa di percaya. " Omel Livia.
"Bukan gitu Livia, kamu juga mesti ngerti keadaan aku dong, kamu kan tau orang tua aku udah cerai, mereka langsung datang kesini sama-sama karena ngedenger kelakuan aku yang di ceritain si Deni kupret itu, entah apalagi yang dia laporin ke orang tua aku, habis ini orang tua aku bisa berantem hebat dan aku bakalan jadi sasaran mereka" Radit terus-terusaan menyalahkan Deni.
__ADS_1
Livia yang mendengar itu benar-benar tidak menyangka Radit akan sepengecut ini.
Bersambung...