
Livia menengok ke arah sumber suara dan benar saja ada seseorang yang dengan sengaja melempari jendela kamarnya.
###
"Deni?. " Pekik Livia, sedikit terkejut melihat laki-laki itu.
Tadinya Livia menyangka orang iseng yang melempari kaca jendelanya adalah Radit.
Livia memeberikan kode dengan melambaikan tangannya.
"Ngapain kamu kesini?. " Tanya Livia.
"Keluar dong!. " Ujar Deni, memberikan kode mengajak Livia keluar menggunakan tangannya.
"Ganggu orang aja. " Pekik Livia.
"Ayo kita keluar jalan-jalan. " Ajak Deni.
Livia berpikir sejenak, lalu kemudian memutuskan untuk menemui Deni.
"Tunggu aku disitu." Ujar Livia.
Deni menangguk dan mengacungkan dua jempolnya.
###
__ADS_1
Deni mengajak Livia berjalan-jalan menggunakan mobilnya, mereka berkendara tanpa arah dan tujuan yang pasti.
"Ini kamu mau bawa aku kemana sih? Kok dari tadi kita nggak berenti-berenti?. " Tanya Livia, bingung dengan kelakuan Deni.
"Aku sih niatnya mau bawa kamu jalan-jalan aja biar nggak sumpek di rumah terus, kamu nggak lapar?. " Deni bertanya balik.
Livia mengusap perutnya.
"Lapar sih... " Ujar Livia, perutnya memang belum diisi nasi sejak tadi pagi. Livia hanya minum segelas susu dan air putih.
Sejak kemarin, Livia terlalu shock dengan kenyataan Radit berselingkuh di belakangnya sehingga membuat Livia menajdi tidak memiliki nafsu makan.
Deni kemudian menepikan mobilnya di dekat salah satu penjual makanan yang menjajakan jualannya menggunakan gerobak.
"Kita makan dulu yuk. " Ajak Deni, namun Livia segera menolak ajakan tersebut.
"Ya udah kalau kamu nggak mau ikut turun biar aku aja yah yang turun buat pesen makanannya, biar nanti kita makannya di atas mobil aja. " Ujar Deni, Laki-laki itu bahkan tidak bertanya, apa yang ingin di makan oleh Livia.
"Terserah kamu deh. " Balas Livia, malas berdebat.
Berbulan-bulan menjalin hubungan dengan Deni, baru kali ini Livia tidak banyak protes dan baru kali ini Deni tidak menanyakan pendapatnya terlebih dahulu jika ingin melakukan ataupun membelikan sesuatu untuk Livia.
Hampir setengah jam berlalu, Deni kembali dengan membawa dia kantong besar yang sepertinya berisi makanan yang baru saja di belinya.
"Itu apaan Den?. " Tanya Livia.
__ADS_1
"Makanan lah Livia. " Jawab Deni, sembari tersenyum lalu memasukkan dia kantong plastik berisi makanan itu ke bagian belakang mobilnya.
"Ngapain kamu beli makanan segitu banyaknya? Kamu ngejek aku karena lagi hamil jadi kamu pikir makanku bakalan banyak makanya kamu beli makanan segitu banyaknya?. " Sini Livia, merasa Deni sedang mengolok-oloknya.
Deni nampak menghela nafasnya.
"Itu bukan buat kita, itu buat orang lain Livia, aku tau kamu pasti nggak bakalan suka sama makanan yang di jual abang-abang tadi, aku cuman mau bantuin kamu buat ngurangin rasa stres kamu itu. " Jelas Deni.
Livia kembali terheran-heran mendengar penjelasan Deni. Livia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya laki-laki itu ingin lakukan.
"Maksudnya? . " Tanya Livia lagi.
".... "
Deni tidak menjawab pertanyaan Livia, laki-laki itu fokus menyetir mobilnya, beberapa saat kemudian mereka sampai di salah satu gang kecil yang dimana mobil Deni tidak akan muat untuk memasuki gang tersebut.
"Ayo turun. " Ujar Deni.
"Hah?. " Livia nampak masi kebingungan, namun sedetik kemudian beberapa anak-anak berhamburan keluar dari gang kecil itu.
Deni menyambut mereka dengan senyuman dan pelukan hangat seakan-akan mereka sudah pernah bertemu sebelumnya.
Meskipun Livia yang masih tidak mengerti dengan apa yang akan Deni lakukan, Livia akhirnya ikut turun dari mobil.
Para anak-anak itu sontak menatap Livia dengan ekspresi penasaran, sementara Livia memperlihatkan senyumnya yang canggung.
__ADS_1
Bersambung...