Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)

Belum Cukup Umur (Sweet Seventeen)
Bagian 58 : Sisi Lembut Livia


__ADS_3

Para anak-anak itu sontak menatap Livia dengan ekspresi penasaran, sementara Livia memperlihatkan senyumnya yang canggung.


###


"Hai adik-adik, maaf yah Kak Deni baru sempat nengokin kalian lagi soalnya kakak banyak tugas, kenalin ini istri kan Deni, namanya Livia. " Ujar Deni.


"Hai kakak Livia. " Sapa anak-anak itu.


Livia membalas sapaan mereka dengan senyuman canggung.


"Apaan sih Den, nggak jelas banget! Ngapain coba mesti ngaku-ngakuin aku sebagai istrimu!. " Lirih Livia, kesal.


Deni terkekeh pelan menanggapi ucapan Livia.


"Livia, kenalin mereka ini anak-anak dari gang sempit itu, orang tua mereka lagi pada kerja serabutan, ada yang mulung, tukang bersih-bersih, tukang sapu jalanan, jadi mereka jarang kumpul sama keluarganya. " Jelas Deni.


Livia hanya mengangguk-angguk kecil. Namun, perasaannya sedikit tersentuh saat melihat anak-anak itu nampak sangat ceria saat melihat kedatangan mereka berdua.


Deni kemudian berjalan ke belakang mobilnya dan mengambil dua kantong plastik berisi makanan tadi.


"Ayo Liv, kita bagiin ke mereka. " Ujar Deni, memberikan satu plastik berisi makanan itu kepada Livia.

__ADS_1


Livia akhirnya menyadari jika makanan yang tadi di beli Deni adalah untuk anak-anak itu.


Ada perasaan bersalah karena Livia tadi sempat berpikiran buruk kepada Deni.


Anak-anak itu kemudian berbaris, Livia dan Deni lalu membagikan makanan-makanan tersebut.


"Kenapa nggak bilang dari tadi kalau makanan ini kamu beli buat mereka? Tau gitukan aku bantu beliin cemilan juga. " Ujar Livia.


Satu persatu anak-anak itu bergiliran mengambil makanan.


"Mana aku tau! Lagian kalau aku nanya kamu dulu prosesnya bakalan lama, kamu bakalan ajakin aku debat!. " Balas Deni.


Livia tidak menghiraukan ucapan Deni, gadis itu nampak takjub saat melihat anak-anak itu menerima makanan dengan sangat ceria nampak ada kebahagiaan tersendiri yang teroancar dari raut wajah anak-anak itu.


Livia juga merasakan ada pergerakan di dalam perutnya, seakan-akan bayinya juga ikut merasakan apa yang Livia rasakan saat ini.


"Kamu harus hidup sehat dan bahagia, meskipun nanti pada akhirnya kamu hanya akan memiliki mama di sisimu, tapi mama janji akan membuatmu bahagia tanpa kekurangan sesuatu apapun. " Batin Livia mengusap perutnya dengan sayang.


Deni ikut merasakan kebahagiaan yang terpancar dari wajah Livia, meskipun gadis itu kerap berkata kasar dan tidak memperlakukannya dengan baik, namun Deni tahu betul Livia memiliki sisi yang lain di dalam dirinya.


Sisi lembut yang tidak bisa di lihat oleh kebanyakan orang, sisi yang selalu Livia coba tutupi dengan bersikap kasar dan ketus.

__ADS_1


Terbukti, Livia bisa bersikap sangat lembut dan perhatian di hadapan anak-anak kecil itu, membuktikan bahwa Livia sebenarnya adalah gadis yang penuh kasih terhadap orang lain.


###


1 jam kemudian, Deni melambaikan tangannya kepada Livia yang kini sudah masuk ke dalam pagar rumahnya. Livia juga membalas lambaian tangan laki-laki itu.


Senyuman manis Livia tidak pernah lepas dari bibir manis gadis itu.


Sepertinya, usaha Deni untuk membuat Livia menghilangkan stressnya hari ini berjalan dengan lancar.


"Hati-hati yah Den, thanks buat hari ini. " Ujar Livia.


"Aku yang Terima kasih Liv, karena kamu mau nemenin aku buat bagiin makanan ke anak-anak itu. " Balas Deni.


"Lain kali kalau mau nengokin merka lagi, ajak aku yah biar aku bisa beliin makanan buat mereka. " Ujar Livia, antusias.


"Iya, yaudah kamu masuk gih ke dalam rumah. " Balas Deni.


Livia kembali melambaikan tangannya.


"Bye Den, Hati-hati yah. " Ujar Livia sebelum benar-benar melangkah masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Perasaan Livia saat ini jauh lebih tenang di banding beberapa jam sebelumnya, apalagi Deni sudah berjanji akan selalu meluangkan waktu untuknya, bahkan hingga bayinya lahir.


Bersambung...


__ADS_2